Rss Feed
  1. Are you? Really?

    Wednesday, March 26, 2014

    Once you asked me : why did you never tell me anything in your life? I've told you everything.
    You really wanna know the answer of that question? I DID! I DID TELL YOU EVERYTHING! Actually, you're the only one that SHOULD know about my life. But you still asked me that? Oh, you know why? BECAUSE YOU NEVER LISTEN!
    May be it's wrong timing, that you were so busy and had no time to listen to my story. But why was that happened all the time? Are you really my friend? Really? Because as long as I can remember, A FRIEND would've listened to anything their friend talk about.
    It's not like I'm avoiding you now. No! It's just...I think I need time, uhm, we need time to be on our own for a while. I was expecting more from you. I was. But I'm expecting no more.

  2. A Celebrity Twin #6

    Wednesday, March 19, 2014


    Rabu (lagi), 9 Februari
    Ibu membenciku. Untuk pertama kalinya aku melihat itu di mata ibu. Jika ibu tidak membenciku, ibu tidak akan membiarkan Dion membawaku pergi. Ibu jelas membenciku. Sangat membenciku.

    Sonia menempati salah satu dari banyak sekali kamar kosong yang ada di rumah Dion. Gadis itu sempat melongo selama beberapa detik saat baru sampai di rumah Dion sore tadi. Rumahnya besar sekali. Sonia yakin Dion memang sudah kaya meskipun tidak menjadi artis. Rumahnya sangat besar tapi sepi. Hanya ada seorang wanita paruh baya, Sonia sangat yakin dia adalah pembantu di rumah ini, yang menyambut kedatangan mereka. Wanita itu langsung mengantar Sonia ke kamar barunya.
    Sepertinya Dion benar-benar serius untuk mengadopsi Sonia. Dia sudah menyiapkan kamar khusus untuk Sonia. Bukan hanya kamar kosong yang dilengkapi kasur, tapi kamar tidur yang sudah dilengkapi perabotan khas perempuan. Tirai jendela bermotif bunga, seprai bermotif polkadot warna pink, jam dinding pink, satu set meja rias dan lemari plastik yang warnanya tidak jauh dari pink dan biru muda. Semuanya sangat terkesan perempuan, sayangnya Sonia bukan tipe perempuan yang menyukai warna-warna lembut seperti itu.
    Sonia masih mengunci diri di kamar saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Gadis itu bergeming. Dia tidak berniat untuk berkomunikasi dengan siapa pun malam ini. Dia ingin cepat pagi. Baru sekali ini seumur hidup Sonia sangat ingin pergi ke sekolah. Setidaknya di sekolah ada banyak orang-orang yang dia kenal. Lingkungan yang akrab dengan dirinya. Suara ketukan itu masih terdengar.
    “Sudah waktunya makan malam.” Itu suara Dion.
    Sonia hanya diam.
    “Kau tidak lapar?” tanya Dion lagi.
    Sonia masih diam. Gadis itu menutupi kepalanya dengan bantal.
    “Kau mau aku bawakan makananmu ke kamar?”
    Sonia tidak yakin ada artis yang benar-benar peduli. Bahkan saat mendengar pertanyaan Dion barusan, Sonia masih tidak yakin. Dion hanya pura-pura baik agar Sonia tidak menceritakan sesuatu yang bisa menurunkan pamornya sebagai artis idola para remaja.
    Suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras.
    “Kau bisa sakit.”
    Sonia menghela nafas panjang sebelum menjawab, “Aku jarang makan malam.”
    Suara ketukan lagi. Dion benar-benar tidak mudah menyerah. Sonia menyingkirkan bantalnya dan bangkit dari kasur. Gadis itu berjalan malas dan membuka pintu kamarnya.
    “Kau harus makan.” kata Dion begitu pintunya terbuka.
    Sonia menutup pintu di belakangnya dan mengikuti Dion ke ruang makan. Sonia belum sempat melihat-lihat bagian lain rumah mewah ini karena langsung mengurung diri di kamar tadi sore. Rumah ini benar-benar seperti istana. Ruang makannya sangat luas. Ada meja makan super besar di tengah-tengahnya. Ruang makan ini diterangi oleh lampu kristal yang menggantung dari langit-langit yang tinggi. Ada banyak sekali makanan di atas meja makan. Dion langsung duduk di ujung meja makan, sementara Sonia duduk di ujung lainnya. Meja makan yang super besar menciptakan jarak yang luas di antara mereka.
    “Hanya kita berdua?” tanya Sonia. Gadis itu mulai tergoda dengan ayam bakar yang ada di hadapannya.
    “Papa sedang ada rapat.”
    “Ibumu?” tanya Sonia lagi.
    “Tidak ada mama.” jawab Dion santai. Pemuda itu sepertinya sudah terbiasa dengan suasana sepi seperti ini.
    Sonia merasa sangat asing di rumah sebesar ini. Belum lagi suasananya yang sangat sepi membuatnya merasa seperti baru saja diasingkan ke pedalaman tak berpenghuni. Malam-malamnya di panti selalu ramai. Kicauan adik-adiknya tidak akan berhenti sebelum jam sembilan malam. Diam-diam Sonia melirik jam dinding, baru jam tujuh malam. Adik-adiknya pasti sedang sibuk mengomentari acara televisi. Atau mungkin Talita sedang sibuk mengganggu ibu menjahit, bertanya tentang berbagai macam hal. Talita selalu seperti itu. Sonia mendesah saat mengingat kehidupannya di panti. Dan ibu. Tapi bayangan ibu yang tidak mencegah kepergiannya tadi sore membuatnya sedih. Ibu jelas membencinya.
    “Kau tidak suka makanannya?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Sonia.
    Sonia hanya menggeleng.
    “Tidak suka?” Dion mengulangi pertanyaannya.
    “Bukan. Aku hanya tidak ingin makan.”
    Setelah itu tidak ada yang bicara lagi. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring sesekali terdengar. Sonia memperhatikan Dion sekilas. Pemuda itu terlihat berbeda dari yang biasa dilihatnya di televisi. Wajahnya terlihat lebih putih dan dia jelas lebih tampan. Jika biasanya rambut Dion ditata dengan gel rambut agar berdiri tegak, sekarang rambutnya terkulai lemas. Tapi justru tatanan rambutnya yang seperti itu yang membuatnya terlihat lebih kalem.
    Sonia langsung mengalihkan pandangannya ke lemari piring saat Dion selesai makan dan mendongak. Pemuda itu mendorong piringnya menjauh kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dion memiringkan tubuhnya saat berusaha mengambil sesuatu dari saku celana pendeknya. Sebuah ponsel. Dion mendorong ponsel itu sampai meluncur di atas meja makan dan berhenti di depan Sonia.
    “Apa ini?” tanya Sonia malas.
    “Untukmu. Sudah ada nomorku dan nomor rumah ini. Kau bisa menghubungiku kapan pun.” Dion diam sebentar. “Tapi jangan sebarkan nomorku pada siapa pun. Aku bosan terlalu sering mengganti nomor.”
    Dasar tukang pamer, pikir Sonia kesal.
    “Aku punya ponsel.” kata Sonia datar sambil menunjukkan ponselnya yang masih monochrome.
    “Simpan saja. Itu hadiah dariku.”
    Sonia meraih ponsel barunya tanpa berkomentar lagi.
    “Sudah malam. Kau boleh kembali ke kamarmu.”
    Sonia hanya mendengus kesal sebelum bangkit dari kursinya. Dion lebih terkesan seperti seorang ayah tiri daripada saudara. Sonia kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apa pun. Besok dia berniat pergi sekolah pagi-pagi sekali dan tidak kembali lagi. Dia akan tidur di rumah Rina untuk sementara waktu. Itu sepertinya rencana yang cukup bagus. Sonia hanya perlu merajuk pada Rina agar mengizinkannya tinggal di rumahnya selama beberapa hari.

  3. A Celebrity Twin #5

    Saturday, March 15, 2014


    Rabu, 9 Februari
    Aku tidak bisa tidur semalam. Insomnia, seperti biasa. Kali ini insomnianya sudah mendekati gejala akut. Aku harus berterima kasih pada Dion untuk itu! Pertanyaan konyolnya benar-benar membuatku susah tidur. Dia bilang ingin mengadopsiku sebagai saudara angkatnya? Astaga! Apa sih yang sebenarnya dia pikirkan? Dia pikir semudah itu mengadopsi seseorang lalu mengembalikannya lagi saat sudah bosan? Aku tidak akan mau diadopsi! Terutama oleh Dion!

    Hidup Sonia berjalan lancar hari ini. Kurang lebih. Setidaknya sebelum tadi siang Rio tergopoh-gopoh menghampirinya untuk mengingatkan ada latihan band sepulang sekolah. Harinya mendadak suram. Dulu saat pertama kali bergabung dengan band-nya, Sonia senang sekali latihan. Sejak ada Clarisa di dalamnya, latihan band jadi terasa seperti ruangan sempit yang menyesakkan. Sebenarnya tidak masalah bagi Sonia, dia cukup adil dalam hal pembagian vokal. Dan harus Sonia akui, Clarisa memang memiliki suara yang luar biasa merdu. Tapi kebiasaan Clarisa mengomentari setiap detail hal sepele yang membuat Sonia lama-lama muak dengan kehadirannya. Terutama karena objek utama komentar Clarisa adalah dirinya. Dia selalu saja menjalankan perannya sebagai gadis populer dengan sangat baik: mengomentari penampilan semua orang. Tentu saja, Sonia yang jarang sekali memperhatikan penampilannya selalu apes.
    Sonia berjalan malas ke ruang musik. Suara dentingan keyboard dan dentuman bass drum langsung terdengar saat Sonia membuka pintu. Sudah ada Rio dan Danar di dalam. Mereka sedang main-main dengan alat musik yang ada. Clarisa belum datang. Selalu telambat.
    “Lagu apa yang akan kita mainkan?” tanya Sonia sambil meraih microphone yang dipasang pada stand mic.
    Alih-alih menjawab, Rio langsung memainkan sebuah melodi dengan keyboard-nya. Sonia selalu suka dentingan piano. Entah bagaimana, dentingan setiap nadanya membuat hati Sonia merasa lebih tenang.
    Apa jadinya hati yang terbagi...Sonia langsung mendendangkan lirik lagunya. Cinta putih. Lagu lama milik Kerispatih yang sekarang sudah jarang sekali terdengar.
    Tepat saat Sonia membuka mulutnya untuk menyanyikan bagian refrain, pintu terbuka. Sosok Clarisa muncul diikuti Dwika dan Brili. Sonia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan lagu itu. Lagi pula, Rio memang langsung berhenti begitu melihat Clarisa masuk.
    “Aku tidak suka lagu itu.” kata Clarisa sambil mengambil microphone lain.
    Yang lain hanya diam. Termasuk Sonia.
    “Kita akan tampil di acara lustrum sekolah. Kenapa tidak mainkan lagu yang lebih ceria?” kata Clarisa dengan gaya control freak-nya.
    “Lustrum?” tanya Sonia bingung. Dia sama sekali tidak diberitahu tentang itu. Dia tidak tahu band-nya masuk daftar band yang dipertimbangkan kepala sekolah untuk mengisi acara lustrum.
    “Kita bisa mainkan lagu-lagu Lady Gaga.” kata Clarisa. Tidak ada yang memedulikan Sonia.
    “Tunggu dulu, lustrum?”
    Semuanya langsung menoleh saat Sonia meninggikan suaranya.
    “Tidak ada yang memberitahuku tentang lustrum. Aku pikir kita hanya latihan reguler.”
    “Clarisa yang meminta kepala sekolah untuk mempertimbangkan band kita tampil di acara lustrum.” Rio yang menjawab.
    Sonia langsung memasangkan microphone-nya kembali pada stand mic dan meraih ranselnya yang tergeletak di dekat rak sepatu.
    “Kau mau ke mana?” tanya Danar saat Sonia memakai sepatunya.
    “Kalian bahkan tidak memberitahuku band kita ikut acara lustrum. Aku rasa posisiku sangat tidak penting di sini.”
    Tanpa menunggu respon dari siapa pun yang berniat merespon, Sonia langsung keluar dari ruang musik. Suara bedebum yang cukup keras terdengar saat Sonia membanting pintunya. Dia tidak peduli jika ada guru yang menegurnya karena hampir merusak fasilitas sekolah. Dia terlalu sakit hati.
    ***
    Sonia hanya menendangi kerikil tidak berdosa di pinggir jalan selama berjalan ke panti. Rina sudah pulang karena Sonia akan latihan band. Setidaknya begitu rencana awalnya. Sebelum Sonia tahu dia benar-benar tidak dianggap sebagai anggota band. Band-nya ikut acara lustrum! Acara seni terbesar yang diadakan sekolahnya setiap sembilan tahun sekali! Sonia benar-benar kesal setiap kali mengingat itu. Dia menendang kerikil semakin jauh. Kerikil itu menggelinding jauh sampai akhirnya berhenti di dekat ban mobil sedan yang terparkir di halaman depan panti.
    “Mirip mobil yang kemarin,” gumam Sonia heran.
    Sonia buru-buru masuk ke dalam panti. Keadaan di dalam ramai sekali. Adik-adiknya sudah pulang sekolah. Mereka sedang sibuk mengerumuni sesuatu...atau seseorang?
    “Kak Sonia pulang!” kata Talita dengan suara cemprengnya yang lucu.
    Anak-anak lain langsung mendekati Sonia dan memeluk Sonia satu per satu. Keributan itu membuat Sonia tidak menyadari keberadaan Dion yang sedari tadi duduk di sofa, memperhatikannya.
    “Kami pasti akan sangat merindukan Kak Sonia!” celetuk Niken saat memeluk kaki Sonia.
    “Ada apa sih?”
    Sonia langsung menoleh saat mendengar ada yang berdehem di sampingnya. Itu Dion. Pemuda itu sudah berdiri di sampingnya. Wajahnya membentuk cengiran lebar saat memamerkan selembar kertas pada Sonia. Sonia merebut kertas itu dan membacanya. Matanya yang belo bertambah lebar saat dia melotot melihat isi kertas itu.
    “Kau resmi jadi saudara kembarku.” kata Dion polos.
    Kekesalan Sonia meningkat sampai level yang sudah tidak bisa dideteksi dengan alat apa pun. Kepalanya terasa sangat panas karena dia kesal. Hari ini dia baru saja mendapatkan kesialan yang berlipat ganda. Sonia langsung meremas kertas itu dan membuangnya. Tepat saat gumpalan kertas itu menggelinding di bawah kaki Dion, ibu muncul sambil menyeret satu koper besar.
    Sonia hanya menatap nanar koper besar itu dan ibu secara bergantian. Gadis itu menatap ibu lama sekali. Atau selama ini hanya Sonia yang beranggapan Rahma adalah ibunya? Karena sekarang sepertinya wanita yang dia anggap ibu itu sangat ingin Sonia pergi dari panti. Bagus sekali! Setelah tidak dianggap di band-nya sendiri sekarang dia diusir dari tempat tinggalnya sendiri.
    “Kapan kita pergi?” tanya Sonia datar pada Dion, matanya masih tertuju pada ibu.
    “Sekarang?” Dion terdengar ragu dengan jawabannya.
    Tanpa basa-basi Sonia langsung mengambil alih koper besar yang diseret ibu tadi.
    “Sonia pergi, Bu.” katanya pelan. Sonia masih menatap ibu, memohon penjelasan atau setidaknya sepatah kata dari ibu yang akan menghentikan tindakan konyol Dion. Tapi ibu hanya diam.
    Ibu hanya mengangguk. Saat tangan ibu terangkat untuk membelai rambut Sonia, gadis itu melengos dan langsung berjalan keluar panti. Untuk pertama kalinya, Sonia merasa ibu tidak pernah menginginkan kehadirannya.
    ***
    Sonia menatap lurus jalanan di depannya, sementara Dion sibuk menyetir. Tidak ada yang bicara. Salah satu sifat Dion yang baru saja Sonia pelajari dari perjalanan ini yang mungkin akan dia sukai: Dion cukup peka untuk tidak mengganggu Sonia dengan banyak bicara. Dion hanya diam. Dan itu sangat membantu.
    Mobil yang mereka kendarai berjalan mulus di jalanan Bandung. Sore ini cukup ramai, terutama di kawasan Braga. Sepertinya kawasan ini tidak pernah sepi. Tubuh Sonia tersentak ke belakang saat Dion tiba-tiba mengerem mobilnya, ada pengendara motor yang muncul entah dari mana. Setelah pengendara motor itu meluncur pergi, Dion kembali menjalankan mobilnya.
    “Kenapa kau melakukannya?” tanya Sonia. Diam-diam dia penasaran juga dengan alasan Dion mengadopsinya.
    “Jika aku tidak berhenti, orang itu bisa tertabrak.” jawab Dion polos.
    Sonia memutar bola matanya, “Kenapa kau mengadopsiku. Ya ampun! Kau masih 16 tahun! Apa sih yang kau pikirkan?” Sonia tidak bisa menahan emosinya jika mengingat hal itu. Dia baru saja diadopsi!
    “Karena kau saudara kembarku. Aku sudah bilang.” Dion masih saja bersikap santai seperti tidak terjadi apa pun.
    “Aku serius!”
    “Apa masalahnya sih? Aku mengadopsimu. Kau jadi saudaraku. Beres.”
    “Keluargamu? Mereka setuju?”
    Dion diam, tapi dia mengangguk.
    “Kenapa mereka setuju begitu saja?” Tidak mungkin gangguan otak bisa menyerang satu keluarga sekaligus.
    Dion menyentuh bahu Sonia, “Kau tenang saja. Proses adopsi ini tidak akan berhasil jika papa tidak setuju. Nyatanya dia setuju, kau tidak akan dapat masalah. Kau sudah resmi jadi anaknya. Jadi adikku.” kata Dion ringan. Dia benar-benar gila!
    “Kita lahir di hari yang sama. Kenapa bukan kau saja yang jadi adikku?” tanya Sonia kesal.
    Kekesalannya hanya dibalas senyuman lebar oleh Dion. Kali ini Sonia sangat yakin sistem otak pemuda itu sudah terganggu.
    “Akhirnya kau mau jadi saudaraku.” katanya ringan.

  4. A Celebrity Twin #4

    Thursday, March 13, 2014


    Selasa, 8 Februari
    Ini hari ulang tahunku! Selamat ulang tahun yang ke-16 untukku! Entah apa yang akan terjadi dengan artis itu hari ini, yang jelas hari ini aku berencana untuk kabur sampai malam. Ya, sampai malam. Lagi pula Rina sudah janji akan mengajakku ke toko buku siang ini, sepulang sekolah. Aku bisa berdiam diri di toko buku selama berjam-jam! Semoga rencanaku lancar.

    Sonia sangat bersemangat mengisi jurnalnya hari ini. Gadis itu bahkan menggambar beberapa potong kue di sudut-sudut buku jurnalnya dan beberapa balon nitrogen di bagian yang kosong. Sonia masih tersenyum saat memasukkan jurnalnya ke dalam tas dan turun dari tempat tidur. Talita masih tidur nyenyak di kasurnya. Enak sekali jadi anak umur empat tahun seperti dia, tidak perlu bangun pagi-pagi sekali untuk sekolah. Beberapa anak lain yang sudah lebih besar wajib sekolah dan membantu ibu mengurus bisnis warung bakso sepulang sekolah. Tapi untuk anak sekecil Talita masih dibiarkan bersantai dan menikmati masa kecilnya.
    Sonia berhenti melangkah saat melewati ruang tengah. Meja kayu besar yang tadinya memenuhi ruangan sudah dipindahkan, digantikan oleh karpet beludru hijau. Dasar artis merepotkan, pikir Sonia kesal. Sonia meletakkan tas ranselnya di sudut ruangan untuk membantu ibu membentangkan karpet yang lain. Setelah semua keramiknya sudah dilapisi karpet, Sonia pamit pergi.
    Rina sudah menunggunya di luar. Kaus kaki putih Sonia terkena cipratan saat dia berlari melewati halaman yang baru disiram. Sial! umpat Sonia dalam hati. Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya untuk menghilangkan tanah basah yang menempel pada sepatunya saat sudah berdiri di samping skuter Rina.
    “Selamat ulang tahun!”
    Rina sudah menyodorkan kotak besar yang dibungkus kertas metalik warna hijau saat Sonia mendongak.
    “Terima kasih.” kata Sonia sebelum memeluk sahabatnya itu.
    ***
    Sonia menundukkan kepalanya saat melewati Clarisa dan rombongannya. Langkahnya berhenti saat matanya menangkap sepasang kaki bersepatu pink yang menghalangi jalannya. Saat mendongak, wajah Clarisa yang selalu terlihat angkuh sudah menyambutnya.
    “Aku dengar kau ulang tahun hari ini?” tanya Clarisa datar.
    Sejak kapan dia peduli?
    Clarisa mengulurkan tangannya, “Selamat.”
    Sonia hanya menatap tangan itu tanpa bergerak. Rina yang sedari tadi diam di sampingnya sudah menyenggol lengan Sonia dengan tidak sabar.
    Sonia menjabat tangan Clarisa dengan malas.
    “Oh ayolah! Kita satu band! Kau tidak mungkin sebenci itu padaku hanya karena aku menggantikan posisimu sebagai vokalis utama.”
    Sonia memaksakan sudut-sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. Clarisa baru saja mengingatkan Sonia pada alasan utama dia sangat tidak nyaman dengan keberadaan gadis itu. Clarisa tiba-tiba saja datang dengan suara merdunya. Tentu saja Rio langsung mengincarnya untuk mengisi posisi vokalis di band mereka. Hanya vokalis pendamping, itu yang dikatakan Rio waktu itu. Tapi lama kelamaan, kehadiran Clarisa mulai mendominasi. Dia jadi sosok pengatur yang selalu mengomentari semua hal. Sonia sudah berpikir untuk keluar saja dari band itu. Tapi mengingat musik adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya tenang selain buku, Sonia mengurungkan niatnya untuk mundur. Dia tidak boleh kalah dari Clarisa. Lagi pula Clarisa sebentar lagi lulus. Iya kan?
    “Tidak masalah.” jawab Sonia datar. “Aku sudah terlambat.”
    Sonia langsung berjalan cepat melewati Clarisa yang masih menatapnya bingung. Langkahnya super cepat. Sonia baru menyadari Rina yang sedari tadi berlari untuk menyamai langkahnya saat gadis itu terengah-engah di sampingnya.
    “Kau cepat sekali.” kata Rina saat mengeluarkan kunci skuternya.
    “Aku sudah tiak sabar ingin ke toko buku.” kata Sonia masih dengan nada kesal.
    “Maaf,”
    Sonia hanya menatap Rina dengan dahi berkerut.
    “Aku lupa soal itu. Mama mengajakku belanja sore ini.”
    Sonia merasa dua kali lipat lebih kesal dari sebelumnya, tapi gadis itu hanya tersenyum.
    “Tidak masalah.” Aku hanya perlu mencari cara lain untuk kabur dari panti siang ini.
    Rina langsung mengantar Sonia ke panti. Sonia mencengkeram seragam Rina untuk memintanya berhenti. Tubuh Sonia tersentak ke belakang saat Rina mengerem skuternya secara tiba-tiba karena kaget. Itu masih dua rumah jauhnya dari panti asuhan tempat Sonia tinggal.
    “Aku turun di sini.” kata Sonia sambil turun dari skuter Rina.
    Rina hanya menatap Sonia bingung, tapi mengangguk. Gadis berambut ikal itu langsung meluncur pergi setelah Sonia berterima kasih padanya.
    Ada tiga van dan satu mobil sedan yang diparkir di halaman panti. Sonia berjalan di seberang jalan agar tidak ada orang panti yang melihatnya. Gadis itu mengendap-endap lewat pagar belakang dan duduk di teras belakang. Sonia bisa mendengar suara berisik di dalam. Setelah yakin tidak ada yang akan mengganggunya di teras belakang, Sonia mengeluarkan hadiah pemberian Rina dari dalam tasnya. Rina memberinya tiga novel sastra. Sonia membuka salah satunya: Pride and Prejudice.
    Sonia menyandarkan tubuhnya pada salah satu pilar sebelum mulai membaca novel barunya. Sesekali dia menoleh ke arah pintu jika ada suara berisik. Sonia mencengkeram tasnya kuat-kuat, siap untuk lari jika ada yang keluar dari pintu belakang. Gadis itu kembali rileks saat suara berisik itu menjauh. Dia benar-benar merasa seperti maling di rumahnya sendiri. Tapi Sonia sangat tidak suka keramaian. Mengurung diri di kamar hanya akan membuat ibu menceramahinya semalaman. Lebih baik tidak ada yang tahu dia sudah pulang.
    Langit sudah bersemu jingga saat Sonia selesai membaca buku pertamanya. Gadis itu melirik jam tangan, sudah hampir jam lima sore. Gadis itu memasukkan bukunya ke dalam tas. Dia memutuskan untuk mengintip ke dalam. Sonia membuka pintu belakang sedikit, tidak ada siapa pun di dekat tempat cuci. Sonia masuk perlahan, berusaha meredam suara sekecil apa pun. Dia berjalan mengendap-endap melewati lorong tengah. Tidak ada suara sedikit pun dari kamar-kamar yang ada di sisi-sisi lorong itu. Mungkin acaranya sudah selesai sejak tadi.
    Sonia menghentikan langkahnya saat mendekati ruang utama. Ada suara orang-orang sedang berbicara di sana. Saat Sonia berbalik untuk kembali ke teras belakang, tubuhnya membeku.
    “Jadi kau saudara kembarku?”
    Sonia melirik ke belakang untuk memastikan tidak ada yang melihat adegan ini.
    “Tidak ada kamera, jika itu yang kau khawatirkan.” kata pemuda di hadapannya.
    Itu Dion. Ya, pianis terkenal itu. Yang lagu-lagunya selalu dinyanyikan Sonia. Yang permainan pianonya selalu membuat Sonia merasa tenang. Ya, dia orangnya. Sekarang Dion sedang berdiri di hadapannya. Tangan kanannya memegang gelas bening berisi sirup melon. Pasti dia ada di dapur tadi. Sonia menggerutu pelan karena tidak melihat Dion saat melewati dapur tadi.
    “Apa maksudmu?” tanya Sonia setelah berhasil melenturkan kembali otot-otot tubuhnya.
    Dion mengangkat bahunya sekilas kemudian berjalan mendekat, “Ibu Rahma bilang ada anak panti yang hari ini juga berulang tahun. Satu-satunya anak tertua di sini. Aku rasa itu kau.” kata Dion, matanya menelusuri pakaian seragam yang dipakai Sonia.
    “Lahir di hari yang sama bukan berarti kembar.”
    Dion memutar bola matanya, “Aku tahu. Kenapa kau mengendap-endap di sini?”
    Sonia mengangkat bahunya sekilas, “Aku tidak suka keramaian.”
    Dion menyesap sirup melonnya dengan santai. Dia menyandarkan sebelah bahunya pada dinding sebelum berkata, “Kau tidak suka mengobrol dengan orang-orang panti asuhan ini?” tanya Dion tidak percaya.
    “Aku tidak suka ada banyak wartawan.”
    Dion hampir tersedak minumannya sendiri karena tertawa. Sonia hanya mengangkat sebelah alisnya saat memandangi Dion yang sepertinya baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat lucu.
    “Apa kau sudah mengintip sedikit saja ke dalam sana?” tanya Dion setelah tawanya mereda. “Tidak ada wartawan.”
    “Mobil-mobil di luar?”
    Dion melepaskan bahunya dari dinding, kembali menyesap sirupnya sampai habis.
    “Mobil-mobil itu membawa banyak makanan dan pakaian.” jawab Dion datar.
    “Tukang pamer.” gerutu Sonia pelan.
    “Kau yang bertanya.” Dion meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas nakas yang ada di ujung lorong. “Ayo.” katanya.
    Sonia hanya diam saat Dion menggandeng tangannya dan menariknya ke ruang tengah. Matanya masih terpaku pada tangan Dion yang menggenggam erat pergelangan tangannya, tapi Sonia tidak bisa mengatakan apa pun. Mulutnya terkunci rapat. Saat sampai di ruang tengah, Dion melepaskan tangannya.
    “Apa aku boleh mengadopsinya?” tanya pemuda itu polos sambil menunjuk Sonia.
    Sonia hanya melotot mendengar pertanyaan Dion.

  5. A Celebrity Twin #3

    Tuesday, March 11, 2014


    Senin (lagi), 7 Februari
    Tadi sore ibu memberitahuku akan ada artis yang datang ke panti besok. Aku benci artis! Bukan berarti aku benci semua artis sih. Tapi aku benci artis yang mengaku datang ke panti untuk beramal, biasanya merayakan sesuatu, tapi datang dengan membawa satu batalion wartawan. Ibu menyuruh kami memakai pakaian terbagus kami. Aku tidak punya pakaian bagus kecuali seragam sekolah. Itu pun masih dianggap jelek oleh Clarisa. Mungkin aku akan memakai seragam sekolah seharian besok. Atau mungkin aku tidak akan pulang sekolah sampai malam dan tidak perlu bertemu dengan rombongan menyebalkan itu. Ya ampun, besok hari ulang tahunku! Kenapa ibu tega memenuhi panti dengan ratusan wartawan di saat hari ulang tahunku! Aku benci artis!

    Sonia menyelipkan jurnalnya ke bawah bantal dengan kesal. Dia kesal karena ibu mau menerima artis itu di hari ulang tahunnya. Dia kesal karena ternyata alasan artis itu datang ke panti adalah untuk merayakan ulang tahunnya. Dia kesal karena mendengar berita itu. Yang artinya dia akan merasa kesal semalaman ini, atau bahkan sampai besok. Dia tidak suka tidur dalam keadaan kesal.
    Untuk kedua kalinya, Sonia hanya membolak-balik tubuhnya di atas kasur seperti ikan gosong. Setelah cukup lama mengerjap-ngerjap tidak jelas, Sonia memutuskan untuk keluar kamar.
    ***
    Sonia merapatkan sweater-nya saat angin malam menerpanya. Gadis itu duduk di lantai teras. Sensasi dingin langsung meracuni tubuhnya saat betisnya pertama kali menyentuh keramik. Bandung memang selalu terasa dingin di malam hari. Sonia meletakkan kepalanya di antara lutut yang ditekuk. Matanya melirik ke atas, mencari bintang. Hanya ada beberapa bintang yang berani mengekspos cahayanya secara terang-terangan. Jutaan bintang yang lain lebih memilih bersembunyi di balik awan kelabu malam ini.
    Siapa yang akan datang besok? Diam-diam Sonia memikirkannya juga. Ibu tidak memberitahunya. Sebenarnya, ibu berniat memberitahunya, tapi Sonia buru-buru memotong pembicaraan ibu. Dia terlalu kesal. Adik-adiknya sangat bersemangat menyambut acara besok. Akan ada banyak makanan, kata Talita tadi sore. Tapi Sonia tidak tertarik. Dia sudah tidak tertarik. Jika adik-adiknya itu sudah menetap di panti selama belasan tahun dan dikunjungi puluhan artis, mereka juga pasti akan merasa bosan. Atau hanya Sonia yang bersikap tidak normal dan sangat membenci hingar bingar seperti itu?
    Sonia mendongak untuk menatap langit dengan lebih jelas. Sudah berapa kali dia berganti adik? Tiba-tiba saja pikiran itu muncul di benaknya. Sudah berapa banyak anak-anak yang keluar masuk panti asuhan? Sonia melihat semuanya. Mulai dari Rio, Dina, Eka, dan Putri semuanya mendapatkan orang tua adopsi yang baik. Tapi tidak ada satu pun yang melirik Sonia untuk diadopsi. Lagi pula, Sonia tidak mau jauh dari ibu. Setidaknya itu yang selalu dipikirkan Sonia setiap kali melihat satu per satu adiknya dibawa pergi oleh orang tua baru. Tapi dalam hatinya Sonia tahu persis alasan kenapa dia tidak pernah diadopsi. Masanya sudah lewat. Sonia sudah terlalu tua untuk diadopsi. Sudah susah dibentuk karakternya, itu kata salah satu orang tua yang datang berkunjung waktu itu. Sonia tidak sengaja mendengarnya, tapi dia tahu persis kata-kata itu ditujukan untuknya.
    Sonia mendesah cukup keras, lebih seperti dia menyemburkan nafasnya, berharap hembusan nafasnya itu bisa berubah menjadi api atau salju atau apa saja yang mengerikan. Tapi harapannya tidak terkabul. Dia hanya menyemburkan karbon dioksida ke udara, tidak ada yang spesial. Besok usianya akan bertambah. Sonia akan resmi menjadi semakin dewasa. Dan dia akan resmi menjadi penunggu panti selamanya.

  6. A Celebrity Twin #2

    Monday, March 10, 2014


    Senin, 7 Februari
    Hari Senin! Aku benci hari Senin! Alasan utamanya jelas, upacara! Bukannya aku tidak suka upacara, hanya saja aku benci dijemur di bawah terik matahari dan mendengarkan pengumuman panjang yang sebenarnya bisa disampaikan lewat speaker yang dipasang di masing-masing kelas. Astaga! Apa sih gunanya speaker itu jika semua informasi penting disampaikan saat upacara, saat semua murid menggelepar kepanasan. Tidak akan ada satu pun informasi yang bisa direkam otak! Percaya deh! Alasan kedua, ada pelajaran biologi. Aku tidak suka biologi. Aku benci menghafal nama ilmiah semua benda. Lagi pula aku tidak berniat jadi dokter, kenapa aku harus belajar biologi? Aku benci Senin!

    Sonia hanya makan sepotong roti bakar untuk mengisi perutnya. Dia tidak berminat makan macam-macam, terutama jika akan dijemur selama kurang lebih satu jam penuh. Sonia bisa muntah jika perutnya diisi terlalu banyak makanan berminyak. Setelah menggigit roti pertamanya, Sonia langsung pamit. Masih dengan roti yang menggantung di mulutnya, Sonia memasang ransel ke punggung. Gadis itu memasukkan semua potongan roti ke dalam mulut sebelum menyalami ibu. Dia bisa mendengar suara cekikikan di meja makan. Itu adik-adiknya. Mereka memandangi Sonia seperti badut sirkus. Sonia hanya memberikan tatapan galak.
    Ibu langsung mengusap sudut-sudut bibir Sonia yang ternyata dipenuhi remah-remah roti. Sekarang dia tahu kenapa adik-adiknya cekikian tidak jelas.
    “Kau sudah besar.” kata ibu pelan saat membersihkan remah-remah itu.
    Sonia hanya memamerkan cengirannya, kemudian menyalami ibu.
    “Aku berangkat dulu.” teriak Sonia saat berjalan keluar.
    Rina sudah menunggunya di luar, dengan skuternya. Gadis itu melambai saat melihat Sonia keluar, seolah sudah sangat lama tidak bertemu. Rina sudah menjadi sahabat Sonia sejak SMP. Dia orang yang baik. Sangat baik. Rina tidak pernah sekalipun menghakimi Sonia atas statusnya sebagai anak panti asuhan.
    “Siap!” kata Sonia mantap setelah duduk nyaman di belakang skuter Rina.
    Tidak ada yang bicara selama perjalanan mereka ke sekolah. Rina sudah hafal benar kebiasaan Sonia, menikmati terpaan angin pagi. Meskipun Rina bicara, Sonia tidak akan menanggapi. Gadis itu terlalu menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, membuat rambut panjangnya berkibar menutupi wajah. Sesekali Sonia menyelipkan rambutnya ke balik telinga, yang ternyata sia-sia karena angin selalu menerbangkannya lagi ke depan wajahnya.
    Sonia menunggui Rina memarkir skuternya. Gadis itu berdiri gelisah di samping pagar tempat parkir. Dia tidak pernah suka tempat itu. Momen canggung itu. Saat-saat di mana dia harus berdiri sendirian dan terpaksa menunduk saat beberapa orang menatapnya dengan tatapan aneh. Oke, mungkin Sonia yang terlalu berprasangka pada setiap orang. Tapi memang ada beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan menyebalkan. Clarisa salah satunya. Anak kelas tiga. Anak senior itu. Anak populer itu. Dia selalu berkomentar tentang penampilan Sonia. Apa pun. Bahkan lubang sekecil amoeba di pakaian seragam Sonia pun bisa mendapat perhatian lebih dari Clarisa.
    Kau tidak punya uang untuk membeli seragam baru ya? Nada suaranya biasa saja, tapi entah kenapa terasa sangat menyakitkan saat mendengar pertanyaan itu dari Clarisa.
    Saat melihat Rina tergopoh-gopoh mendekatinya, Sonia merasa luar biasa lega. Gadis itu langsung menautkan tangannya pada lengan Rina dan menariknya ke kelas. Rina menurut saja saat Sonia menyeretnya ke kelas.
    ***
    Sonia sedang mengibas-ngibaskan topinya di depan wajah untuk menghilangkan keringat akibat dijemur selama satu jam saat tiba-tiba Rina mencondongkan tubuhnya dan nyengir lebar sekali. Benar-benar lebar sampai Rina lebih terlihat seperti serigala kelaparan.
    “Jadi, kau mau hadiah apa untuk ulang tahunmu?” Rina memang tidak pernah basa-basi soal hadiah ulang tahun. Dia lebih memilih langsung bertanya pada yang bersangkutan daripada menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan kejutan yang sia-sia.
    Sonia menatap langit-langit kelas, berusaha melihat daftar keinginan imajiner yang tersimpan rapat di kepalanya. Sejauh ini sudah ada beberapa daftar yang diberi tanda centang. Hanya untuk beberapa daftar teratas yang belum diberi tanda apa pun, sebenarnya Sonia sedikit ragu akan pernah memberi tanda centang ada daftar teratas itu. Keluarga. Sonia sangat ingin sebuah keluarga yang utuh. Seperti teman-temannya.
    “Kau tidak harus memberiku hadiah, kau tahu?” kata Sonia akhirnya. Dia tidak mau ritual memberi hadiah ini menjadi suatu kewajiban bagi Rina. Sonia bahkan jarang sekali memberi hadiah saat Rina ulang tahun. Hanya satu kali. Saat Rina berulang tahun yang ketiga belas, Sonia memberinya hadiah boneka beruang kecil yang sebenarnya adalah gantungan kunci. Sonia hanya mampu membeli itu.
    “Aku ini ibu perimu. Aku siap memberikan hadiah apa pun yang kau inginkan.” kata Rina dengan bangga. Itu bukan julukan yang berlebihan. Rina memang sudah seperti ibu peri bagi Sonia. Dia selalu ada kapan pun Sonia membutuhkan sesuatu, atau seseorang. Rasanya Rina sudah seperti ibu peri, tujuh kurcaci, dan pangeran berkuda putih yang digabung menjadi satu.
    “Aku mau keluarga.” Sonia mengucapkannya dengan malu-malu, setengah bercanda.
    Rina melengos, “Ibu perimu tidak sehebat itu.”
    Sonia tertawa ringan, “Kau adalah hadiah terhebat yang pernah aku dapat. Kau tidak perlu memberiku hadiah apa pun lagi. Sungguh.”
    Rina mengerutkan hidungnya, nyaris meringis. “Oke, itu manis sekali. Tapi rasanya geli jika mendengarnya langsung darimu.” katanya sambil tersenyum. “Aku serius. Kau mau apa?”
    “Buku.” jawab Sonia cepat. “Beri saja aku buku.” Itu sudah cukup. Lagi pula Sonia lebih senang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk membaca buku. Semua buku di panti asuhan sudah dia baca. Dan dia sudah bosan membaca majalah kadaluwarsa.

  7. A Celebrity Twin #1

    Sunday, March 9, 2014


    Minggu, 6 Februari
    Seperti apa rasanya memiliki saudara kembar? Pertanyaan ini tiba-tiba saja berputar-putar di pikiranku. Tepatnya setelah tadi sore kami beramai-ramai menonton sebuah acara talk show di televisi yang ada Marcel dan Mischa Chandrawinata-nya. Seperti apa rasanya, dihadapkan dengan seseorang yang wajahnya sama persis denganmu? Apa itu seru? Menyenangkan? Atau malah menjengkelkan? Maksudku, bukankah itu sedikit mengerikan, ketika seseorang jauh lebih menyukai saudara kembarmu! Padahal kalian berwajah sama persis dan berpenampilan sangat mirip. Apa yang membuat orang lain lebih menyukai saudaramu dibanding dirimu?

    Sonia menutup jurnalnya dan menyelipkannya ke balik bantal. Tidak ada yang aman di sini. Satu-satunya tempat yang dia anggap aman adalah di bawah bantalnya sendiri. Meskipun saat siang, Sonia tetap harus membawa jurnalnya itu ke sekolah agar tidak diambil adik-adiknya.
    Kedua tangannya membentang, membuat tubuhnya menutupi kasur sepenuhnya. Matanya tertuju tepat ke langit-langit kamarnya yang terasa sangat dekat. Secara teknis langit-langit itu memang sangat dekat, hanya berjarak 20 senti dari puncak kepalanya saat Sonia duduk di atas kasur.
    Sonia menghela nafas panjang. Pikirannya masih berputar-putar pada topik saudara kembar. Dia sangat penasaran bagaimana rasanya memiliki saudara kembar. Gadis itu mendesah lagi, jangankan saudara kembar, orang tua kandung pun dia tidak punya. Dia tidak tahu sejak kapan terdampar di panti asuhan ini. Sekarang umurnya sudah hampir enam belas tahun. Pasti sudah sangat lama sejak orang tua kandungnya memutuskan untuk membuangnya ke panti asuhan. Dia tidak pernah tahu kapan tepatnya peristiwa pembuangan itu terjadi. Ibu sempat akan menceritakan hal itu pada Sonia, tapi gadis itu menolak. Dia tidak ingin tahu dan dia tidak peduli. Untuk apa memedulikan orang yang tidak memedulikannya? Ya ampun! Dia masih bayi! Kenapa ada orang yang tega membuangnya saat masih bayi?
    Sonia berguling ke kiri, menatap lantai di bawahnya. Dia tidur di kasur susun, di bagian atas. Di bawahnya, Talita sudah terlelap sambil tersenyum. Diam-diam Sonia tersenyum saat matanya menatap Talita yang terlihat sangat tenang. Gadis kecil itu baru berumur empat tahun. Sonia yang membantu ibu merawat Talita saat gadis cilik itu pertama kali ditemukan. Untung saja Talita mudah beradaptasi. Tubuhnya sekarang jauh lebih gemuk dari saat pertama kali dia ditemukan dua tahun yang lalu.
    Sonia berguling lagi. Dia tidak bisa tidur. Matanya terus mengerjap-ngerjap dalam keremangan kamar. Dia benci saat-saat seperti ini. Saat otaknya, entah bagaimana, terus memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dia pikirkan. Banyak hal yang berputar-putar di kepalanya: matematika, keluarga, hadiah ulang tahun, keluarga, tugas biologi, keluarga, kuis bahasa inggris, keluarga.
    Gadis itu mendesah lagi. Dia sudah tidak tahan terjaga dalam kegelapan seperti ini. Sonia berguling ke kanan. Kakinya meraba-raba tangga kayu yang ada di pinggir tempat tidur. Setelah mendapat pijakan, Sonia merayap turun dari kasurnya. Gadis itu melangkah gontai ke arah pintu, tangannya terangkat untuk mengikat rambutnya yang panjang sebelum memutar kenop pintu. Segaris cahaya terang menyusup masuk ke dalam kamar saat daun pintunya terbuka. Sonia buru-buru keluar dan kembali menutup pintu kamarnya sebelum adik-adiknya terbangun karena silau.
    Ibu ada di ruang tengah, menekuri kain panjang di atas mesin jahit. Sonia berjalan mendekat, pelan tapi sengaja menimbulkan suara agar ibu tidak kaget saat tiba-tiba Sonia berdiri di sampingnya. Ibu langsung mendongak dan tersenyum.
    “Kau belum tidur?” tanya ibu lembut. Sonia sering penasaran, apa ibu kandungnya selembut ini? Tapi rasa penasaran itu langsung dilenyapkan oleh kenyataan bahwa ibu kandungnya telah membuangnya.
    Sonia menggeleng pelan, “Tidak bisa tidur. Ibu juga belum tidur. Ini sudah larut.”
    Ibu memandang Sonia dari balik kaca matanya, kemudian tersenyum lagi. “Sedikit lagi selesai.”
    Sonia tidak bertanya lagi. Ibu sangat keras kepala, tidak akan mudah berubah pikiran jika sudah berniat sesuatu. Sonia hanya mengangguk pelan dan duduk di sofa. Sudah hampir tengah malam, tidak ada acara televisi yang menarik. Pilihannya berhenti pada channel musik. Khusus musik, tidak ada acara lain di channel ini. Sonia bersyukur ada channel semacam ini, tidak menayangkan sinetron tidak bermutu yang belakangan ini sedang sangat populer.
    Sonia menyandarkan kepalanya pada lengan sofa, matanya tertuju tepat pada layar televisi. Sesekali Sonia ikut mendendangkan lagu yang sedang diputar. Kebanyakan lagu cinta. Lagu klasik tentang dua sejoli yang jatuh cinta atau patah hati. Kecuali lagu yang selanjutnya muncul. Itu Dion, pianis yang cukup terkenal. Sonia memandangi penyanyi yang satu itu tanpa berkedip. Bagaimana bisa Dion menyanyi sementara tangannya bergerak lincah memainkan deretan nada indah dengan pianonya? Mata Sonia sudah terpejam tepat saat dentingan nada terakhir.

  8. VAZARD

    Saturday, March 8, 2014


    RASANYA UDAH NGGAK SABAR PENGEN BIKIN SEQUELNYA, HEHEHE.
    THANKS TO THEM WHO WILLING TO READ THE STORY AND THEY SAID IT'S A GOOD STORY. THANKS FOR MOTIVATING ME. IT'S FINE IF THIS STORY ISN'T PUBLISHED, I'M JUST REALLY GLAD THAT YOU LIKE THE STORY :D