Rss Feed
  1. A Celebrity Twin #9

    Thursday, May 8, 2014


    Jumat, 11 Februari
    Konferensi pers! Itu artinya wajahku akan ada di semua media dalam waktu kurang dari satu hari. Menyebalkan!

    Dion sudah berdiri di samping mobil sedannya saat Sonia keluar. Tubuhnya yang jangkung bersandar pada pintu penumpang. Saat melihat Sonia keluar, Dion buru-buru melepaskan diri dan berjalan memutar, masuk ke dalam mobil. Sonia menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, Dion terlihat rapi dan lebih dewasa dari seharusnya. Pemuda itu memakai kacamata hitamnya, kemudian tersenyum pada Sonia sebelum memacu mobilnya ke jalanan.
    Hanya alunan piano klasik yang menemani perjalanan mereka. Sonia terlalu gugup untuk mengatakan apa pun. Keberaniannya mendadak luntur. Wajahnya akan terlihat di semua acara infotainment sebentar lagi. Dia tidak bisa menyembunyikan identitasnya lagi. Sekolah tidak akan terasa sama lagi. Sonia menggeleng, mungkin tidak ada anak di sekolahnya yang suka menonton acara gosip. Mungkin.
    “Kau kenapa?”
    Sonia langsung menoleh saat mendengar pertanyaan Dion. Gadis itu menggeleng sambil tersenyum. Senyumnya jelas tidak mencapai matanya karena Dion terlihat tidak percaya.
    “Kau gugup?” tanya Dion lagi.
    Kali ini Sonia tidak bisa tersenyum. Dia memutar tubuhnya agar menghadap Dion.
    “Apa yang akan terjadi padaku setelah konferensi pers ini?” tanya Sonia panik. Dia jarang menarik perhatian publik sebelum ini, dan dia cukup senang dengan keadaan itu. Dia benci mendapat sorotan lebih dari orang-orang asing.
    Dion mengerutkan dahinya, “Apa yang akan terjadi padamu?” Dion membeo.
    Sonia menarik nafas dengan tidak sabar, “Akan ada banyak wartawan. Apa yang akan terjadi padaku! Astaga! Aku tidak pernah menghadapi satu kamera pun seumur hidupku!” Sonia menyandarkan kepalanya dengan keras, berkali-kali.
    “Tidak satu pun?” tanya Dion tidak percaya. Sonia hanya menghadiahinya tatapan sinis. “Tenang saja, tidak akan ada yang memakanmu.” katanya ringan.
    “Bagaimana nasibku di sekolah? Semua orang akan tahu kau mengadopsiku!” kata Sonia lebih panik dari sebelumnya.
    “Kau tidak suka jadi kakak angkatku?” tanya Dion, suaranya terdengar sedih.
    “Bukan...bukan itu.” Sonia tergagap. “Kau tidak tahu teman-temanku.”
    Dion memelankan laju mobilnya, dia melirik Sonia dengan sudut matanya kemudian mendesah.
    “Kita bisa membeli es krim dan mengobrol lebih lama jika itu bisa sedikit menenangkanmu. Tapi mengulur waktu hanya akan memperlama kepanikanmu.” kata Dion tegas dan bijaksana. Detik itu Sonia merasa Dion yang lebih pantas menjadi seorang kakak. Pemuda itu sepertinya sudah sangat mahir mengeluarkan kata-kata bijak untuk menenangkan seorang adik.
    “Lebih baik kita cepat selesaikan ini.” kata Sonia mantap.
    Dion hanya tersenyum dan mempercepat laju mobilnya.
    ***
    Wanita paruh baya berkacamata dan berambut pendek sudah menanti kedatangan Sonia dan Dion di depan pintu masuk hotel. Dion langsung menyalami wanita itu begitu turun dari mobil. Sonia hanya memandangi ritual sopan santun itu tanpa berniat mengikuti.
    “Sonia, ini tante Meri. Adik mama sekaligus manajerku.”
    Saat wanita itu mengulurkan tangannya, Sonia baru menjabatnya.
    Aku punya tante juga, pikir Sonia.
    “Kau lebih cantik dari yang diceritakan Dion. Pantas saja Dion ngotot sekali untuk mengadopsimu.” kata tante Meri. Sonia bisa merasakan pipinya memanas karena mendengar pujian itu. Belum pernah ada yang memujinya cantik.
    “Ayo, para wartawan sudah menunggu kalian.” Hanya itu kalimat terakhir yang berhasil didengar Sonia. Selanjutnya Sonia hanya bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri.
     Tangan Sonia mulai kebas karena keringat. Sonia terus meremas-remas tali tas slempangnya selama mengikuti Dion dan tante Meri masuk ke dalam hall room sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Gadis itu berjalan pelan-pelan di belakang Dion yang melangkah dengan mantap. Tante Meri membuka pintu hall room dan menahannya agar Dion dan Sonia masuk lebih dulu. Pandangan Sonia disilaukan oleh puluhan lampu sorot yang berasal dari kamera-kamera yang berjajar di depan meja panjang. Seolah jumlah kamera yang banyak itu masih kurang mengintimidasi, ada puluhan microphone yang ditata rapi di atas meja panjang. Tiga orang security berdiri gagah di sudut-sudut ruangan.
    Sonia semakin memelankan langkahnya, terlalu takut untuk menghadapi puluhan kamera di hadapannya. Tangannya yang basah terasa hangat saat Dion menggandengnya dan membimbing Sonia agar duduk di sebelahnya. Di sisi lain Dion ada tante Meri yang selalu tersenyum sejak masuk ke dalam hall room. Seorang pria berpakaian rapi yang ada di samping meja panjang memberi isyarat pada para wartawan kapan acara konferensi pers akan dimulai agar kamera bisa dinyalakan bersamaan. Saat hitungan ketiga, semua cameraman sudah siap di belakang kamera masing-masing. Tante Meri mulai membuka acara konferensi pers itu. Setelah basa-basi yang terasa sangat cepat, wartawan mulai diizinkan untuk mengajukan pertanyaan. Satu pertanyaan yang berhasil mengalahkan suara degup jantung Sonia adalah: kenapa mengadopsi seorang kakak angkat?
    Sonia menoleh ke arah Dion. Pemuda itu terlihat sangat tenang dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghujaninya. Senyum di wajahnya tidak lenyap sama sekali. Dengan suara lembutnya Dion menjawab dangan mantap, “Apa salahnya mengadopsi seorang kakak angkat? Saya ingin tahu rasanya memiliki seorang kakak, dan saya rasa mengadopsi seorang kakak tidak ada salahnya. Saya senang Sonia mau menjadi kakak angkat saya.” Dion menoleh untuk menatap Sonia sekilas sebelum kembali pada wartawan yang mengajukan pertanyaan tadi.
    Sonia hanya tersenyum sesekali. Pandangannya terlalu kabur oleh kilatan cahaya lampu kamera di hadapannya. Belum lagi banyak sekali lampu flash yang berkilatan saat puluhan fotografer mengambil gambar. Semua kemeriahan ini membuatnya pusing. Dia tidak bisa memaksa suaranya keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering. Sonia mendongak saat Dion menyenggol lengannya. Pemuda itu mengarahkan dagunya ke depan, menunjuk salah satu wartawan yang ternyata sedang mengajukan pertanyaan pada Sonia. Wartawan wanita itu menatap Sonia dengan tatapan penasaran.
    “Ma...” suara Sonia serak, dia berdehem untuk menjernihkan suaranya. “maaf, apa?” Sonia berusaha memasang ekspresi tenang dan angkuh yang biasa dia gunakan saat menghadapi Clarisa. Tapi saat ini, gadis itu tidak lagi yakin ekspresi wajahnya terlihat seperti apa. Mungkin gugup, takut, dan menyedihkan. Entahlah.
    “Bagaimana perasaan anda saat Dion mengadopsi anda sebagai kakaknya?”
    Sonia tersenyum sekilas, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keceriaan yang masih dimilikinya, “Saya senang. Akhirnya saya punya keluarga.” jawab Sonia singkat. Dulu dia juga punya keluarga, sebelum ibu memutuskan untuk membuangnya dan membiarkan Dion mengadopsinya.
    Suara-suara berikutnya kembali terdengar kabur. Kenangan wajah ibu saat hari Sonia pergi dari panti kembali membayangi pikirannya. Ibu membenciku. Ibu membenciku. Ibu membenciku. Kalimat itu tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya.
    Pikiran itu hilang saat cahaya di hadapan Sonia meredup. Gadis itu mendongak dan mendapati para wartawan sudah membereskan barang-barang mereka. Dia menoleh, Dion sudah berdiri di sampingnya. Tubuh Dion yang tinggi membuat Sonia harus mendongak saat menatap wajahnya. Pemuda itu tersenyum.
    “Sudah selesai.” katanya.
    Sonia mengangguk canggung kemudian bangkit dari kursinya. Seperti saat masuk tadi, sekarang tante Meri juga membimbing mereka keluar dari hall room. Aroma harum menyerbu indera penciuman Sonia saat mereka berjalan melewati koridor hotel. Sonia tidak sempat memperhatikan keadaan di luar hall room saat masuk tadi karena gugup. Sekarang dia baru sadar bahwa seluruh lantai di hotel ini dilapisi karpet tebal berwarna hijau tua yang sangat indah.
    Mereka berpisah di tempat parkir. Tante Meri masuk ke dalam mobil Avanza hitam dan meluncur pergi, sedangkan Dion dan Sonia masuk ke dalam mobil mereka. Seperti biasa, Dion memakai kacamata hitamnya sebelum menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir.
    “Masih siang. Kau mau main dulu?” tanya Dion saat mobil yang mereka tumpangi sudah berbaur dengan mobil-mobil lain, berebut sepetak jalanan beraspal untuk dilewati.
    “Main apa?” tanya Sonia. Dia tidak tahu Jakarta. Dia belum pernah ke kota besar ini sebelumnya. Seumur hidupnya hanya dihabiskan di panti asuhan dan sekolah.
    “Kau pernah bermain ice skating?” tanya Dion, sesekali pemuda itu menoleh untuk menatap Sonia.
    Sonia hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Dion. Pemuda itu tersenyum lagi. Sonia tidak tahu Dion senang sekali tersenyum. Awalnya gadis itu pikir Dion hanya berusaha terlihat ramah saat di depan kamera, ternyata pemuda itu memang ramah.
    Dion membelokkan mobilnya dan masuk ke dalam sebuah mall yang sangat besar. Sonia mencondongkan tubuhnya dan mendongak untuk melihat tulisan yang ada di puncak gedung mall itu. Taman Anggrek, Sonia ingat pernah mendengar Clarisa menyebut nama itu. Mungkin tempat ini yang dimaksud Clarisa.
    Dion berjalan mantap memasuki mall itu, sementara Sonia berusaha untuk menciutkan dirinya dan mengekor di belakang Dion. Tidak ada orang yang mendekati mereka seperti dugaan Sonia, tapi banyak sekali orang yang menatapnya. Sesekali Sonia memberanikan diri untuk melirik orang-orang di sekitarnya. Beberapa perempuan yang berpapasan dengan mereka langsung menoleh dan menatap Sonia dengan tatapan penasaran. Tubuh Sonia menegang saat merasakan genggaman tangan Dion. Pemuda itu sedikit menarik Sonia agar berjalan sejajar dengannya.
    “Kau akan terlihat seperti pengasuhku jika berjalan seperti itu.” bisik Dion saat jarak mereka cukup dekat. “Tenang saja, mereka tidak menggigit.”
    Sonia mempererat genggamannya pada tali tas slempangnya, sementara tangan yang lain menggenggam tangan Dion. Gadis itu berusaha menegakkan bahunya dan mengangkat wajahnya. Sonia kembali melatih wajah angkuhnya dan tersenyum.
    “Begitu lebih baik.” bisik Dion lagi.
    Mereka berjalan beriringan ke tempat ice skating. Hawa dingin langsung merayapi lengan Sonia saat mereka masuk ke dalam. Dia tidak berencana mendekati area es seluas ini saat pergi tadi pagi. Sonia hanya memakai kemeja lengan pendek dan celana jeans, benar-benar salah kostum.
    “Ukur dulu kakimu.” kata Dion sambil menunjuk gambar telapak kaki di lantai untuk menunjukkan ukuran sepatu yang sesuai.
    Sonia langsung menggeleng, “Aku tunggu di sini saja.” katanya mantap sambil mengusap-usap kedua lengannya untuk menghilangkan hawa dingin yang masih menyelubunginya.
    Dion hanya memutar bola matanya kemudian mendorong bahu Sonia sampai kaki gadis itu berpijak pada gambar alas kaki yang sesuai. Dion langsung menghampiri tempat penyewaan sepatu tanpa menunggu komentar Sonia lagi. Pemuda itu menyodorkan sepasang sepatu skat pada Sonia. Setelah hanya memandangi sepatu itu selama beberapa menit, akhirnya Sonia setuju untuk memakainya. Dion bangkit, tubuhnya terlihat lebih tinggi setelah memakai sepatu skat. Pemuda itu melepas kemeja lengan panjang yang membalut tubuhnya, menunjukkan kaus putih lengan pendek yang ada di dalamnya.
    “Pakai ini.” katanya singkat sambil menyodorkan kemeja itu pada sonia. “Tidak terlalu hangat, tapi setidaknya kau tidak akan menggigil seperti itu.”
    Sonia menatap kemeja itu kemudian menatap Dion, “Dan kau tidak akan menggigil hanya memakai kaus lengan pendek setipis itu?”
    Dion tertawa ringan, “Kau tidak tahu aku ini yeti? Pakai saja.” katanya lagi.
    Sonia terlalu kedinginan untuk menolak tawaran Dion. Dia menerima kemeja itu dan memakainya. Bahan katunnya terasa hangat di tubuh Sonia. Gadis itu bangkit dan berusaha menyeimbangkan diri sebelum berjalan mengikuti Dion. Sepatu skat-nya terasa berat. Sonia berjalan seperti zombie mendekati pintu yang membatasi ruang tunggu dengan area es. Dion langsung meluncur ke tengah begitu mata pisau sepatunya menyentuh es, sementara Sonia hanya bersandar pada kusen pintu. Dia tidak pernah bermain ice skating sebelumnya. Sepatu roda pun tidak pernah. Bagaimana bisa dia menyeimbangkan diri di atas dua bilah pisau seperti itu?
    Dion berhenti meluncur saat melihat Sonia masih berdiri mematung di ambang pintu. Pemuda itu kembali meluncur untuk mendekati Sonia.
    “Kita sedang bermain ice skating, bukan petak umpet. Apa yang kau lakukan di situ?”
    “Aku tidak bisa.” jawab Sonia mantap.
    “Kau belum mencobanya!” kata Dion gemas. “Kau lihat dia?” Dion menunjuk seorang anak kecil yang dengan lancarnya berputar-putar di atas es dengan satu kaki. Satu kaki! “Dia bahkan lebih muda darimu.” lanjut Dion.
    Itu sama sekali tidak bisa meyakinkan Sonia untuk menginjakkan kakinya ke atas es. Gadis itu tetap menggeleng dan menggenggam erat kusen pintu.
    “Aku akan memegangimu.” kata Dion sambil mengulurkan tangannya.
    “Kau bermain saja sana. Aku baik-baik saja di sini.”
    Dion tertawa puas, “Bagaimana caranya memeluk kusen pintu seperti itu bisa dibilang baik-baik saja? Kau harus mencobanya.”
    Sonia menggeleng lagi.
    “Astaga, kau keras kepala sekali!” kata Dion frustasi. Pemuda itu langsung menarik Sonia agar melangkahkan kakinya di atas es.
    Sonia membungkuk untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dion masih memegangi tangan kanannya agar Sonia tidak jatuh tengkurap di atas es. Jika kondisinya normal, Sonia pasti sudah akan memukul Dion dengan apa pun yang ada pada jangkauannya, tapi saat ini Sonia masih membutuhkan bantuan Dion untuk kembali ke ruang tunggu.
    “Kau harus berdiri tegak agar tubuhmu seimbang.” Dion mulai terdengar seperti seorang instruktur profesional.
    Sonia berusaha menegakkan tubuhnya, tapi kakinya meluncur ke depan tanpa diperintah. Dion menangkapnya dan membantu Sonia berdiri tegak. Gadis itu merentangkan tangan lain yang tidak memegangi Dion agar bisa berdiri. Dion mengulurkan tangan lainnya, Sonia sempat ragu tapi akhirnya meraih tangan itu.
    “Kau harus meluncur, bukan melangkah, oke?” kata Dion.
    Pemuda itu meluncur mundur, sementara Sonia mengikuti langkahnya dan meluncur perlahan. Rasanya sangat licin, Sonia tidak yakin dia akan bisa berdiri jika Dion tidak memeganginya.
    “Aku akan melepaskanmu, oke?” tanya Dion lagi.
    “Jangan!” jawab Sonia spontan.
    Dion tertawa lagi, entah karena dia senang atau dia sedang menertawakan kebodohan Sonia.
    “Aku akan jatuh.” kata Sonia pelan, malu dengan ketidakbisaannya sementara di sekelilingnya anak-anak usia sekolah dasar sudah meluncur bebas ke sana kemari.
    “Kau pesimis sekali.” kata Dion ceria. “Kau tidak pernah jatuh?”
    Dion melepaskan genggamannya, tapi Sonia masih menggenggam erat lengan Dion. Dion memberi isyarat pada Sonia agar melepaskan tangannya. Ada bekas merah pada lengan Dion, tempat di mana Sonia menggenggamnya terlalu kuat. Sonia melepaskan tangannya, tapi masih belum berani menjauhkan telapak tangannya dari lengan Dion. Saat yakin dia bisa berdiri, Sonia mulai merentangkan tangannya. Gadis itu tersenyum lebar saat tubuhnya berhasil berdiri tegak. Dion meluncur mundur dan memberi isyarat pada Sonia agar mengikutinya. Saat Sonia meluncur, tubuhnya kembali goyah, Dion langsung menangkapnya lagi.
    Proses jatuh bangun itu terus terjadi sampai akhirnya Sonia berhasil meluncur sedikit. Setelah beberapa langkah, dia kembali jatuh. Sonia sudah terlalu lelah untuk mencoba. Saat Sonia hanya berdiri mematung dan tidak mau bergerak lagi, Dion mendekat.
    “Aku tidak ada bakat. Tidak perlu memaksa. Kita pulang saja.” katanya sambil bersedekap, seperti anak kecil yang merajuk. Dia belum pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Biasanya Sonia yang selalu mengalah pada adik-adiknya di panti. Sifat manjanya terasa sangat asing bahkan bagi dirinya sendiri.
    Dion hanya mengangguk dan membimbingnya kembali ke ruang tunggu. Mungkin Dion juga sudah lelah karena mengajari Sonia. Setelah mengembalikan sepatunya, Sonia melepas kemeja Dion dan menyodorkannya. Pemuda itu menerima kemeja itu dan hanya menyampirkannya ke bahu.
    “Kau lapar?” tanya Dion saat mereka berjalan melewati deretan restoran di dalam mall.
    Sonia menggeleng, “Aku ingin pulang.”
    Dion hanya diam. Jika pemuda itu kelaparan dan ingin protes, dia tidak menunjukkannya. Dion hanya melangkah ringan melewati orang-orang yang menatap mereka. Sonia bisa menangkap sosok-sosok yang berdiri ragu di dekat mereka. Mungkin orang-orang itu berniat menyapa Dion tapi tidak cukup berani untuk mengatakan apa pun. Sonia berusaha menyamakan langkahnya dengan Dion agar tidak tertinggal. Dia merasa jauh lebih tenang saat akhirnya masuk ke dalam mobil.
    Sorenya, kabar itu sudah menyebar di seluruh infotainment. Sonia melihatnya di televisi kecil yang ada di SPBU saat Dion mengisi bensin mobilnya. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dan menarik nafas panjang. Dia tidak akan merasa aman lagi di sekolah. Kehidupan normalnya sudah tamat.