-
GADIS PENGGAMBAR AWAN
Friday, March 18, 2016
Terinspirasi oleh salah salah satu tulisan M Aan MansyurAku sama sekali tidak memikirkannya sampai hari ini, saat gadis itu mengatakannya dengan begitu santai seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah diketahui seluruh umat manusia. Yah, mungkin seharusnya pun aku tahu, hanya saja otakku yang sedikit tumpul ini malas untuk memikirkan kebenaran pernyataan itu. Bentuk awan tidak pernah sama setiap detiknya.Kau pernah memikirkannya? Jika tidak, kita berada di kubu yang sama. Sekarang, aku sedang menatap gadis bertubuh mungil yang sedang sibuk menggoreskan pensil HB nya di atas sebuah sketch book ukuran A4. Hal pertama yang menarik perhatianku untuk duduk di samping gadis itu saat ini sebenarnya bukanlah kegiatan menggambarnya, tapi kupluk rajut warna pelangi yang menutupi rambut pirangnya. Ya, aku tidak salah, rambutnya benar-benar pirang seperti Barbie. Aku tahu itu bukan warna asli karena wajah gadis itu sangat Indonesia, tapi anehnya, warna itu pun tidak terlihat aneh. Seolah gadis itu sudah mempertimbangkan jutaan warna sebelum akhirnya memilih warna blonde untuk membingkai wajah mungilnya.“Kau tahu, Om, aku sudah menggambar 255 bentuk awan selama sebulan ini.”Baru kali ini aku tidak tersinggung dipanggil “om” oleh seorang gadis yang aku yakin umurnya tidak berbeda jauh denganku. Mungkin kisaran dua puluh tahun. Atau mungkin, otakku sedang terlalu sibuk memerhatikan goresan-goresan lembut di sketch book gadis itu sampai lupa memproses sinyal tersinggung yang dikirimkan telingaku?“Benarkah?” Hanya itu satu kata yang berhasil dibentuk oleh otakku sebagai respon. Menurutku, itu jauh lebih baik dibanding sekadar “hemm”.Aku mendongak untuk memastikan ketepatan gambar gadis itu. Seperti sebuah permainan untuk menemukan lima perbedaan pada gambar yang sama. Gambar gadis itu jauh berbeda.“Gumpalan itu tidak ada.” Aku menunjuk segumpalan awan di sudut kanan atas buku gambarnya.Gadis itu menghela napas kemudian mendongak untuk menatapku seolah aku ini orang paling tolol yang pernah dia temui selama hidupnya.“Bukankah sudah kubilang? Bentuk awan berubah setiap detiknya, Om.” Sebutan itu lagi, aku masih belum tersinggung. Mungkin mata bulatnya yang hitam pekat yang membuatku bungkam. “Ini bentuk awan dua jam yang lalu.” katanya sambil menunjuk-nunjuk gambar awannya. “Aku mengingat bentuk awan paling unik dan menggambarnya.”“Ah.” Aku mengutuki kemampuanku menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini. “Bagaimana aku tahu kau tidak bohong?” Ah, akhirnya. Sebuah pertanyaan cerdas. Terdengar skeptis, tapi cerdas.Gadis itu mengambil kamera hitam di sampingnya. Dari mana munculnya kamera itu? Aku tidak melihatnya sejak tadi. Gadis itu menekan beberapa tombol kemudian menunjukkan foto langit kepadaku. Bentuk awannya sama persis dengan sketsanya. Jangan berharap gambarnya hanya berupa gumpalan-gumpalan tidak jelas. Bayangkan saja foto langit berawan dalam moda warna hitam putih. Arsiran kelabu tipis sebagai gumpalan awan dan warna putih bersih sebagai langitnya. Indah.Aku mengangguk, malas berdebat dengan orang asing. Aku ingin memanfaatkan sisa waktu istirahat makan siangku untuk menikmati keindahan gambarnya, bukan berdebat dengan si penggambarnya. “Kau seniman, ya?” tanyaku spontan.Gadis itu menggeleng. Bibir mungilnya membentuk senyuman tipis. “Gambarku sebelum ini sangat jelek, Om. Seperti benang kusut. Latihan membuat gambarku jadi lebih baik.”Aku mengangguk lagi. Itu nasehat yang sangat umum. Ibu sangat sering mengatakan kalimat yang persis sama setiap kali aku hampir menyerah hampir dalam segala hal. Aku sangat mudah menyerah. Seringnya, aku menyalahkan kecerdasanku yang minim.“Kau pernah menggambar objek selain awan?” tanyaku lagi.Gadis itu membubuhkan sentuhan terakhir pada gambarnya. Dua huruf “AT” yang ditulis dengan huruf tegak bersambung. Mungkin itu inisial namanya. Sial, sekarang aku penasaran siapa nama gadis asing ini.“Tidak. Objek lain tidak pernah otentik. Tidak bisa aku jadikan acuan.”“Acuan?”Gadis itu mengangguk, kemudian tersenyum lagi. Oh, sial, sekarang aku mulai berpikir senyumannya sangat manis.“Acuan berapa lama Tuhan masih mengizinkanku melihat.” Suara gadis itu terdengar seringan bulu.Kali ini otakku bekerja cukup cepat, menghentikan detak jantungku selama sepersekian detik, yang membuat kekacauan di jalur utama aliran darahku. Hasilnya, aku merasa luar biasa gugup saat mendengarnya. Apa maksudnya itu?Gadis itu menunjuk pelipisnya dengan jari telunjuk yang lentik. Aku baru memerhatikan kuku jarinya yang dicat dengan warna berbeda di setiap jarinya. Di jari telunjuk, dia memilih warna kuning terang.“Aku punya teman alien di sini.” katanya hampir berbisik, seolah apa yang akan dikatakannya adalah sebuah rahasia yang tidak boleh didengar siapa pun selain aku. Secara refleks aku mendekat untuk mendengar rahasianya. “Sekarang alien itu masih anak-anak. Tapi para dokter bilang, alien itu sangat menyukaiku jadi mereka tidak bisa memisahkannya dariku. Seiring dengan pertumbuhanku, alien itu ikut tumbuh. Saat alien itu bertambah besar nanti, dia akan memakan penglihatanku.”Gadis itu menegakkan tubuhnya, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang berusaha terlihat dewasa. Atau, dia memang tidak setua perkiraanku?“Aku tidak keberatan. Masalahnya, aku tidak tahu kapan alien itu akan memakan penglihatanku. Jadi, aku menggambar awan. Aku sudah menggambar 256 bentuk awan. Jika nanti aku berpikir untuk mengeluh, aku akan meminta ibu memberitahuku berapa banyak gambar awan yang berhasil kubuat. Dengan begitu, aku akan ingat berapa lama Tuhan mengizinkanku melihat keindahan ciptaannya. Jadi, aku tidak boleh mengeluh kan, Om?” Gadis itu menatapku. Matanya memancarkan ketulusan seorang bocah yang ingin dikuatkan.Aku mengangguk cepat. Kali ini otakku sedang bersahabat. Aku tidak butuh waktu lama untuk menyetujui pemikiran gadis itu. Aku masih tidak mengatakan apa pun sampai terdengar bunyi beep beep cukup nyaring. Gadis itu melirik jam tangan digitalnya sekilas, kemudian merapikan barang-barangnya.“Saatnya minum obat. Aku harus kembali sebelum ibu mengomel.” katanya buru-buru. “Sampai ketemu lagi, Om.” Gadis itu masih saja memamerkan senyumnya. “Jangan lupa bersyukur, Om.” teriaknya seraya berlari menjauhiku.Sepeninggalnya, aku mendongak dan menatap langit. Bentuk awannya sudah berubah lagi. Gadis itu benar, aku lupa bersyukur hari ini. Aku masih bisa melihat bentuk awan yang berbeda hari ini.***Diposkan oleh Istiana Fadilah di Friday, March 18, 2016 | Label: happy story | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
A Celebrity Twin #9
Thursday, May 8, 2014
Jumat, 11 FebruariKonferensi pers! Itu artinya wajahku akan ada di semua media dalam waktu kurang dari satu hari. Menyebalkan!Dion sudah berdiri di samping mobil sedannya saat Sonia keluar. Tubuhnya yang jangkung bersandar pada pintu penumpang. Saat melihat Sonia keluar, Dion buru-buru melepaskan diri dan berjalan memutar, masuk ke dalam mobil. Sonia menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, Dion terlihat rapi dan lebih dewasa dari seharusnya. Pemuda itu memakai kacamata hitamnya, kemudian tersenyum pada Sonia sebelum memacu mobilnya ke jalanan.Hanya alunan piano klasik yang menemani perjalanan mereka. Sonia terlalu gugup untuk mengatakan apa pun. Keberaniannya mendadak luntur. Wajahnya akan terlihat di semua acara infotainment sebentar lagi. Dia tidak bisa menyembunyikan identitasnya lagi. Sekolah tidak akan terasa sama lagi. Sonia menggeleng, mungkin tidak ada anak di sekolahnya yang suka menonton acara gosip. Mungkin.“Kau kenapa?”Sonia langsung menoleh saat mendengar pertanyaan Dion. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. Senyumnya jelas tidak mencapai matanya karena Dion terlihat tidak percaya.“Kau gugup?” tanya Dion lagi.Kali ini Sonia tidak bisa tersenyum. Dia memutar tubuhnya agar menghadap Dion.“Apa yang akan terjadi padaku setelah konferensi pers ini?” tanya Sonia panik. Dia jarang menarik perhatian publik sebelum ini, dan dia cukup senang dengan keadaan itu. Dia benci mendapat sorotan lebih dari orang-orang asing.Dion mengerutkan dahinya, “Apa yang akan terjadi padamu?” Dion membeo.Sonia menarik nafas dengan tidak sabar, “Akan ada banyak wartawan. Apa yang akan terjadi padaku! Astaga! Aku tidak pernah menghadapi satu kamera pun seumur hidupku!” Sonia menyandarkan kepalanya dengan keras, berkali-kali.“Tidak satu pun?” tanya Dion tidak percaya. Sonia hanya menghadiahinya tatapan sinis. “Tenang saja, tidak akan ada yang memakanmu.” katanya ringan.“Bagaimana nasibku di sekolah? Semua orang akan tahu kau mengadopsiku!” kata Sonia lebih panik dari sebelumnya.“Kau tidak suka jadi kakak angkatku?” tanya Dion, suaranya terdengar sedih.“Bukan...bukan itu.” Sonia tergagap. “Kau tidak tahu teman-temanku.”Dion memelankan laju mobilnya, dia melirik Sonia dengan sudut matanya kemudian mendesah.“Kita bisa membeli es krim dan mengobrol lebih lama jika itu bisa sedikit menenangkanmu. Tapi mengulur waktu hanya akan memperlama kepanikanmu.” kata Dion tegas dan bijaksana. Detik itu Sonia merasa Dion yang lebih pantas menjadi seorang kakak. Pemuda itu sepertinya sudah sangat mahir mengeluarkan kata-kata bijak untuk menenangkan seorang adik.“Lebih baik kita cepat selesaikan ini.” kata Sonia mantap.Dion hanya tersenyum dan mempercepat laju mobilnya.***Wanita paruh baya berkacamata dan berambut pendek sudah menanti kedatangan Sonia dan Dion di depan pintu masuk hotel. Dion langsung menyalami wanita itu begitu turun dari mobil. Sonia hanya memandangi ritual sopan santun itu tanpa berniat mengikuti.“Sonia, ini tante Meri. Adik mama sekaligus manajerku.”Saat wanita itu mengulurkan tangannya, Sonia baru menjabatnya.Aku punya tante juga, pikir Sonia.“Kau lebih cantik dari yang diceritakan Dion. Pantas saja Dion ngotot sekali untuk mengadopsimu.” kata tante Meri. Sonia bisa merasakan pipinya memanas karena mendengar pujian itu. Belum pernah ada yang memujinya cantik.“Ayo, para wartawan sudah menunggu kalian.” Hanya itu kalimat terakhir yang berhasil didengar Sonia. Selanjutnya Sonia hanya bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri.Tangan Sonia mulai kebas karena keringat. Sonia terus meremas-remas tali tas slempangnya selama mengikuti Dion dan tante Meri masuk ke dalam hall room sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Gadis itu berjalan pelan-pelan di belakang Dion yang melangkah dengan mantap. Tante Meri membuka pintu hall room dan menahannya agar Dion dan Sonia masuk lebih dulu. Pandangan Sonia disilaukan oleh puluhan lampu sorot yang berasal dari kamera-kamera yang berjajar di depan meja panjang. Seolah jumlah kamera yang banyak itu masih kurang mengintimidasi, ada puluhan microphone yang ditata rapi di atas meja panjang. Tiga orang security berdiri gagah di sudut-sudut ruangan.Sonia semakin memelankan langkahnya, terlalu takut untuk menghadapi puluhan kamera di hadapannya. Tangannya yang basah terasa hangat saat Dion menggandengnya dan membimbing Sonia agar duduk di sebelahnya. Di sisi lain Dion ada tante Meri yang selalu tersenyum sejak masuk ke dalam hall room. Seorang pria berpakaian rapi yang ada di samping meja panjang memberi isyarat pada para wartawan kapan acara konferensi pers akan dimulai agar kamera bisa dinyalakan bersamaan. Saat hitungan ketiga, semua cameraman sudah siap di belakang kamera masing-masing. Tante Meri mulai membuka acara konferensi pers itu. Setelah basa-basi yang terasa sangat cepat, wartawan mulai diizinkan untuk mengajukan pertanyaan. Satu pertanyaan yang berhasil mengalahkan suara degup jantung Sonia adalah: kenapa mengadopsi seorang kakak angkat?Sonia menoleh ke arah Dion. Pemuda itu terlihat sangat tenang dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghujaninya. Senyum di wajahnya tidak lenyap sama sekali. Dengan suara lembutnya Dion menjawab dangan mantap, “Apa salahnya mengadopsi seorang kakak angkat? Saya ingin tahu rasanya memiliki seorang kakak, dan saya rasa mengadopsi seorang kakak tidak ada salahnya. Saya senang Sonia mau menjadi kakak angkat saya.” Dion menoleh untuk menatap Sonia sekilas sebelum kembali pada wartawan yang mengajukan pertanyaan tadi.Sonia hanya tersenyum sesekali. Pandangannya terlalu kabur oleh kilatan cahaya lampu kamera di hadapannya. Belum lagi banyak sekali lampu flash yang berkilatan saat puluhan fotografer mengambil gambar. Semua kemeriahan ini membuatnya pusing. Dia tidak bisa memaksa suaranya keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering. Sonia mendongak saat Dion menyenggol lengannya. Pemuda itu mengarahkan dagunya ke depan, menunjuk salah satu wartawan yang ternyata sedang mengajukan pertanyaan pada Sonia. Wartawan wanita itu menatap Sonia dengan tatapan penasaran.“Ma...” suara Sonia serak, dia berdehem untuk menjernihkan suaranya. “maaf, apa?” Sonia berusaha memasang ekspresi tenang dan angkuh yang biasa dia gunakan saat menghadapi Clarisa. Tapi saat ini, gadis itu tidak lagi yakin ekspresi wajahnya terlihat seperti apa. Mungkin gugup, takut, dan menyedihkan. Entahlah.“Bagaimana perasaan anda saat Dion mengadopsi anda sebagai kakaknya?”Sonia tersenyum sekilas, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keceriaan yang masih dimilikinya, “Saya senang. Akhirnya saya punya keluarga.” jawab Sonia singkat. Dulu dia juga punya keluarga, sebelum ibu memutuskan untuk membuangnya dan membiarkan Dion mengadopsinya.Suara-suara berikutnya kembali terdengar kabur. Kenangan wajah ibu saat hari Sonia pergi dari panti kembali membayangi pikirannya. Ibu membenciku. Ibu membenciku. Ibu membenciku. Kalimat itu tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.Pikiran itu hilang saat cahaya di hadapan Sonia meredup. Gadis itu mendongak dan mendapati para wartawan sudah membereskan barang-barang mereka. Dia menoleh, Dion sudah berdiri di sampingnya. Tubuh Dion yang tinggi membuat Sonia harus mendongak saat menatap wajahnya. Pemuda itu tersenyum.“Sudah selesai.” katanya.Sonia mengangguk canggung kemudian bangkit dari kursinya. Seperti saat masuk tadi, sekarang tante Meri juga membimbing mereka keluar dari hall room. Aroma harum menyerbu indera penciuman Sonia saat mereka berjalan melewati koridor hotel. Sonia tidak sempat memperhatikan keadaan di luar hall room saat masuk tadi karena gugup. Sekarang dia baru sadar bahwa seluruh lantai di hotel ini dilapisi karpet tebal berwarna hijau tua yang sangat indah.Mereka berpisah di tempat parkir. Tante Meri masuk ke dalam mobil Avanza hitam dan meluncur pergi, sedangkan Dion dan Sonia masuk ke dalam mobil mereka. Seperti biasa, Dion memakai kacamata hitamnya sebelum menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir.“Masih siang. Kau mau main dulu?” tanya Dion saat mobil yang mereka tumpangi sudah berbaur dengan mobil-mobil lain, berebut sepetak jalanan beraspal untuk dilewati.“Main apa?” tanya Sonia. Dia tidak tahu Jakarta. Dia belum pernah ke kota besar ini sebelumnya. Seumur hidupnya hanya dihabiskan di panti asuhan dan sekolah.“Kau pernah bermain ice skating?” tanya Dion, sesekali pemuda itu menoleh untuk menatap Sonia.Sonia hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Dion. Pemuda itu tersenyum lagi. Sonia tidak tahu Dion senang sekali tersenyum. Awalnya gadis itu pikir Dion hanya berusaha terlihat ramah saat di depan kamera, ternyata pemuda itu memang ramah.Dion membelokkan mobilnya dan masuk ke dalam sebuah mall yang sangat besar. Sonia mencondongkan tubuhnya dan mendongak untuk melihat tulisan yang ada di puncak gedung mall itu. Taman Anggrek, Sonia ingat pernah mendengar Clarisa menyebut nama itu. Mungkin tempat ini yang dimaksud Clarisa.Dion berjalan mantap memasuki mall itu, sementara Sonia berusaha untuk menciutkan dirinya dan mengekor di belakang Dion. Tidak ada orang yang mendekati mereka seperti dugaan Sonia, tapi banyak sekali orang yang menatapnya. Sesekali Sonia memberanikan diri untuk melirik orang-orang di sekitarnya. Beberapa perempuan yang berpapasan dengan mereka langsung menoleh dan menatap Sonia dengan tatapan penasaran. Tubuh Sonia menegang saat merasakan genggaman tangan Dion. Pemuda itu sedikit menarik Sonia agar berjalan sejajar dengannya.“Kau akan terlihat seperti pengasuhku jika berjalan seperti itu.” bisik Dion saat jarak mereka cukup dekat. “Tenang saja, mereka tidak menggigit.”Sonia mempererat genggamannya pada tali tas slempangnya, sementara tangan yang lain menggenggam tangan Dion. Gadis itu berusaha menegakkan bahunya dan mengangkat wajahnya. Sonia kembali melatih wajah angkuhnya dan tersenyum.“Begitu lebih baik.” bisik Dion lagi.Mereka berjalan beriringan ke tempat ice skating. Hawa dingin langsung merayapi lengan Sonia saat mereka masuk ke dalam. Dia tidak berencana mendekati area es seluas ini saat pergi tadi pagi. Sonia hanya memakai kemeja lengan pendek dan celana jeans, benar-benar salah kostum.“Ukur dulu kakimu.” kata Dion sambil menunjuk gambar telapak kaki di lantai untuk menunjukkan ukuran sepatu yang sesuai.Sonia langsung menggeleng, “Aku tunggu di sini saja.” katanya mantap sambil mengusap-usap kedua lengannya untuk menghilangkan hawa dingin yang masih menyelubunginya.Dion hanya memutar bola matanya kemudian mendorong bahu Sonia sampai kaki gadis itu berpijak pada gambar alas kaki yang sesuai. Dion langsung menghampiri tempat penyewaan sepatu tanpa menunggu komentar Sonia lagi. Pemuda itu menyodorkan sepasang sepatu skat pada Sonia. Setelah hanya memandangi sepatu itu selama beberapa menit, akhirnya Sonia setuju untuk memakainya. Dion bangkit, tubuhnya terlihat lebih tinggi setelah memakai sepatu skat. Pemuda itu melepas kemeja lengan panjang yang membalut tubuhnya, menunjukkan kaus putih lengan pendek yang ada di dalamnya.“Pakai ini.” katanya singkat sambil menyodorkan kemeja itu pada sonia. “Tidak terlalu hangat, tapi setidaknya kau tidak akan menggigil seperti itu.”Sonia menatap kemeja itu kemudian menatap Dion, “Dan kau tidak akan menggigil hanya memakai kaus lengan pendek setipis itu?”Dion tertawa ringan, “Kau tidak tahu aku ini yeti? Pakai saja.” katanya lagi.Sonia terlalu kedinginan untuk menolak tawaran Dion. Dia menerima kemeja itu dan memakainya. Bahan katunnya terasa hangat di tubuh Sonia. Gadis itu bangkit dan berusaha menyeimbangkan diri sebelum berjalan mengikuti Dion. Sepatu skat-nya terasa berat. Sonia berjalan seperti zombie mendekati pintu yang membatasi ruang tunggu dengan area es. Dion langsung meluncur ke tengah begitu mata pisau sepatunya menyentuh es, sementara Sonia hanya bersandar pada kusen pintu. Dia tidak pernah bermain ice skating sebelumnya. Sepatu roda pun tidak pernah. Bagaimana bisa dia menyeimbangkan diri di atas dua bilah pisau seperti itu?Dion berhenti meluncur saat melihat Sonia masih berdiri mematung di ambang pintu. Pemuda itu kembali meluncur untuk mendekati Sonia.“Kita sedang bermain ice skating, bukan petak umpet. Apa yang kau lakukan di situ?”“Aku tidak bisa.” jawab Sonia mantap.“Kau belum mencobanya!” kata Dion gemas. “Kau lihat dia?” Dion menunjuk seorang anak kecil yang dengan lancarnya berputar-putar di atas es dengan satu kaki. Satu kaki! “Dia bahkan lebih muda darimu.” lanjut Dion.Itu sama sekali tidak bisa meyakinkan Sonia untuk menginjakkan kakinya ke atas es. Gadis itu tetap menggeleng dan menggenggam erat kusen pintu.“Aku akan memegangimu.” kata Dion sambil mengulurkan tangannya.“Kau bermain saja sana. Aku baik-baik saja di sini.”Dion tertawa puas, “Bagaimana caranya memeluk kusen pintu seperti itu bisa dibilang baik-baik saja? Kau harus mencobanya.”Sonia menggeleng lagi.“Astaga, kau keras kepala sekali!” kata Dion frustasi. Pemuda itu langsung menarik Sonia agar melangkahkan kakinya di atas es.Sonia membungkuk untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dion masih memegangi tangan kanannya agar Sonia tidak jatuh tengkurap di atas es. Jika kondisinya normal, Sonia pasti sudah akan memukul Dion dengan apa pun yang ada pada jangkauannya, tapi saat ini Sonia masih membutuhkan bantuan Dion untuk kembali ke ruang tunggu.“Kau harus berdiri tegak agar tubuhmu seimbang.” Dion mulai terdengar seperti seorang instruktur profesional.Sonia berusaha menegakkan tubuhnya, tapi kakinya meluncur ke depan tanpa diperintah. Dion menangkapnya dan membantu Sonia berdiri tegak. Gadis itu merentangkan tangan lain yang tidak memegangi Dion agar bisa berdiri. Dion mengulurkan tangan lainnya, Sonia sempat ragu tapi akhirnya meraih tangan itu.“Kau harus meluncur, bukan melangkah, oke?” kata Dion.Pemuda itu meluncur mundur, sementara Sonia mengikuti langkahnya dan meluncur perlahan. Rasanya sangat licin, Sonia tidak yakin dia akan bisa berdiri jika Dion tidak memeganginya.“Aku akan melepaskanmu, oke?” tanya Dion lagi.“Jangan!” jawab Sonia spontan.Dion tertawa lagi, entah karena dia senang atau dia sedang menertawakan kebodohan Sonia.“Aku akan jatuh.” kata Sonia pelan, malu dengan ketidakbisaannya sementara di sekelilingnya anak-anak usia sekolah dasar sudah meluncur bebas ke sana kemari.“Kau pesimis sekali.” kata Dion ceria. “Kau tidak pernah jatuh?”Dion melepaskan genggamannya, tapi Sonia masih menggenggam erat lengan Dion. Dion memberi isyarat pada Sonia agar melepaskan tangannya. Ada bekas merah pada lengan Dion, tempat di mana Sonia menggenggamnya terlalu kuat. Sonia melepaskan tangannya, tapi masih belum berani menjauhkan telapak tangannya dari lengan Dion. Saat yakin dia bisa berdiri, Sonia mulai merentangkan tangannya. Gadis itu tersenyum lebar saat tubuhnya berhasil berdiri tegak. Dion meluncur mundur dan memberi isyarat pada Sonia agar mengikutinya. Saat Sonia meluncur, tubuhnya kembali goyah, Dion langsung menangkapnya lagi.Proses jatuh bangun itu terus terjadi sampai akhirnya Sonia berhasil meluncur sedikit. Setelah beberapa langkah, dia kembali jatuh. Sonia sudah terlalu lelah untuk mencoba. Saat Sonia hanya berdiri mematung dan tidak mau bergerak lagi, Dion mendekat.“Aku tidak ada bakat. Tidak perlu memaksa. Kita pulang saja.” katanya sambil bersedekap, seperti anak kecil yang merajuk. Dia belum pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Biasanya Sonia yang selalu mengalah pada adik-adiknya di panti. Sifat manjanya terasa sangat asing bahkan bagi dirinya sendiri.Dion hanya mengangguk dan membimbingnya kembali ke ruang tunggu. Mungkin Dion juga sudah lelah karena mengajari Sonia. Setelah mengembalikan sepatunya, Sonia melepas kemeja Dion dan menyodorkannya. Pemuda itu menerima kemeja itu dan hanya menyampirkannya ke bahu.“Kau lapar?” tanya Dion saat mereka berjalan melewati deretan restoran di dalam mall.Sonia menggeleng, “Aku ingin pulang.”Dion hanya diam. Jika pemuda itu kelaparan dan ingin protes, dia tidak menunjukkannya. Dion hanya melangkah ringan melewati orang-orang yang menatap mereka. Sonia bisa menangkap sosok-sosok yang berdiri ragu di dekat mereka. Mungkin orang-orang itu berniat menyapa Dion tapi tidak cukup berani untuk mengatakan apa pun. Sonia berusaha menyamakan langkahnya dengan Dion agar tidak tertinggal. Dia merasa jauh lebih tenang saat akhirnya masuk ke dalam mobil.Sorenya, kabar itu sudah menyebar di seluruh infotainment. Sonia melihatnya di televisi kecil yang ada di SPBU saat Dion mengisi bensin mobilnya. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dan menarik nafas panjang. Dia tidak akan merasa aman lagi di sekolah. Kehidupan normalnya sudah tamat.Diposkan oleh Istiana Fadilah di Thursday, May 08, 2014 | Label: happy story | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
A Celebrity Twin #8
Friday, April 25, 2014
Kamis (lagi), 10 FebruariGAGAL! Hah, alat pelacak! Mana ada alat semacam itu? Dion mengikutiku sejak awal! Itu penjelasan yang jauh lebih masuk akal dibanding alat pelacak fiktif yang dia ceritakan. Besok usahaku untuk kabur harus berhasil. Jika rumah Rina sudah tidak aman lagi, sepertinya aku harus mencari rumah penampungan lain.Dengan entengnya Dion menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan rumah Rina. Dia sudah memasang alat pelacak pada ponsel yang diberikannya pada Sonia. Gadis itu langsung murka begitu mendengar penjelasan Dion yang sama sekali tidak masuk akal. Alat canggih semacam itu hanya ada di luar negeri! Hanya karena Dion artis bukan berarti dia bisa memiliki alat secanggih itu. Jika memang itu alasan Dion bisa menemukannya, Sonia berencana meninggalkan ponsel barunya di rumah besok.Sepulang sekolah tadi Sonia langsung mengurung dirinya di kamar. Rasanya ruangan persegi yang cukup luas itu adalah satu-satunya tempat yang aman di rumah ini. Bukan berarti Dion merupakan sebuah ancaman bagi dirinya, hanya saja Sonia merasa asing dengan kehidupan di luar kamarnya itu.Perut Sonia mulai berdendang nyaring saat langit mulai gelap. Dia tidak makan sejak tadi siang. Usahanya untuk melarikan diri dari kehidupan barunya membuat Sonia kehilangan selera makannya. Biasanya Dion akan memanggilnya untuk makan malam, tapi malam ini tidak ada tanda-tanda kehadiran pemuda itu. Mungkin dia sudah bosan dengan sikap Sonia yang selalu memberontak. Mungkin pemuda itu masih kesal karena Sonia memarahinya habis-habisan tentang teori alat pelacak itu tadi sore. Entahlah.Sonia membuka pintu kamarnya sedikit, kepalanya menyembul untuk melihat keadaan di luar kamarnya. Sepi. Sonia mendongak untuk melihat jam dinding di kamarnya, sudah pukul 8 malam. Mungkin Dion sudah mengunci diri di kamar. Sonia melangkah perlahan, melewati ruang keluarga yang sangat sepi. Dia menghentikan langkahnya saat sampai di dapur. Ada mak Ijah di sana, sedang mencuci piring-piring kotor. Mak Ijah hanya tersenyum saat melihat Sonia masuk.“Mana Dion?” tanya Sonia saat menarik sebuah kursi. Tangannya membuka tudung saji untuk melihat makanan apa yang tersisa untuknya. Yang dimaksud dengan “sisa” adalah sepiring penuh ayam goreng dan semangkuk besar sayur. Biasanya Sonia hanya mendapati sepotong sayap ayam goreng jika terlambat makan di panti. Di sini, sepertinya tidak ada orang yang terlalu antusias melihat makanan. Atau memang porsi makanan yang dibuat selalu berlebihan?“Mas Dion sudah masuk ke kamarnya sejak tadi.” jawab mak Ijah malu-malu.Sonia hanya mengangguk pelan.Sonia menghabiskan makanannya dalam diam. Setelah selesai makan, Sonia langsung membawa piring kosongnya ke tempat cucian. Dengan sigap mak Ijah langsung mengambil piring itu dari tangan Sonia.“Biar saya saja.” kata mak Ijah sebelum Sonia sempat berkata apa pun.Sonia hanya diam, berniat langsung mengurung diri di kamar lagi. Gadis itu melewati kamar Dion saat kembali ke kamarnya. Dia tidak pernah melihat isi kamar Dion. Mungkin berantakan seperti kapal pecah, biasanya anak laki-laki kan seperti itu. Sonia biasanya bertugas membereskan kamar adik-adiknya di panti. Kamar Bagus adalah kamar yang paling berantakan di dunia. Seprainya selalu lepas dari sisi-sisi kasur, berantakan di mana-mana.Sonia berhenti melangkah saat mendengar suara dentingan piano dari dalam kamar Dion. Gadis itu menempelkan telinganya pada daun pintu, suara dentingan piano itu terdengar lebih jelas. Dion sedang memainkan salah satu lagunya yang akhir-akhir ini sedang sangat populer. Kamarnya pasti sangat luas sampai bisa menampung piano di dalam, pikir Sonia.Tubuh Sonia merosot pada daun pintu. Gadis itu menekuk kakinya dan menyangga kepalanya di antara dua lutut. Dia selalu menyukai suara dentingan piano. Mendengarnya secara langsung membuat Sonia merasa sangat senang. Ada perasaan bahagia yang membuncah di dadanya. Sonia hanya menempelkan jari telunjuknya pada bibir saat mak Ijah menatapnya bingung.Sonia menutup matanya, mendengarkan setiap dentingan piano yang dimainkan Dion dengan penuh perasaan. Suara pemuda itu yang terdengar sangat lembut menambah keindahan lagunya. Sonia tidak pernah menyangka bisa mendengar Dion menyanyikan lagunya secara langsung seperti ini.Tubuh Sonia yang kecil terjengkang ke belakang saat pintu yang dia sandari dibuka. Matanya beradu dengan mata Dion yang menatapnya curiga. Sonia buru-buru bangkit dan merapikan pakaiannya. Dion hanya mengangkat sebelah alisnya, menuntut penjelasan.“Aku...aku...hanya...” Sonia tergagap. Penjelasan apa yang bisa dia berikan saat tertangkap basah sedang menguping saudara angkatnya bermain piano? “Permainan pianomu sangat bagus.” kata Sonia akhirnya.Dion hanya melipat tangannya di depan dada, sebelah bahunya bersandar pada kusen pintu kamarnya.“Besok kau izin sekolah.” katanya santai.Sonia langsung melotot. Dion jadi seperti diktator lagi.Sonia menggeleng keras sebelum menjawab, “Aku mau sekolah.”Sebenarnya bukan itu yang sangat dia inginkan, dia ingin kabur! Setidaknya di luar rumah ini Sonia merasa lebih bebas.“Ada konferensi pers di Jakarta. Kau harus ikut denganku.”Sonia mengangkat sebelah alisnya, “Kenapa aku harus ikut denganmu? Kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri.”Sonia sudah bersiap meninggalkan Dion saat tangan pemuda itu menangkap lengannya.“Kau mau para wartawan itu menyingkir atau tidak?” tanya Dion tegas.Sonia hanya meliriknya sekilas, saat Dion tidak juga melepaskan lengannya, Sonia berbalik.“Mereka hanya ingin berita. Kita berikan apa yang mereka mau besok, setelah itu tidak akan ada wartawan yang mengganggu kita lagi.”Mendengar cara Dion menyebut kata “kita” membuat Sonia merasa seperti seorang selingkuhan yang sedang disembunyikan.“Apa yang akan kau katakan? Besok, maksudku.”Dion melepaskan genggaman tangannya dan kembali bersedekap. Matanya menatap langit-langit seperti sedang mencari contekan jawaban di sana.“Aku akan mengumumkan bahwa kau adik, maaf, kakak angkatku.” katanya ringan.“Kau pikir dengan begitu mereka tidak akan mengganggu kita lagi?” tanya Sonia untuk mengonfirmasi pikirannya sebelum menyanggupi untuk ikut konferensi pers besok.Dion mengendik, “Tidak akan benar-benar tidak mengganggu, tapi setidaknya mereka tidak akan menunggui gerbang rumah kita lagi.”Sonia merasa udara berhenti mengisi paru-parunya saat mendengar kata “rumah kita”. Dia tidak pernah mendengar kata itu seumur hidupnya. Rumah kita. Untuk pertama kalinya Sonia memiliki sesuatu untuk diklaim sebagai miliknya. Rumah kita. Kata itu berputar-putar di kepalanya. Saudara angkat. Entah kenapa beberapa hari terakhir Sonia sangat ingin kabur di saat dia sudah mendapatkan semua yang dia inginkan selama ini: rumah dan keluarga.“Baiklah. Aku ikut.” kata Sonia mantap.Dion hanya tersenyum saat mendengar jawaban Sonia.“Kau mau masuk?” tanya Dion saat Sonia akan berbalik untuk kembali ke kamarnya.Gadis itu hanya memicingkan matanya, menatap Dion dengan kecurigaan tingkat tinggi.“Kau mau menemaniku bermain piano?”Sonia menggeleng, “Aku tidak bisa main piano.”“Tapi kau bisa menyanyi. Ibu Rahma yang memberitahuku.”Sonia tertawa ringan, “Semua orang bisa menyanyi. Bahkan nenek-nenek di dekat panti sangat mahir menyanyi.”Tanpa menunggu persetujuan Sonia, Dion langsung menyeretnya masuk. Sonia mematung saat melihat kamar Dion yang super luas. Ada grand piano berwarna putih di tengah-tengah ruangan. Di sisi kirinya ada rak-rak tinggi yang berisi koleksi CD musik klasik dan jazz. Di sisi kanan ada ranjang besar dan kabinet di sampingnya. Di depannya, ada jendela besar yang ditutupi tirai warna merah marun. Kamarnya tidak seberantakan yang ada di dalam pikiran Sonia, bahkan sebaliknya, kamar Dion luar biasa rapi. Tidak ada barang-barang berserakan. Semuanya ditata pada tempatnya. Koleksi CD musiknya diletakkan pada rak-rak yang sudah diberi label tahun release.Dion memberi israyat pada Sonia untuk duduk di sampingnya, di bangku pendek pianonya. Dion merentangkan jemarinya sebelum mulai menekan tuts-tuts piano dengan lembut. Jemarinya yang panjang-panjang dan ramping menari-nari lincah di atas tuts hitam putih pianonya. Sebuah lagu yang sudah Sonia hafal liriknya di luar kepala karena sangat sering menyanyikannya.Pada bagian di mana seharusnya Dion mulai menyanyi, pemuda itu hanya diam. Dia hanya memberi isyarat pada Sonia untuk mulai bernyanyi. Sonia berusaha semampunya untuk tidak tertarik dengan dentingan piano itu dan tetap diam. Tapi permainan piano Dion membuat Sonia menyerah, gadis itu mulai membuka mulutnya dan menyanyikan lirik lagu itu. Dion tersenyum lebar saat mendengar Sonia bernyanyi. Suara gadis itu terdengar semakin lantang seiring dentingan nada piano. Untuk pertama kalinya sejak Sonia pindah ke rumah ini, rumah besar yang terasa menyiksa ini, gadis itu tersenyum dan merasakan kehangatan sebuah keluarga. Dia punya saudara kembar.Diposkan oleh Istiana Fadilah di Friday, April 25, 2014 | Label: happy story | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
A Celebrity Twin #7
Monday, April 7, 2014
Kamis, 10 FebruariEscape plan! Aku harus kabur dari rumah ini. Bukannya tidak senang hidup mewah seperti ini, tapi aku kurang nyaman tinggal di tempat sepi seperti ini. Dan Dion. aku tidak tahan dengan sikap keartisannya itu. Dia baik sih, tapi...pokoknya aku tidak suka.Pagi-pagi sekali Sonia sudah siap berangkat sekolah. Dia sudah memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam ransel sekolah. Peralatan mandi, Sonia mempertimbangkan untuk membawanya juga, tapi akhirnya gadis itu meninggalkan peralatan mandinya di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Akan sangat mencurigakan jika peralatan mandinya tidak ada di sana. Rencana pelariannya akan langsung ketahuan. Meskipun sebenarnya Sonia ragu Dion akan menggeledah sampai ke kamar mandi di kamar Sonia.Sonia berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Mak Ijah, begitu Dion memanggil wanita paruh baya yang menyiapkan semuanya di rumah ini, sedang menyirami tanaman di halaman belakang. Perut Sonia menendang-nendang saat mencium aroma nasi goreng yang menggelitik hidungnya. Dia sangat lapar. Tidak makan semalaman membuatnya sangat lapar. Tapi Sonia hanya menelan ludah dan melanjutkan misinya. Gadis itu membuka pintu depan perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sepelan apa pun.Suara brak keras terdengar saat Sonia langsung menutup pintunya lagi. Ada banyak sekali wartawan di depan rumah Dion. Apa rumah Dion selalu didatangi wartawan seperti ini? Rasanya aneh melihat ada begitu banyak wartawan yang mengincarnya mengingat Dion tidak mengajak satu pun dari mereka saat datang ke panti waktu itu.“Ada jam tambahan sekolah?”Sonia langsung menoleh saat mendengar suara itu. Dion. Pemuda itu terlihat rapi meskipun baru bangun tidur. Tangan kanan Dion menggenggam segelas susu vanilla. Saat Sonia tidak juga menjawab, Dion menyesap susunya sambil berjalan mendekati Sonia.“Atau sekolahmu memang masuk sepagi ini?” tanya Dion lagi saat gelas susunya sudah kosong.“Ada jadwal piket.” jawab Sonia asal.“Rajin sekali.” kata Dion cuek. “Kenapa masih di sini?” tanya Dion saat melihat Sonia bergeming di dekat pintu.“Ada banyak sekali wartawan di depan rumahmu.”Mata Dion melebar, herannya dia terlihat senang. “Benarkah? Cepat sekali berita menyebar.”Sonia hanya mengerutkan dahi, “Berita apa?”Dion tidak menjawab. Dia mendekati jendela dan menyibakkan tirainya sedikit untuk mengintip keadaan di luar. Ada seberkas cahaya yang menyorot matanya saat Dion mengintip.“Berita kedatanganmu. Mereka sudah tahu ada anggota keluarga baru di rumah ini.”Sonia mendengus kesal, “Jadi itu tujuan utamamu? Meraih popularitas?”Dion terkekeh, “Bahasamu infotainment sekali.”Sonia tidak melihat kelucuan dari situasi ini. Gadis itu hanya memberengut kesal. Dia dimanfaatkan. Dia sudah tahu Dion tidak ada bedanya dengan yang lain. Dion mendadak diam saat melihat Sonia tidak ikut tertawa bersamanya.“Aku tulus mengadopsimu.” Sekarang Dion bicara serius. Tapi Sonia sudah terlanjur kesal.“Lalu apa itu?” Sonia menelengkan kepalanya ke arah pintu, merujuk pada puluhan wartawan yang rela ronda di depan rumah Dion hanya demi sebuah berita.“Kau tidak di sini pun mereka akan tetap ada.” jawab Dion santai.Sonia hanya mendengus kesal, dasar tukang pamer.“Makan dulu sarapanmu. Kita berangkat sebentar lagi.” Tanpa menunggu respon dari Sonia, Dion langsung melenggang pergi. Masuk ke kamarnya.Sonia berjalan malas ke ruang makan. Dia berniat untuk mendiamkan makanannya sebagai bentuk protes, tapi aroma nasi goreng buatan mak Ijah benar-benar tidak bisa disangkal. Seperti baru saja dihipnotis, Sonia langsung meraih sendok dan garpunya dan melahap habis nasi goreng di hadapannya.“Kau sudah selesai?”Sonia langsung mendorong piringnya yang sudah kosong saat mendengar suara Dion. Pemuda itu muncul dari balik ambang pintu kamarnya. Dion sudah memakai seragam sekolahnya. Baju seragam putih yang dilapisi jas warna hitam, ada dasi biru yang menyembul dari balik kerah jasnya. Diam-diam Sonia melirik seragam sekolahnya sendiri yang sudah kumal dan biasa saja. Tipikal anak SMA, putih abu-abu.Dion menyampirkan ranselnya ke bahu. Tas itu terlihat jauh lebih ringan dibanding ransel Sonia. Gadis itu mengekor saat Dion berjalan ke garasi. Ada dua mobil yang terparkir di sana. Satu mobil sedan yang sering dipakai Dion dan satu lagi mobil van.“Berapa baju yang kau bawa?” tanya Dion saat membuka pintu mobilnya.Sonia langsung kaku. Dion tahu?Tiba-tiba Dion terkekeh, “Bercanda. Tasmu kelihatan sangat berat.”Sonia menghembuskan nafas yang sedari tadi dia tahan.“Tentu saja tasku berat. Ada banyak buku yang aku bawa.” Bohong!“Bukannya sekarang sudah ada banyak ebook?” tanya Dion saat Sonia masuk ke dalam mobil.“Di sekolahku masih manual. Maaf.” kata Sonia pelan, seolah-olah keterbelakangan teknologi di sekolahnya adalah kesalahannya.Dion terlihat berbinar-binar saat mendengar informasi itu, “Kau bisa pindah ke sekolahku.” katanya ringan. Dia pikir pindah sekolah itu urusan sepele?“Aku sudah terlambat.” Sonia hanya mengatakan itu sebagai jawaban.Dion sudah menyalakan mesin mobilnya saat menggumam, “Sekolahku masuk jam sembilan.”***Sekolah Dion selesai jam tiga sore. Itu artinya Sonia masih memiliki cukup waktu untuk kabur dari sekolah. Satu jam lagi Dion akan menjemputnya. Sonia buru-buru menarik Rina ke tempat parkir begitu mendengar bel tanda jam pelajaran berakhir. Sahabatnya itu tidak memprotes saat Sonia menyeretnya.“Kau harus mengizinkanku menginap di rumahmu.” kata Sonia panik saat Rina sedang berusaha menemukan kunci motornya di dalam tas.Untungnya Rina bukan salah satu dari para gadis pecinta gosip. Sepertinya dia sama sekali tidak menonton infotainment sejak kemarin. Rina sama sekali tidak tahu gosip tentang Dion yang mengadopsi saudara perempuan. Meskipun Sonia yakin berita itu masih belum terlalu merujuk pada dirinya karena masih belum ada yang heboh tentang berita itu. Dion berhasil menghindari gerombolan wartawan yang mengepung rumahnya tadi pagi dan untungnya sekolahnya masih lumayan sepi saat mereka sampai.“Memangnya kenapa? Kau bertengkar dengan ibu?” tanya Rina polos. Tadi pagi Sonia meminta Rina untuk tidak menjemputnya, jadi Rina masih belum tahu status Sonia yang sudah tidak tinggal di panti.“Iya, aku sedang ingin menenangkan diri.” dusta Sonia.Rina hanya mengendik, tidak bicara apa-apa lagi.Saat keluar dari gerbang sekolah, Sonia sibuk menyebarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Saat tidak mendapati mobil Dion, Sonia menghembuskan nafas yang sedari tadi dia tahan. Dion belum datang, pikirnya tenang.Rumah Rina tidak terlalu jauh dari sekolah. Hanya butuh waktu lima belas menit. Mereka membicarakan banyak hal di dalam kamar Rina sampai ponsel Sonia tiba-tiba bergetar. Ponsel barunya. Nama Dion muncul pada layar ponsel. Berkedip-kedip cepat, tidak ingin diabaikan. Sonia hanya menyelipkan ponselnya ke bawah bantal. Ponselnya tetap berdengung sampai beberapa kali.“Itu ponsel baru?” tanya Rina saat melihat ponsel yang baru saja diselipkan Sonia ke bawah bantal.Sonia hanya menggeleng. Dalam hati dia berharap Dion berhenti meneleponnya agar ponsel sialan itu berhenti berdengung seperti lebah.“Kau tidak bilang punya ponsel baru!” kata Rina antusias. Kenapa Rina harus jadi anak-yang-antusias-dengan-gadget-baru sekarang. Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang membawa gadget baru setiap hari. Kenapa dia harus jadi orang yang peduli sekarang? Jerit Sonia dalam hati.Sonia langsung menekan tombol merah saat Rina membuka bantal yang menutupi ponselnya. Tepat saat Rina merebut ponsel itu dari tangan Sonia, ponsel itu bergetar lagi. Nama Dion berkedip-kedip tidak sabaran.“Dion? Siapa Dion?” tanya Rina penasaran.Sonia mendengus kesal. Rina jadi orang yang terlalu mau tahu di saat yang tidak tepat.“Anak panti.” jawab Sonia asal.Tangan Sonia berusaha menggapai ponsel itu, tapi Rina mengangkatnya tinggi-tinggi. Rina sudah menekan tombol hijau untuk mengangkat teleponnya sebelum Sonia sempat mencegahnya.Rina langsung menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar suara di seberang sana. Sonia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Dion, tapi gadis itu cukup yakin Dion sedang berteriak-teriak marah. Rina langsung menyodorkan ponsel itu pada Sonia.“Aku sudah di depan.” Kalimat singkat itu membuat Sonia membeku untuk beberapa saat. Dia di depan sekolah kan? pikir Sonia.“Sebaiknya kau cepat keluar sebelum para wartawan itu sampai ke sini.” Kalimat Dion berikutnya membuat lidah Sonia kelu. “Itu jika kau ingin pulang tanpa ketahuan media.”“Kau di mana?” tanya Sonia untuk memastikan keberadaan Dion.“Di depan rumah temanmu.” jawab Dion santai.“Bagaimana...”“Akan aku jelaskan nanti. Keluar sekarang.” Seperti robot yang sudah diprogram, Sonia langsung menuruti perintah Dion. Setelah menutup teleponnya Sonia langsung membereskan barang-barangnya.“Apa yang dia katakan padamu tadi?” tanya Sonia pada Rina sebelum keluar kamar.“Dia bilang itu telepon penting. Kau harus mendengarnya langsung.” jawab Rina pelan, merasa bersalah.Dasar tukang paksa, pikir Sonia kesal.“Kau tidak perlu mengantarku keluar.” kata Sonia saat Rina akan mengikutinya.Sonia melirik ke belakang saat berlari-lari kecil menghampiri mobil Dion untuk memastikan Rina tidak mengikutinya. Untung saja kaca mobilnya gelap, jadi Dion tidak akan terlihat dari luar. Sonia langsung masuk ke bagian penumpang, kemudian bersedekap untuk menunjukkan kekesalannya. Dion hanya diam sambil membenarkan letak kacamata hitamnya. Tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan segera menjalankan mobilnya dan pergi dari sini.“Apa lagi?” tanya Sonia tidak sabar.“Aku bukan sopir. Kita tidak akan pergi ke mana-mana sebelum kau pindah.” kata Dion angkuh. Sonia mendengus kesal, dia baru saja menemukan orang yang sama keras kepalanya.Sonia keluar dari mobil dan pindah ke samping Dion.“Terima kasih.” kata Dion pelan sambil tersenyum. Pemuda itu langsung menyalakan mesin mobilnya dan meluncur pergi.Sonia bisa menangkap sosok Rina yang berdiri mematung di jendela kamarnya.Diposkan oleh Istiana Fadilah di Monday, April 07, 2014 | Label: happy story | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
A Celebrity Twin #6
Wednesday, March 19, 2014
Rabu (lagi), 9 FebruariIbu membenciku. Untuk pertama kalinya aku melihat itu di mata ibu. Jika ibu tidak membenciku, ibu tidak akan membiarkan Dion membawaku pergi. Ibu jelas membenciku. Sangat membenciku.Sonia menempati salah satu dari banyak sekali kamar kosong yang ada di rumah Dion. Gadis itu sempat melongo selama beberapa detik saat baru sampai di rumah Dion sore tadi. Rumahnya besar sekali. Sonia yakin Dion memang sudah kaya meskipun tidak menjadi artis. Rumahnya sangat besar tapi sepi. Hanya ada seorang wanita paruh baya, Sonia sangat yakin dia adalah pembantu di rumah ini, yang menyambut kedatangan mereka. Wanita itu langsung mengantar Sonia ke kamar barunya.Sepertinya Dion benar-benar serius untuk mengadopsi Sonia. Dia sudah menyiapkan kamar khusus untuk Sonia. Bukan hanya kamar kosong yang dilengkapi kasur, tapi kamar tidur yang sudah dilengkapi perabotan khas perempuan. Tirai jendela bermotif bunga, seprai bermotif polkadot warna pink, jam dinding pink, satu set meja rias dan lemari plastik yang warnanya tidak jauh dari pink dan biru muda. Semuanya sangat terkesan perempuan, sayangnya Sonia bukan tipe perempuan yang menyukai warna-warna lembut seperti itu.Sonia masih mengunci diri di kamar saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Gadis itu bergeming. Dia tidak berniat untuk berkomunikasi dengan siapa pun malam ini. Dia ingin cepat pagi. Baru sekali ini seumur hidup Sonia sangat ingin pergi ke sekolah. Setidaknya di sekolah ada banyak orang-orang yang dia kenal. Lingkungan yang akrab dengan dirinya. Suara ketukan itu masih terdengar.“Sudah waktunya makan malam.” Itu suara Dion.Sonia hanya diam.“Kau tidak lapar?” tanya Dion lagi.Sonia masih diam. Gadis itu menutupi kepalanya dengan bantal.“Kau mau aku bawakan makananmu ke kamar?”Sonia tidak yakin ada artis yang benar-benar peduli. Bahkan saat mendengar pertanyaan Dion barusan, Sonia masih tidak yakin. Dion hanya pura-pura baik agar Sonia tidak menceritakan sesuatu yang bisa menurunkan pamornya sebagai artis idola para remaja.Suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih keras.“Kau bisa sakit.”Sonia menghela nafas panjang sebelum menjawab, “Aku jarang makan malam.”Suara ketukan lagi. Dion benar-benar tidak mudah menyerah. Sonia menyingkirkan bantalnya dan bangkit dari kasur. Gadis itu berjalan malas dan membuka pintu kamarnya.“Kau harus makan.” kata Dion begitu pintunya terbuka.Sonia menutup pintu di belakangnya dan mengikuti Dion ke ruang makan. Sonia belum sempat melihat-lihat bagian lain rumah mewah ini karena langsung mengurung diri di kamar tadi sore. Rumah ini benar-benar seperti istana. Ruang makannya sangat luas. Ada meja makan super besar di tengah-tengahnya. Ruang makan ini diterangi oleh lampu kristal yang menggantung dari langit-langit yang tinggi. Ada banyak sekali makanan di atas meja makan. Dion langsung duduk di ujung meja makan, sementara Sonia duduk di ujung lainnya. Meja makan yang super besar menciptakan jarak yang luas di antara mereka.“Hanya kita berdua?” tanya Sonia. Gadis itu mulai tergoda dengan ayam bakar yang ada di hadapannya.“Papa sedang ada rapat.”“Ibumu?” tanya Sonia lagi.“Tidak ada mama.” jawab Dion santai. Pemuda itu sepertinya sudah terbiasa dengan suasana sepi seperti ini.Sonia merasa sangat asing di rumah sebesar ini. Belum lagi suasananya yang sangat sepi membuatnya merasa seperti baru saja diasingkan ke pedalaman tak berpenghuni. Malam-malamnya di panti selalu ramai. Kicauan adik-adiknya tidak akan berhenti sebelum jam sembilan malam. Diam-diam Sonia melirik jam dinding, baru jam tujuh malam. Adik-adiknya pasti sedang sibuk mengomentari acara televisi. Atau mungkin Talita sedang sibuk mengganggu ibu menjahit, bertanya tentang berbagai macam hal. Talita selalu seperti itu. Sonia mendesah saat mengingat kehidupannya di panti. Dan ibu. Tapi bayangan ibu yang tidak mencegah kepergiannya tadi sore membuatnya sedih. Ibu jelas membencinya.“Kau tidak suka makanannya?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Sonia.Sonia hanya menggeleng.“Tidak suka?” Dion mengulangi pertanyaannya.“Bukan. Aku hanya tidak ingin makan.”Setelah itu tidak ada yang bicara lagi. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring sesekali terdengar. Sonia memperhatikan Dion sekilas. Pemuda itu terlihat berbeda dari yang biasa dilihatnya di televisi. Wajahnya terlihat lebih putih dan dia jelas lebih tampan. Jika biasanya rambut Dion ditata dengan gel rambut agar berdiri tegak, sekarang rambutnya terkulai lemas. Tapi justru tatanan rambutnya yang seperti itu yang membuatnya terlihat lebih kalem.Sonia langsung mengalihkan pandangannya ke lemari piring saat Dion selesai makan dan mendongak. Pemuda itu mendorong piringnya menjauh kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dion memiringkan tubuhnya saat berusaha mengambil sesuatu dari saku celana pendeknya. Sebuah ponsel. Dion mendorong ponsel itu sampai meluncur di atas meja makan dan berhenti di depan Sonia.“Apa ini?” tanya Sonia malas.“Untukmu. Sudah ada nomorku dan nomor rumah ini. Kau bisa menghubungiku kapan pun.” Dion diam sebentar. “Tapi jangan sebarkan nomorku pada siapa pun. Aku bosan terlalu sering mengganti nomor.”Dasar tukang pamer, pikir Sonia kesal.“Aku punya ponsel.” kata Sonia datar sambil menunjukkan ponselnya yang masih monochrome.“Simpan saja. Itu hadiah dariku.”Sonia meraih ponsel barunya tanpa berkomentar lagi.“Sudah malam. Kau boleh kembali ke kamarmu.”Sonia hanya mendengus kesal sebelum bangkit dari kursinya. Dion lebih terkesan seperti seorang ayah tiri daripada saudara. Sonia kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apa pun. Besok dia berniat pergi sekolah pagi-pagi sekali dan tidak kembali lagi. Dia akan tidur di rumah Rina untuk sementara waktu. Itu sepertinya rencana yang cukup bagus. Sonia hanya perlu merajuk pada Rina agar mengizinkannya tinggal di rumahnya selama beberapa hari.Diposkan oleh Istiana Fadilah di Wednesday, March 19, 2014 | Label: happy story | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
