Rss Feed
  1. FAC

    Saturday, December 1, 2012

    hhmm....juara 2...not bad huh? jadiii ceritanya mau pamer cerpen yang kemaren dapet gelar itu nih...hehehehe...enjoy! ^.^


    Sub tema: Sumber inspirasi
    KAMERA, MAMAK
    Aku masih menatapnya dengan jelas. Dari tempatku berdiri sekarang. Lantai lima gedung pameran di salah satu negeri adidaya, Amerika. Aku masih di sini. Menatap payung berwarna-warni bergerak melindungi pembawanya dari tetesan-tetesan air hujan sore ini.
    Begitu cepat waktu berlalu. Secepat aku mengedipkan mataku. Gedung-gedung tinggi di depanku membuatku sedikit ragu. Apa aku bermimpi?
    ***
    Aku masih memperhatikan gerakannya yang terlihat sangat lincah. Mengabadikan berbagai momen yang dia rasa penting. Dan hasilnya pun luar biasa indah. Aku bisa melihat gambar teman-temanku yang sedang tertawa sampai menangis.
    Bang, aku juga mau punya gambar-gambar seperti itu. Aku merengek pada Bang Dhika yang saat itu sedang sibuk melihat hasil jepretannya. Dia adalah anak orang kaya di kampungku. Setahuku dia satu-satunya pemuda di kampungku yang belajar di universitas.
    Bang Dhika meletakkan kameranya yang berwarna hitam mengkilat itu kemudian mengusap rambutku dengan lembut. Alih-alih mengajariku menggunakan kameranya yang sepertinya sangat mahal, dia malah menggandengku ke gudang rumahnya. Dia mengambil beberapa kaleng dan barang-barang lain yang aku tidak tahu apa gunanya.
    Kalau kamu mau, kamu harus belajar dengan sesuatu yang lebih sederhana dulu.
    Sepanjang siang aku menghabiskan waktuku berjongkok di samping Bang Dhika yang sedang sibuk membuat sesuatu. Aku tidak tahu apa itu. Tapi aku menurut saja dan manggut-manggut sekenanya saat Bang Dhika menyebutkan langkah-langkah untuk membuat sesuatu itu.
    ***
    Hujan sore ini masih terus berlanjut. Beberapa orang di luar sana memutuskan untuk menyerah melawan hujan dan berteduh di bawah atap kedai kopi atau toko buku yang berjajar di pinggir jalan. Rambut-rambut pirang mereka membuatku merasa asing.
    Aku langsung menoleh saat merasa ada yang menepuk pundakku.
    These photos are great! You are really talented, Doni.
    Thank you.” Aku hanya menjawab seadanya. Bahasa Inggrisku tidak terlalu lancar, tapi paling tidak aku masih bisa memahami percakapan semacam itu.
    Mr.Josh adalah salah satu penyumbang dana dalam acara pameran ini. Aku bersyukur bisa mengenalnya. Dan aku bersyukur karena begitu banyak orang yang mau membantuku.
    ***
    Kamera lubang jarum. Kata Bang Dhika, itu nama sesuatu yang dari tadi dia buat. Dia menunjukkan padaku bagaimana cara menggunakannya. Bagaimana cara mengabadikan momen-momen yang penting dan berarti. Bagaimana membuat sebuah gambar menjadi terasa hidup dan bernyawa. Dia mengajariku semua itu. Meskipun aku tidak benar-benar tahu apa artinya. Tapi aku senang karena Bang Dhika memberiku sebuah kamera sederhana itu.
    Sana, cari objek fotomu, kata Bang Dhika saat menyerahkan kamera itu padaku.
    Aku langsung berlari ke rumah. Rumah gubuk tempat aku tinggal bersama Mamak. Aku langsung mengambil gambar objek pertamaku. Mamak sedang mencuci pakaian lusuh yang hanya beberapa potong sambil bersenandung. Aku senang saat Mamak bersenandung, jadi aku ingin mengabadikannya dengan kameraku. Aku memotretnya sampai beberapa kali sampai akhirnya Mamak menyadari keberadaanku.
    Doni sedang apa kamu di situ? Lebih baik bantu Mamak mencuci sini.
    ***
    Aku melirik jam tangan Rolex yang melingkar di tangan kiriku. Sudah pukul empat lewat. Aku memandang seisi ruangan. Sudah ada banyak orang berdatangan untuk melihat foto-foto yang digantung sempurna pada dinding. Lengkap dengan cahaya lampu mercuri yang menambah kesan elegan pada masing-masing foto.
    Aku kembali menatap hujan di luar sana. Tetesan-tetesan airnya bertambah besar. Membuat beberapa payung bergerak-gerak semakin cepat melewati jalanan di bawah sana. Aku melewati jalanan itu tadi pagi. Jalanan yang dulu terasa sangat asing bagiku. Jangankan membayangkan bisa melewatinya, mencari tahu namanya pun aku tidak berani.
    ***
    Bang Dhika, aku juga mau punya gambar Mamak di kamarku.
    Aku baru menyadari Bang Dhika harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapiku yang selalu merengek dalam segala hal. Bukannya memarahiku karena mengganggu belajarnya, dia malah tersenyum dan menggandengku ke sebuah kamar sempit dengan penerangan lampu warna merah.
    Mana kameramu. Kamu sudah memotret Mamakmu dengan kamera itu kan?
    Beberapa hari yang lalu aku memang bercerita pada Bang Dhika tentang objek pertamaku. Mamak yang sedang mencuci sambil bersenandung.
    Bang Dhika mengeluarkan sesuatu dari dalam kameraku. Kamera sederhana yang terbuat dari kaleng susu bekas. Aku sudah menandai kamera itu dengan namaku, jadi tidak boleh ada orang lain yang memakainya. Selain Bang Dhika tentu saja, karena dia yang memberikannya padaku.
    Aku tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan Bang Dhika karena mejanya terlalu tinggi. Aku yang masih berumur tujuh tahun hanya bisa mencapai meja setinggi satu meter. Sedangkan meja yang dipakai Bang Dhika sepertinya sangat-sangat-sangat tinggi. Aku hanya bisa melihat Bang Dhika menjepitkan kertas-kertas bergambar Mamak pada sebuah tali panjang di atas kepalanya.
    Itu gambar Mamak! Aku berteriak-teriak penuh semangat. Akhirnya aku bisa melihat gambar Mamak saat sedang bersenandung.
    ***
    Aku merogoh saku jas yang aku pakai. Meraih selembar kertas yang tersimpan di dalamnya. Aku menariknya keluar dan menatap gambarnya lekat-lekat. Aku masih menyimpan foto pertamaku. Gambarnya sudah sedikit pudar karena waktu. Tapi sosok Mamak dalam foto itu masih bisa aku lihat dengan jelas.
    Mamak selalu bekerja keras untukku. Apa lagi setelah bapak meninggal 15 tahun yang lalu. Mamak mulai semakin repot bekerja untuk membiayai hidup kami. Aku memutuskan untuk berhenti sekolah meskipun Mamak memaksaku untuk tetap sekolah agar menjadi orang pintar seperti Bang Dhika. Beliau ingin aku kuliah. Balajar di universitas. Untuk apa? Mamak selalu menjawab agar aku tidak hidup sepertinya. Selalu luntang-lantung tidak tahu arah. Tidak tahu akan seperti apa hidupnya besok. Tapi aku ingin seperti Mamak. Bukan Mamak yang hidup susah. Tapi Mamak yang menghadapi kesusahannya dengan keikhlasan. Itu sebabnya aku sangat senang saat Mamak bersenandung kemudian tersenyum. Karena itu membuatku melupakan kesusahan kami.
    ***
    Sudah sepuluh tahun aku berkutat dengan kemera. Bang Dhika masih setia mengajariku banyak hal meskipun sekarang dia sibuk bekerja dan mengurus keluarganya. Anaknya lucu-lucu. Ada tiga gadis cilik yang selalu menyambutku setiap kali aku berkunjung ke rumahnya. Kamera Bang Dhika yang dulu dipakainya, sekarang diwariskan padaku. Aku sangat senang saat Bang Dhika memberiku kamera itu. Kamera hitam kecil dengan lensa yang cukup besar. Kamera pertama yang aku lihat dulu.
    Aku mulai fokus pada objek yang lebih luas. Meskipun Mamak masih tetap menjadi objek utamaku. Garis-garis di wajahnya terlihat semakin jelas dengan kamera yang lebih canggih ini.
    Hari Minggu 12 Oktober 2008. Bang Dhika datang ke rumahku besama ketiga anaknya.
    Wah, ada apa, Bang? Tumben rame-rame ke sini?
    Bang Dhika hanya tersenyum sekilas kemudian mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya.
    Ini, buat kamu. Foto kamu bagus-bagus lho, Don. Coba kirim foto-foto kamu.
    Aku hanya mendongak menatap wajah Bang Dhika yang terlihat sangat mantap. Aku membaca ulang brosur yang diberikan Bang Dhika barusan. Lomba fotografi. Aku tidak pernah mengikuti hal semacam itu. Aku hanya pernah membaca beberapa brosur-brosur lomba yang ditempel di tiang-tiang listrik di jalanan kota.
    Ikutlah. Siapa tahu ini rejekimu.
    Bagaimana kalau kalah? Aku hanya anak gembel kampung yang beruntung bisa mengenal Bang Dhika. Dia yang sudah mengajariku banyak hal. Aku tidak cukup berani untuk berharap lebih.
    Jadikan itu pengalaman. Dalam setiap lomba memang harus ada yang menang dan ada yang kalah kan? Yang penting bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada.
    ***
    Aku kalah waktu itu. Tapi Bang Dhika benar. Aku menjadi lebih tertantang saat melihat hasil karya para pemenang. Aku juga bisa melakukan hal hebat seperti itu kan? Bukankah Bang Dhika sudah menjadi perantara yang sangat luar biasa?
    Aku menoleh ke arah pintu utama. Pintunya yang besar bergerak mengayun ke dalam. Menciptakan celah yang cukup lebar untuk dilewati dua orang. Aku langsung berjalan ke arah pintu. Memeluk orang yang sedari tadi aku tunggu. Akhirnya!
    Bang Dhika menuntun Mamak memasuki ruang pameran. Aku ingin sekali menjemput mereka di bandara tadi, tapi Mr.Josh melarangku untuk meninggalkan ruang pameran ini. Ada beberapa tamu yang ingin menanyakan banyak hal padaku, katanya.
    “Bagaimana perjalanan ke sini, Mak?” Aku membimbing Mamak duduk di salah satu sofa yang ada di ujung ruang pameran.
    “Mamak pusing lihat ke bawah, Don. Tinggi sekali pesawat itu. Untung ada Dhika yang ngajak Mamak ngobrol. Kalau tidak Mamak pasti sudah pingsan.”
    Mau tidak mau aku tersenyum mendengar jawaban Mamak yang sangat polos. Mamak baru pertama kali naik pesawat. Kabarnya Bang Dhika harus membujuknya selama satu jam penuh agar mau naik pesawat. Bahkan beberapa pramugari sempat kerepotan saat Mamak mendadak minta turun saat pesawat sudah mengudara. Tapi sepertinya Bang Dhika berhasil meyakinkannya agar tetap duduk tenang sampai di sini.
    “Tapi Mamak senang bisa ke sini, Don. Melihatmu menjadi orang sukses seperti ini.” Aku hanya tersenyum saat Mamak mengatakan itu. Mamak yang membuatku seperti ini.
    Beberapa tamu mendekat dan bersalaman dengan Mamak. Kebanyakan dari mereka langsung menyanjungnya dalam bahasa Inggris. Mamak manggut-manggut saja meskipun tidak mengerti apa yang mereka katakan.
    “Anda adalah model yang sangat luar biasa!” kata salah satu tamu yang berusaha keras mengucapkan sanjungannya dalam bahasa Indonesia.
    Wanita itu mengarahkan tangannya pada seluruh foto yang tergantung pada dinding ruang pameran ini. Seluruh foto yang berisi gambar Mamak. Dimulai dengan salah satu foto pertamaku. Foto saat Mamak sedang bersenandung dan tersenyum.
    End