Rss Feed

  1. Deng de deeeeng-deng de de deeeeng-deng de deeeeng (plis anggap saja ini musiknya sama persis kayak opening Marvel yang emejing itu:

    Haiiii gaiiis...long time no see, huh? Akhirnya nemug somethin good to talk about. So...wasowekete is a waluwa (kidding :D, ini lagi ngetrend banget kayaknya di instagramnya bang Baim) So, hari ini saya akan berusaha mereview sebuah film yang baru saja saya tonton bersama teman (cewek) tadi pagi, jam 09.45 WIB udah nongkrong di depan mall nunggu buka dan akhirnya jam 10.00 WIB security mulai buka pintu dan akhirnya....ah sudahlah, intinya tadi pagi saya nonton film yang lagi hits karena baru release tanggal 5 Juli 2017 kemarin. Eng ing eeeeng....Spider Man: Homecoming. Just information, ini pertama kalinya saya nonton film Spider-Man di bioskop, hahaha. Karena...yaaah, you know lah, menurut saya spider man versi lama itu so lame banget nggak sih? Plot ceritanya hampir selalu sama, yang Peter Parker digigit laba-laba terus jadi punya kekuatan bisa jalan-jalan di tembok terus ada adegan Paman Ben ditembak dst dst dst...dan kisah itu terulang di The Amazing Spider-man. Jadii, bermodal "yah, yang penting hiburan lah" akhirnya saya nonton film ini, dan ternyataaaa...ceritanya beda dan lebih seru!

    Ini adalah poster yang beredar di pasaran. Well, awalnya saya pikir yang bersayap itu Falcon. Okay, my bad, saya mohon maaf karena kurang memperhatikan. Ternyata sosok bersayap itu adalah sang musuh utama di film ini, which is pretty good I think.
    Taaadaaaa....Peter Parker kali ini diperankan oleh Tom Holland yang kabarnya adalah aktor termuda yang pernah memerankan karakter tersebut di atas (buset udah kayak kuis aje). Jadi, sebenarnya saya agak bingung dengan karakter asli si Peter Parker ini (maklum saya nggak baca komiknya, saya hanya penikmat film). Jika ditelusuri dari jaman Tobey Maguire yang memerankan Peter Parker dengan bawaan culun dan lil bit introvert, dan diceritakan si Peter sudah bekerja sebagai seorang fotografer media cetak. Lalu berubah ke Andrew Garfield yang memerankan Peter Parker saat masih belia, yang sangat terlihat memiliki perbedaan karakter dengan Peter sebelumnya. Peter yang diperankan Andrew sedikit lebih aktif dan nggak culun-culun amat yah mungkin karena pada dasarnya..ahem...Andrew itu...ahem...memang...agak...ahem...ganteng. Lalu sekarang karakternya diperankan oleh Tom Holland yang berhasil membuat saya berpikir "bocah banget sih ini". Mungkin karena di cerita yang ini memang Peter masih sekolah. Tapi berarti Peter digigit laba-labanya dari jaman dia remaja dong? Naaah, mending kita abaikan saja pertanyaan njelimet di kepala saya ini dan mulai review plot ceritanya.

    Liz Toomes a.k.a the love interest
    Pertama-tama, mari kita temui sang pujaan hati yang bukan Marry Jane maupun Gwen Stacy. Namanya Liz Toomes, tolong perhatikan namanya baik-baik, I'm giving you a key to the end of the story. Ceritanya si Liz ini temen sekolahnya, kalo nggak salah sih seniornya gitu deh. Peter ngefans sama doi. Mungkin sih Liz ini first crush nya Peter sebelum Gwen Stacy kali yaah. Tapi di cerita ini Liz nggak terlalu banyak interaksi sih, cuma semacam bumbu aja biar nggak hambar-hambar banget. Masa film remaja nggak ada cinta-cintaannya?

    Ned Leeds a.k.a The Sidekick
    Let's meet Ned. Jadi baru kali ini Peter punya sohib yang bukan Hary Osborn :D Jadi si Ned ini ceritanya sama-sama nerd gitu, terus nanti dia yang bantuin Spider Man membasmi kejahatan di muka bumi (Amerika) hahahahaha

    May a.k.a The-old-aunt-May-who-turn-to-a-pretty-young-lady
    You should already know who she is, right? Buat yang udah nonton Captain America: Civil War harusnya tau siapakah wanita cantik aduhai ini. Yup, Bibi May yang selama ini diperankan oleh perempuan berumur sekarang terlihat teramat sangat muda, ngomong-ngomong apa nih resepnya? Awalnya saya ngerasa kurang pas sih, karena Bibi May nya muda banget. Tapi kalo dipikir (tapi kalo lagi males mikir yaudah terima aja) bisa juga karakter Bibi May ini dipilih yang muda karena settingnya adalah jaman-jaman Peter Parker masih 15 tahun. Lah, Paman Ben ke menong dong? Ah, entahlah, let's forget about that lame plot, shall we?













    Jadi, karakter utama yang Spider-man banget hanya tinggal Peter Parker (ya iyalaah, ngana pikir?) dan Bibi May. Selain karakter-karakter baru di atas, ada juga om Tony Stark yang mampir sebagai, hmm, sebut saja pembimbing Peter Parker yang bisa dibilang masih bocah banget.

    Jadi berawal dari akhir (lah, jadi awal apa akhir nih?) intinya, setelah peperangan melawan Kapten di Captain America :Civil War, Peter Parker dibalikin lagi ke rumah sama Tony Stark. Karena merasa hebat, jadi Peter nunggu-nunggu banget nih panggilan untuk bertempur lagi. Ternyata, udah ditunggu sampai berbula-bulan, Tony Stark tak jua menghubungi. Sehingga Peter mulai bosan dengan kehidupannya yang biasa-biasa aja.

    Masalah dimulai saat pada suatu malam Peter mendapati ada sekelompok gangster yang mencoba merampok ATM.

    Nggak ngerti kenapa adegan ini berasa lucu banget tadi pagi. Mungkin karena pas masuk ke ruang ATM si Spider-man dengan sopannya nutup pintu lagi, tiba-tiba muncul aja bayangan doi bilang "Assalamualaikum, ane masuk nih ye." Oke, lupakan imajinasi nggak penting ini. Singkat cerita Spider-man melawan para penjahat itu, tapi ternyata para penjahat menggunakan senjata yang tidak umum dan sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kerusakan parah. Akhirnya para penjahat berhasil kabur saat Spider-man berusaha menolong seorang yang tidak berdosa (dan seekor kucing).
    Dari sini udah mulai berasa sih kalau ceritanya bakal wah. Soalnya kalo dilihat dari pendahulu-pendahulunya, si Spider-man kayaknya hampir selalu melawan penjahat korban laboratorium. See? Something like Bapaknya Hary Osborn, Sand man, Lizard man, Electric man, dan man man lainnya. Kali ini musuhnya bukan hasil percobaan laboratorium yang gagal. Kali ini musuhnya adalah manusia yang merasa dikecewakan oleh manusia lainnya, sehingga menciptakan sesuatu yang dahsyat. Saya rasa salasan itu jauh lebih kuat dibanding alasan selfish sebangsa, "gue mau seluruh manusia di bumi jadi kadal" (ini kayaknya saya yang ngarang motif, hahaha)

    So, dibalik penjahat-penjahat kecil ini tersembunyilah sesosok penjahat besar yang berbahaya. Sebenarnya sih tujuan doi nggak mencelakai umat manusia. Not that big. Tujuan dia hanya menafkahi keluarganya karena mata pencaharian doi baru saja diambil alih pemerintahan, sehingga doi merasa kecewa dan gundul gulana. Tapi, yaa kalo alternatif mata pencahariannya itu bikin senjata mutakhir yang bisa membinasakan umat manusia ya brarti doi bisa digolongkan penjahat dong.
    Let's meet the villain "Vulture". Vulture ini bukan robot ataupun alien, like I said, dia hanya manusia biasa bernama Adrian Toomes yang berhasil mengelola rongsokan alien sisa pertempuran menjadi alat-alat canggih. Salah satunya ya sayap yang doi pakai itu. Jadi karena semua rongsokan alien sisa perang Avengers itu dikumpulkan oleh tim apa namanya saya lupa, pokoknya dari pemerintahan gitu deh, akhirnya kan Toomes jadi kekurangan bahan baku. Nah, oleh karena itu dibuatlah sayap-sayapan itu, kurang lebih sih gitu mungkin alasan awalnya, jadi memudahkan doi dan gengnya saat melakukan penjarahan barang rongsokan alien.

    Perbuatan Toomes ini mulai ketahuan sama Spider-man, dan like you already know, Spider-man berusaha menghentikannya. Peter pengen banget menunjukkan kebolehannya di depan Tony Stark, doi pengen Tony tahu kalau doi udah mampu untuk dilibatkan dalam sebuah misi. But, he fails. Bener sih proses jual beli senjata berbahayanya jadi terhenti, tapi kekacauan yang diakibatkan Spider-man dirasa nggak sebanding.
    Ini adegan paling epic (menurut saya) sepanjang film ini. Bikin gregetan antara pengen ngomel "duh lo kok ogeb banget sih" sama kasihan juga "aduh itu nanti kebelah jadi dua gimana?" Jadi ceritanya saat berusaha menghentikan proses transaksi senjata di sebuah kapal fery, Spider-man berusaha menangkap Vulture which is malah menyebabkan senjata berbahayanya terlempar ke kapal dan memancarkan cahaya ke segala arah dan mengakibatkan kapalnya kebelah jadi dua. Duh udah nggak kebayang deh pas si Spider-man berusaha banget memanfaatkan semua jenis jaring yang bisa dia pakai dari kostum canggihnya untuk menyatukan kembali kapal itu. Pas dikira udah berhasil eh ternyata pecah lagi. Spider-man langsung berusaha nahan kapal itu sendiri, nggak kebayang kalau gagal pasti perasaan bersalahnya nggak ilang-ilang deh, karena ada ratusan orang nggak bersalah di dalamnya T.T
    Untungnya bantuan segera datang. tiba-tiba aja kapalnya nyatu lagi, ternyata Tony Stark dan teknologi canggihnya yang datang membantu. Yah, semua orang selamat, meskipun setelah itu Peter dimarahin habis-habisan dan kostum canggihnya disita.

    Peter Parker libur menjadi Spider man dan berusaha kembali menikmati kehidupan sekolahnya. Belajar, ujian, main lego, kencan di acara prom. Nah, you remember the-first-crush I talked about, right? Peter meminta Liz untuk datang bersama ke acara prom. As you know, acara prom di luar negri yang harus dandan super wah dan jemput pasangannya buat kasih bunga di tangan (apa itu teh namanya?) Waktu Peter jemput Liz, dia sangat terkejut saat tahu bahwa Adrian Toomes adalah bapaknya Liz Toomes (padahal dari namanya aja udah tahu, tapi ceritanya belum tahu. Padahal sih saya juga kaget pas tahu. Ya gitu deh pokoknya.) Intinya si Vulture ini memberi kesempatan ke Peter untuk mundur. Tapi yah, dasarnya anak badung, disuruh mundur ya nggak mau.
    Sehingga, bermodalkan kostum yang sangat nggak canggih itu, Spider-man berusaha menghentikan Vulture dari melakukan aksinya yang terakhir (merampok barang-barang Tony Stark). Setelah bergulat set set set set, akhirnya Spider man menang dan Vulture kalah.

    Sekian sedikit review nggak penting dari saya, hahaha, itung-itung pemanasan setelah sekian lama vakum. Semoga bisa sering-sering posting lagi :D See you !



    Adek lelah, mau bobo siang dulu ZzZzzz



  2. FINAL FANTASY XV : KINGSGLAIVE

    Thursday, September 29, 2016

    Hoaaaaahhhmmmmm....
    *baru bangun hibernasi*

    Hemmm...kapan terakhir kali kita cuap-cuap ngebawelin plot film? Oh terakhir itu yang Batman vs Superman yah? Kalo ada yang belum baca, atau sebenernya udah lihat postingannya tapi belum tertarik baca, nih saya kasih link nya http://perfumemories.blogspot.co.id/2016/03/unfinished-business-in-bvs.html siapa tahu udah berubah pikiran.

    Oke, jadi sekarang mau ngomongin apa? Hemm...sebenernya saya pengen banget ngereview Game of Thrones season 6, tapi materinya belum memadahi (ceilah gaya amat lu, bilang aja udah terlanjur lupa alur ceritanya) jadi kita pending dulu. Sekarang kita ngomongin film yang baru kemaren banget saya tonton aja yah. Rada telat sih sebenernya, soalnya ini film tayang di bioskop udah dari kapan tahu, tapi berhubung saya baru nonton jadi harap maklum (ketahuan nontonnya nggak di bioskop).

    So, let's get started. Seperti biasa, kita akan memulai celotehan ini dengan membicarakan para tokoh utama yang membuat saya gregetan.

    1) NYX ULRIC
    Sudah bisa ditebak dari poster dan tingkat kegantengannya, Nyx Ulric ini udah pasti tokoh utamanya. Meskipun notabene dia bukan sang raja maupun pangeran, Jadi, diceritakan bahwasannya mas ganteng bernama Nyx Ulric ini merupakan pentolannya Kingsglaive. Bukan, bukan komandannya, cuma prajurit biasa tapi nyalinya guede. Doi dikenal sebagai "pahlawan" di kalangan teman sepermainannya (bukan TTM tapi), karena doi pantang menyerah menolong teman-temannya yang dalam bahaya meskipun itu artinya mengorbankan nyawanya sendiri. Sok heroik? Menurut saya nggak juga. Karakter Nyx justru kuat banget. Tipikal badass yang setia sama kawannya. Jadi doi nggak munafik keliatan sok baik di depan orang-orang. Nyx tetap bersikap "agak" menyebalkan di hadapan orang-orang yang dia nggak respect, tapi kalau sama teman-temannya doi super duper setia.

    2) LIBERTUS
    Tadaaaa...every hero has a sidekick, right? Yah ibaratnya mah atuh masa pahlawan udah capek-capek membasmi kejahatan nggak dikasih satu tokoh yang bisa jadi sahabat dekatnya? Jadi, di sinilah tugas Libertus, sebagai seorang sahabat dan penolong Nyx. Meskipun sempat membelot, tapi yang namanya sahabat sejati mah tak akan lekang oleh waktu. Iyaa kaan??? Nggak ada komentar terlalu banyak untuk karakter Libertus. Karakternya tipikal sidekick banget, yang jahat nggak baik banget juga nggak. Yah, cukupanlah. Kan kata pak ustad juga sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, betul?

    3) CROWE
    Setiap film action pasti menyertakan satu tokoh cantik jelita yang jagoan. Fast Furious punya Letty, The Hobbit punya Tauriel, Marvel punya Black Widow dan Kingsglaive punya Crowe. Begitulah kurang lebih gambaran karakter Crowe, pemanis dalam perkumpulan geng jagoan Kingsglaive. Awalnya saya pikir Crowe bakal jadi love interest si Nyx, ternyata bukan :( padahal mereka cocok, ganteng sama cantik. Sama-sama jagoan, anaknya pasti hebat (jadi baper).

    4) LUNAFREYA
    Setelah membahas anggota geng Kingsglaive, mari beralih pada yang bukan Kingsglaive. Bisa dibilang mbak Luna ini jadi umpan inti dalam seluruh film. Agak ngeselin juga sih, kenapa harus selalu karakter mellow macam mbak Luna ini yang dijadikan umpan. Yah, mbaknya udah berusaha menunjukkan sikap jagoan dengan berkali-kali mengatakan "aku tidak takut mati" sih. Tapi kalimat itu diucapkan dengan suara lembut yang mendayu-dayu dan ekspresi lemah seperti itu, siapa sih yang percaya? Bahkan Nyx memprotes sikap mbak Luna ini dengan mengatakan, "Hentikan sandiwara menjadi putri pemberani seperti itu". Nah, mak jleb banget kan? Tapi saya setuju sama si Nyx. Menurut saya Luna bisa kelihatan lebih jagoan kalau sikapnya menunjukkan seperti itu, bukan sekadar mengatakan "aku tidak takut mati" berkali-kali.

    5) KING REGIS

    Inilah sang Raja, pemimpin Insomnia yang menjadi sumber permasalahan. Hemm...nggak adil juga sih kalau bilang doi yang jadi sumber masalah. Masalah sebenarnya kan kristal yang ada di Insomnia, Doi hanya berusaha melindungi rakyatnya dan....putranya. Sempet bete juga sih pas King Regis ini semena-mena ninggalin Tenebrae setelah mengundang sepasukan Niflheim yang menghancurkan seisi kota. Tapi, yah, kalau nggak gitu kan ceritanya nggak seru, haha.

    6) RAVUS
    Doi ini perannya nggak terlalu penting sih sebenernya. Nggak berpengaruh juga ke plot ceritanya. Tugas doi dalam film tersebut di atas hanya menahan adiknya, Lunafreya, biar nggak kabur selama masa-masa perjanjian sama Niflheim. Jadi, usut punya usut, si Ravus ini dendam banget sama King Regis, gegara doi dateng ke kotanya terus sepasukan Niflheim jadi dateng buat ngerusak kotanya terus ibunya meninggal.

    7) IEDOLAS ALDERCAPT
    Beliau ini adalah dedengkotnya Niflheim yang pengen banget dapetin kristal berkekuatan super yang ada di Insomnia, nggak tahu mau buat apa. Padahal kalau pun doi dapetin tuh kristal, doi nggak akan bisa pake. Soalnya kristal itu hanya bisa menyalurkan kekuatannya pada orang-orang tertentu. Hufft...udah tua bukannya banyak-banyakin ibadah, malah sibuk ngerusakin kedamaian di kerajaan orang.

    8) TITUS DRAUTOS a.k.a GENERAL GLAUCON

    Naaaaah ini kaaan twist yang nyebelin. Ternyata eh ternyata, sang jendral paling berbahaya yang menjadi pemimpin pasukan Niflheim tak lain dan tak bukan adalah sang kapten Kingsglaive sendiri. Yup, jadi selama ini ada konspirasi dari dalam. Yah, menurut saya aktingnya si Drautos ini oke banget bisa sampe nggak kepikiran kalo doi itu si jendral Glaucon. Yah, sempet curiga sih, tapi nggak kepikiran kalo doi ini pimpinan pasukannya si penjahat. Apa saya doang yang nggak tahu yah? Waaah, maaf deh.



    Nah, udah nih? Udah sih kayaknya. Hanya segitu itu tokoh-tokoh yang saya anggap porsinya lumayan banyak di film ini. Yang lain mah pemanis aja. Apalagi para anggota Kingsglaive yang sebenernya ganteng-ganteng. Tapi karena munculnya pas beraksi doang (dan kalo beraksi para Kingsglaive ini pake topeng) jadi yah, apa mau dikata, saya lupa deh muka dan namanya, hehe.

    Lanjut ke plot filmnya, okaaiii??? Are you ready??

    Cerita ini berawal dengan informasi tentang keberadaan sebuah kristal berkekuatan magis yang ada di Insomnia. Nah, kristal yang memiliki kekuatan super power ini menjadi incaran bangsa Niflheim. Jadilah bangsa Niflheim mulai melakukan serangan demi serangan ke kerajaan Insomnia, sampai akhirnya diciptakan sebuah dinding pelindung yang bisa menghalau serangan-serangan dari para pasukan Niflheim.
    Beberapa waktu berlalu, cerita beralih pada Noctis, putra king Regis yang butuh pengobatan ke Tenebrae. Kedatangan king Regis dan Noctis mendapat sambutan oleh rakyat Tenebrae, terutama Lunafreya. Saya nggak tahu ada perjanjian apa antara keluarga Luna dan king Regis ini, mungkin Luna dan Noctis memang sudah dijodohkan dari baru lahir sampai si Luna ini udah kayak anaknya king Regis sendiri. Singkat cerita, saat kunjungan tersebut, pasukan Niflheim datang untuk menyerang king Regis dan rombongannya di Tenebrae. Nah, saat keadaan porak poranda ini lah king Regis kabur untuk menyelamatkan putranya dan Luna. Anehnya, king Regis sepertinya hanya perhatian pada Luna. Padahal Luna punya seorang kakak, Ravus. Pada saat penyerangan itu king Regis mengabaikannya sama sekali, bahkan saat Ravus berteriak meminta pertolongan king Regis untuk menyelamatkan ibunya. Doi sama sekali nggak basa-basi, "Bro, ayo pergi, kalo nggak lu bakal ketembak." Lha ini malah langsung kabur aja dan ngegandeng Luna untuk dibawa pulang ke Insomnia. Nah, Luna yang masih punya keterikatan dengan Tenebrae dan keluarganya, memutuskan untuk melepaskan tangan king Regis dan tetap tinggal.

    12 tahun berlalu

    Pasukan Kingsglaive dibentuk untuk melindungi kerajaan dari serangan-serangan pasukan Niflheim. Salah satu, eh, salah dua anggota dari Kingsglaive adalah Nyx Ulric dan Libertus. Nyx sudah dikenal sebagai "pahlawan" dalam pasukan Kingsglaive, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, itu karena karakternya. Nah, konflik dimulai saat ada utusan Niflheim yang menemui king Regis untuk menawarkan sebuah perjanjian perdamaian. Tentunya ada pro dan kontra setelah penawaran ini diajukan. Maksudnya, yakali bro setelah lu diserang habis-habisan selama bertahun-tahun terus tiba-tiba musuh lu dateng mau nawarin perjanjian damai. Yaaaaah, kalau menurut saya pribadi sih itu sedikit nggak etis yah. Tapi ada juga kubu yang mendukung perjanjian ini. Perjanjian damai ini dianggap bisa membebaskan rakyat dari ketakutan akan serangan-serangan pasukan Niflheim selanjutnya. Paling nggak, dengan doi ngasih tawaran perjanjian damai, ada kesepakatan dimana pasukan Niflheim nggak boleh nyerang bangsa Lucian lagi.
    Dengan adanya wacana perjanjian damai tersebut, maka pasukan Kingsglaive mengalami pengalihan tugas. Di dalam kubu Kingsglaive sendiri mengalami pro dan kontra atas perjanjian tersebut. Salah satu yang menolak perjanjian itu adalah Libertus.
    Nah, singkat cerita, perjanjian damai itu akan dilaksanakan. Nah pas H-1 penandatanganan pakta damai, komandan Kingsglaive, Titus Drautos memerintahkan Crowe untuk menjemput Lunafreya yang rencananya akan dinikahkan dengan Noctis. Tapi, dalam perjalanan, Crowe diserang dan dibunuh. Kematian Crowe inilah yang menyebabkan Libertus naik pitam dan memutuskan untuk berkhianat. Doi bergabung dengan kelompok pemberontak yang katanya tidak setuju dengan perjanjian damai. Sementara Nyx Ulric bertugas untuk mengawal Lunafreya, menggantikan Crowe.
    Pada hari penandatanganan perjanjian, tiba-tiba Lunafreya menghilang. Nyx berhasil menemukan petunjuk dari barang-barang peninggalan Crowe yang ternyata adalah alat pelacak. Dengan bantuan alat itu, Nyx bisa tahu keberadaan Luna. Lalu, dengan sigap Nyx melapor pada King Regis dan meminta untuk mengaktifkan kembali pasukan Kingsglaive. Tindakan yang cukup masuk akal, karena doi nggak tahu itu semua hanya jebakan. Alhasil, King Regis menyetujui permintaan Nyx karena sebenarnya sejak awal dia tidak percaya pada Iedolas Aldercapt.
    Jadi, pada saat proses penandatanganan berlangsung, Nyx dan pasukan Kingsglaive lainnya mencari Luna. Cerita terbagi menjadi dua fokus. Satu alur menceritakan proses perjanjian damai dan satu alur lainnya menceritakan proses pembebasan Luna.
    Singkat cerita, (perasaan dari tadi singkat mulu tapi nggak beres-beres), proses penandatanganan perjanjian batal dan Luna berhasil dibebaskan. Taapiiiiii, penyekapan Luna hanya sebuah jebakan. Jadi Niflheim sengaja mancing Kingsglaive keluar biar King Regis lemah penjagaan. Jadi pasukan Kingsglaive (baik hati) yang tersisa hanya Nyx Ulric. Saya sebut baik hati karena beberapa anggota Kingsglaive lainnya adalah pengkhianat. Nyx membawa pulang Luna ke Insomnia. Nah, di aula kerajaan tempat penandatanganan berlangsung, hanya tersisa king Regis, Ravus dan general Glaucon. Saat mereka berantem, cincin Lucii yang menjadi sumber kekuatan bangsa Lucian terjatuh, kemudian Ravus memungutnya (ceilah resmi amat bahasa gue). Ravus pikir cincin itu bisa menghibahkan kekuatannya pada siapa pun yang memakainya. O o o tenang saja kawan, cincin itu nggak sembarangan ngasih kekuatan super hebatnya. Hanya orang-orang yang layak yang bisa mewarisi kekuatan cincin Lucii. Akhirnya, tubuh Ravus terbakar saat mengenakan cincin itu. Saat mendapatkan cincinnya lagi, King Regis mengajak Luna dan Nyx ke ruangan persembunyian untuk menghindari General Glaucon.
    Nah, di bagian ini yang bikin saya rada bete sebenernya. Orang King Regis udah dengan susah payah menggunakan kekuatan terakhirnya buat bikin dinding pelindung biar Nyx dan Luna bisa kabur dan menemui Noctis, eh lah ini berdua malah bengong ngeliatin King Regis dibunuh sama General Glaucon. Mana Nyx responnya telat banget pula. Setelah king Regis mati, jeda beberapa detik dulu baru Nyx sok sokan mau maju dan menghabisi General Glaucon. Yaelah aturan mah kalo mau berontak teh dari tadi, sebelum rajanya ditusuk gitu biar bisa selamat. Untungnya untuk sekali ini Luna berpikiran rasional. Dia ngajak Nyx pergi sebelum terlambat. Ehhmmm...udah terlambat sih sebenernya. Kan Glaucon udah liat mereka di sana. Rada ogeb sih memang. Kalo mau kabur tanpa ketahuan mah sebelum Glaucon dateng, pas si rajanya nyuruh pergi kalian langsung pergi aja gitu kan jadi Glaucon nggak tau kalian pergi ke mana. Tapi yah, kalo gitu mah nanti filmnya nggak lanjut yah?
    Oke, jadi Nyx dan Luna kabur ke kota lain, tapi mereka tetep dikejar sama pasukan Niflheim. Teruusss, sampai akhirnya mereka terpojok dan bertemu dengan salah satu anggota Kingsglaive yang berkhianat (lupa namanya. siapa suruh bukan tokoh utama, haha). Sementara itu, di sisi lain Insomnia, Libertus baru saja mengetahui bahwa kelompok pemberontak yang diikutinya ternyata adalah pendukung Niflheim. Nah, balik lagi ke Nyx dan Luna. Jadi, si musuh yang saya lupa namanya itu, merebut cincin Lucii dari Luna. Yah, awalnya doi nggak tau kenapa orang-orang pada ribut pengen cincin Lucii itu. Terus si Luna mengungkapkan keutamaan cincin Lucii itu. Jadi si I-don't-know-who ini tergoda untuk memakainya. Terus, you-know-what kan? Setelah cincin itu terpasang manis di jarinya, si orang itu terbakar. Nyx yang sudah terluka akibat berkelahi sebelumnya, hanya melihat pemandangan itu dari bawah. Terus, tiba-tiba Titus Drautos datang. FYI, si Drautos ini kaptennya Kingsglaive. Yeah, Nyx mengharapkan pertolongan dari doi. Lalu, tidak lama, Libertus datang. Nyx yang tau Libertus sudah bergabung dengan kelompok pemberontak nggak berharap terlalu banyak darinya. But, yeah, Libertus is actually a good guy. He was just angry for his lost. So, Libertus melemparkan senjatanya ke arah Drautos, dan you know what? Seketika Drautos berubah jadi General Glaucon. Well, what a twist?? I don't even realize that. I mean, I did have a feeling that Drautos was a bad guy, but General Glaucon? So, he lied all along? Pura-pura memimpin Kingsglaive dan meilndungi King Regis padahal sedang menyusun jebakan dari dalam? 
    Nah, dengan kekuatan seadanya dan tanpa sihir, Nyx mencoba tetap melawan Glaucon. Saat kritis seperti itu, Luna berniat memakai cincin Lucii, mengandalkan peluang yang entah seberapa besar bahwa mungkin dialah orang yang layak mewarisi kekuatan cincin Lucii itu. Tapi....Nyx merebut cincin itu dan dengan santainya bilang, "Apa tidak ada yang memberitahumu? Aku pahlawan di sini."
    Nyx memakai cincin Lucii itu. Nah, sebenarnya prosesnya hampir sama dengan dua orang sebelumnya, tapi karena Nyx ini tokoh utama, jadi yah adegan "wawancara" sama para leluhur Lucian dibikin agak lama. Jadi ada semacam tawar menawar yang berlangsung. Intinya para leluhur Lucian menilai Nyx pantas atau nggak mendapatkan kekuatan itu. Lalu King Regis yang memberi sedikit rekomendasi bahwa Nyx pantas untuk mendapatkannya. Awalnya Nyx sempat akan terbakar juga karena omongannya yang agak blagu. Tapi setelah menjawab tulus dari hati, para leluhur Lucian memutuskan untuk memberi Nyx sedikit bantuan kekuatan. Nyx akan mendapatkan kekuatan itu tapi hanya sampai matahari terbit (mirip-mirip Cinderella yah). 
    Dengan kekuatan baru dan waktu terbatas, Nyx berusaha melawan Glaucon sementara Luna dan Libertus meneruskan perjalanan menemui Noctis.
    Okay, this is almost end....jadi si Nyx bertarung melawan Glaucon sementara Libertus berusaha melindungi Luna sampai ke tempat tujuan. Saat fajar menyingsing (film action tetep harus ada sisi puitisnya) Nyx akhirnya berhasil menumbangkan Glaucon dan antek-anteknya, bersamaan dengan tubuhnya yang mulai terkikis. Sementara Luna memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya sendiri, karena sosok Libertus yang mantan Kingsglaive bisa menarik perhatian banyak orang. Yang bikin saya sedih adalah kata-kata Libertus pas lihat Nyx berusaha menjatuhkan Glaucon, "Bertahanlah, pahlawan." dan kata-kata terakhirnya saat membiarkan Luna pergi, "Kami akan menunggumu. Aku dan Nyx." Libertus kelihatan tulus banget ngomongnya dan polos. Dia sama sekali nggak tahu kalau Nyx akan sudah hancur saat fajar tiba. Saya jadi baper sendiri ngebayangin Libertus sangat berharap akan bertemu Nyx saat kembali, terus eh ternyata Nyx udah nggak ada :( :( :( :( :(
    Yah, di situlah akhir filmnya. Mungkin akan ada sequel dari film ini. Karena belum ada kelanjutan apakah Luna berhasil menemui Noctis. Dan lagi Iedolas Aldercapt berhasil kembali ke Niflheim bersama kristal keramat yang ada di Insomnia. Jadi, yah, semoga saja ada kelanjutannya. Karena setahu saya Series Final Fantasy itu ada banyak banget. Tapi pasti tokoh utamanya bukan Nyx Ulric lagi deh :(
    Yaudahlah yah, daripada malah curhat sampai nangis-nangis, mending kita udahan dulu. I hope you enjoy this. Bye bye :)




  3. UNFINISHED BUSINESS IN BvS?

    Saturday, March 26, 2016

    Saya mau nge-review nih. Akhirnya setelah sekian lama, ada juga sesuatu yang layak untuk direview, hahaha. 

    Dari judulnya sih harusnya udah tahu yah saya mau ngereview tentang apa. Tapi, kalau ada yang belum tahu, yaudah saya kasih tahu aja, kasihan anak orang. Jadi, saya berencana mereview film Batman vs Superman (BvS) yang semalam saya tonton. Tapi sebelumnya, saya ingatkan kalau ini bukan situs reviewer resmi, jadi kalau ada omongan yang ngawur harap tidak tersungging. Kan ini blog saya, hahahaa, jadi ya saya cuma mau mengemukakan pendapat saya secara bebas dan tanpa ada dusta di antara kita. 


    Pertama-tama, saya ingin memberitahukan kalau saya bukan fanatik komik, baik DC maupun Marvels. Jadi, saya ini murni penikmat film. Saya nggak akan tahu kalau film-film itu ceritanya nyambung atau nggak dari komik episode berapa dan sebagainya dan sebagainya. Jadi, saya hanya akan mengungkapkan pendapat saya sesuai dengan apa yang saya pikirkan dan saya tahu *makannya sering sotoy* hahahaha


    Pertama kali lihat teasernya, saya langsung mikir, "Yaelah bro, lu ngapain dah pake berantem, orang satu perusahaan juga." Tapi yah, orang maunya begitu yaudah. Saya sih sebenernya ngikut euforia masyarakat aja nonton ini. Awalnya saya kurang tertarik karena pemeran Bruce Wayne diganti. Setuju atau nggak, saya jatuh cinta sama karakter Bruce Wayne ini gegara Christian Bale yang meranin. Nah, begitu tahu kalau pemerannya diganti Ben Affleck, semangat saya sedikit surut.

    Film ini diawali dengan masa lalu Bruce yang melihat kedua orang tuanya ditembak bla bla bla. Kilas balik ini kayaknya semua orang udah tahu persis gimana detailnya, sama kayak kejadian Uncle Ben ditembak perampok pas nyusulin Spiderman, yah adegan ini juga jadi sangat "khas" untuk film Batman. Seolah ingin membawa penonton ke dalam suasana kelam dan penuh duka biar dapet feel nya sebagai Batman.

    Lalu, scene berikutnya adalah kejadian saat Superman bertarung melawan Jenderal Zod. Kejadiannya itu kan di Metropolis (katanya). Nah, si Bruce ini ternyata punya perusahaan di sono. Respon saya saat itu adalah, "Giling! Baru tahu gue si Batman punya perusahaan di luar Gotham." Karena, seperti yang sudah saya bilang bahwa saya bukan seorang fanatik komik yang tahu segala hal di luar film yang sedang saya tonton, mindset saya tentang Batman adalah Gotham city. Dan saya pikir Gotham adalah sebuah universe yang diciptakan khusus untuk Batman yang letaknya berada entah-di-mana-pokoknya-bukan-Amerika. Nah pas lihat si Bruce ternyata ada di Metropolis terasa cukup janggal buat saya.


    Lalu muncullah Lex Luthor!!! Salah satu alasan saya nonton BvS adalah tokoh yang satu ini. Saya selalu suka akting Jesse Eissenberg (oke ini subjektif). Tapi yah, kan nggak ada salahnya buat pemicu keinginan nonton yah. Saya pertama kali mengenal karakter Lex Luthor *ceilah, sok kenal amat lu* adalah di series Smallville. Yup, sinetron tentang Superman. Nah, yang identik dari karakter Lex Luthor adalah botak, man! Dan ternyata si Lex di BvS ini gondrong, hahahaha. Dan karakternya pun berbeda jauh dengan karakter Lex di series Smallville itu. Tapi, saya menikmati akting Jesse sebagai Lex. Dapet banget jahatnya. Scene yang membuat saya merinding adalah saat Lex ngobrol dengan Senator Finch di kamar bapaknya. Omongannya simpel sebenernya, tapi mungkin karena efek musiknya jadi bikin merinding disko. 

    (Itu lukisannya yang ada di belakang si Lex)

    "Menurutmu Ayah tidak akan keberatan jika aku mengubah satu hal di kamar ini? Lukisan itu terbalik, kan? Karena sekarang kita tahu iblis tidak datang dari neraka di bawah kita. mereka datang dari langit." (maksudnya si Superman)


    Protes saya selanjutnya adalah tentang armor si Batman. What happened with your cool suit, bro? Yaaa, emang sih mau melawan manusia super yang kekuatannya sekelas dewa. Tapi kok jadi aneh begitu yak, hahahaha. Tapi yasudahlah, masih ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab dalam film ini (versi saya).

    Daripada saya kebanyakan ngoceh nggak jelas, jadi lebih baik saya buat daftar pertanyaan saya yah, hahahaha.

    1) Sejak kapan Gotham jadi kota sepi?

    2) Kenapa si Bruce sering mengalami mimpi-mimpi aneh?

    3) Kenapa doi mimpi ada monster keluar dari makam ibunya?

    4) Orang yang di mimpi doi yang menyebut nama Lois Lane itu siapa? Dan kenapa?

    5) Kenapa Lex benci banget sama Superman? Apa karena dia peduli sama nyawa orang-orang yang meninggal? Berarti dia baik dong? Atau dia cuma iseng? 

    6) Waktu Lex masuk ke kriptonian ship itu, suara cewek yang ngebimbing dia itu suara dari kapalnya? Kok ngomongnya pake bahasa inggris? (yaiyalah, kalo pake bahasa binatang nggak akan ada yang ngerti) Maksudnya, kenapa suara si mba mba itu lebih terasa seperti si Lex sedang mengunjungi sebuah museum modern terus ada suara guide nya dari speaker? Suaranya terlalu modern dan tertata rapih untuk ukuran guide dari planet lain

    7) Kenapa Lex kepikiran buat membangkitkan kembali Jenderal Zod? Oh bukan ding, monster? Kenapa jasad Jenderal Zod yang dikasih darah Lex bisa jadi monster kuno bangsa kriptonian?

    8) Kenapa ada si wonder woman?

    9) Kenapa si Batman langsung ngalah gitu aja setelah denger nama Martha? Well, I know that Martha itu nama emaknya. Tapi rasanya doesn't make sense, cuma gegara mendengar nama itu terus dia langsung melupakan hasratnya yang begitu menggebu-gebu untuk menyelamatkan kehidupan manusia di masa depan? That simple? Atau dari awal tujuan si Batman ini memang cuma pengen lihat si Superman berdarah doang? Penyelesaian ini yang membuat saya berpikir, "Anti klimaks amat ini? Gitu doang?"

    10) Kenapa Superman pas kena bom nuklir jadi peot?

    11) Kenapa Lois Lane harus ngeselin banget pake acara ngebuang tombaknya tarus ketahan di bawah puing-puing? (oke, yang ini pertanyaan subjektif aja karena rata-rata love interest superhero itu ngeselin. Nggak bisa apa-apa tapi sok kuat.)

    Fiuhhh, ternyata cukup panjang yah daftar pertanyaannya. Jadi selama dua setengah jam semalem saya nonton apa yah? hahahaha. I watched everything yet I don't know anything. Jadi mungkin, sebenarnya ini bukan sebuah review. Ini adalah postingan tentang daftar pertanyaan saya yang menyamar sebagai sebuah review biar banyak yang baca, hahahaha. 

    Yah, sekian dulu lah daripada makin ngawur. Semoga ada orang-orang berhati baik yang lagi blog walking terus membaca daftar pertanyaan saya dan mau berbaik hati untuk menjawabnya. Saya akan sangat berterima kasih. See ya!

    Ini kira-kira siapa yang keenakan? hahahaha. Hush! Banyak anak kecil :D *peace*


  4. GADIS PENGGAMBAR AWAN

    Friday, March 18, 2016

    Terinspirasi oleh salah salah satu tulisan M Aan Mansyur



    Aku sama sekali tidak memikirkannya sampai hari ini, saat gadis itu mengatakannya dengan begitu santai seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah diketahui seluruh umat manusia. Yah, mungkin seharusnya pun aku tahu, hanya saja otakku yang sedikit tumpul ini malas untuk memikirkan kebenaran pernyataan itu. Bentuk awan tidak pernah sama setiap detiknya.

    Kau pernah memikirkannya? Jika tidak, kita berada di kubu yang sama. Sekarang, aku sedang menatap gadis bertubuh mungil yang sedang sibuk menggoreskan pensil HB nya di atas sebuah sketch book ukuran A4. Hal pertama yang menarik perhatianku untuk duduk di samping gadis itu saat ini sebenarnya bukanlah kegiatan menggambarnya, tapi kupluk rajut warna pelangi yang menutupi rambut pirangnya. Ya, aku tidak salah, rambutnya benar-benar pirang seperti Barbie. Aku tahu itu bukan warna asli karena wajah gadis itu sangat Indonesia, tapi anehnya, warna itu pun tidak terlihat aneh. Seolah gadis itu sudah mempertimbangkan jutaan warna sebelum akhirnya memilih warna blonde untuk membingkai wajah mungilnya.

    “Kau tahu, Om, aku sudah menggambar 255 bentuk awan selama sebulan ini.”

    Baru kali ini aku tidak tersinggung dipanggil “om” oleh seorang gadis yang aku yakin umurnya tidak berbeda jauh denganku. Mungkin kisaran dua puluh tahun. Atau mungkin, otakku sedang terlalu sibuk memerhatikan goresan-goresan lembut di sketch book gadis itu sampai lupa memproses sinyal tersinggung yang dikirimkan telingaku?

    “Benarkah?” Hanya itu satu kata yang berhasil dibentuk oleh otakku sebagai respon. Menurutku, itu jauh lebih baik dibanding sekadar “hemm”.

    Aku mendongak untuk memastikan ketepatan gambar gadis itu. Seperti sebuah permainan untuk menemukan lima perbedaan pada gambar yang sama. Gambar gadis itu jauh berbeda.

    “Gumpalan itu tidak ada.” Aku menunjuk segumpalan awan di sudut kanan atas buku gambarnya.
    Gadis itu menghela napas kemudian mendongak untuk menatapku seolah aku ini orang paling tolol yang pernah dia temui selama hidupnya.

    “Bukankah sudah kubilang? Bentuk awan berubah setiap detiknya, Om.” Sebutan itu lagi, aku masih belum tersinggung. Mungkin mata bulatnya yang hitam pekat yang membuatku bungkam. “Ini bentuk awan dua jam yang lalu.” katanya sambil menunjuk-nunjuk gambar awannya. “Aku mengingat bentuk awan paling unik dan menggambarnya.”

    “Ah.” Aku mengutuki kemampuanku menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini. “Bagaimana aku tahu kau tidak bohong?” Ah, akhirnya. Sebuah pertanyaan cerdas. Terdengar skeptis, tapi cerdas.

    Gadis itu mengambil kamera hitam di sampingnya. Dari mana munculnya kamera itu? Aku tidak melihatnya sejak tadi. Gadis itu menekan beberapa tombol kemudian menunjukkan foto langit kepadaku. Bentuk awannya sama persis dengan sketsanya. Jangan berharap gambarnya hanya berupa gumpalan-gumpalan tidak jelas. Bayangkan saja foto langit berawan dalam moda warna hitam putih. Arsiran kelabu tipis sebagai gumpalan awan dan warna putih bersih sebagai langitnya. Indah.

    Aku mengangguk, malas berdebat dengan orang asing. Aku ingin memanfaatkan sisa waktu istirahat makan siangku untuk menikmati keindahan gambarnya, bukan berdebat dengan si penggambarnya. “Kau seniman, ya?” tanyaku spontan.

    Gadis itu menggeleng. Bibir mungilnya membentuk senyuman tipis. “Gambarku sebelum ini sangat jelek, Om. Seperti benang kusut. Latihan membuat gambarku jadi lebih baik.”

    Aku mengangguk lagi. Itu nasehat yang sangat umum. Ibu sangat sering mengatakan kalimat yang persis sama setiap kali aku hampir menyerah hampir dalam segala hal. Aku sangat mudah menyerah. Seringnya, aku menyalahkan kecerdasanku yang minim.

    “Kau pernah menggambar objek selain awan?” tanyaku lagi.

    Gadis itu membubuhkan sentuhan terakhir pada gambarnya. Dua huruf “AT” yang ditulis dengan huruf tegak bersambung. Mungkin itu inisial namanya. Sial, sekarang aku penasaran siapa nama gadis asing ini.

    “Tidak. Objek lain tidak pernah otentik. Tidak bisa aku jadikan acuan.”

    “Acuan?”

    Gadis itu mengangguk, kemudian tersenyum lagi. Oh, sial, sekarang aku mulai berpikir senyumannya sangat manis.

    “Acuan berapa lama Tuhan masih mengizinkanku melihat.” Suara gadis itu terdengar seringan bulu.
    Kali ini otakku bekerja cukup cepat, menghentikan detak jantungku selama sepersekian detik, yang membuat kekacauan di jalur utama aliran darahku. Hasilnya, aku merasa luar biasa gugup saat mendengarnya. Apa maksudnya itu?

    Gadis itu menunjuk pelipisnya dengan jari telunjuk yang lentik. Aku baru memerhatikan kuku jarinya yang dicat dengan warna berbeda di setiap jarinya. Di jari telunjuk, dia memilih warna kuning terang.
    “Aku punya teman alien di sini.” katanya hampir berbisik, seolah apa yang akan dikatakannya adalah sebuah rahasia yang tidak boleh didengar siapa pun selain aku. Secara refleks aku mendekat untuk mendengar rahasianya. “Sekarang alien itu masih anak-anak. Tapi para dokter bilang, alien itu sangat menyukaiku jadi mereka tidak bisa memisahkannya dariku. Seiring dengan pertumbuhanku, alien itu ikut tumbuh. Saat alien itu bertambah besar nanti, dia akan memakan penglihatanku.”

    Gadis itu menegakkan tubuhnya, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang berusaha terlihat dewasa. Atau, dia memang tidak setua perkiraanku?

    “Aku tidak keberatan. Masalahnya, aku tidak tahu kapan alien itu akan memakan penglihatanku. Jadi, aku menggambar awan. Aku sudah menggambar 256 bentuk awan. Jika nanti aku berpikir untuk mengeluh, aku akan meminta ibu memberitahuku berapa banyak gambar awan yang berhasil kubuat. Dengan begitu, aku akan ingat berapa lama Tuhan mengizinkanku melihat keindahan ciptaannya. Jadi, aku tidak boleh mengeluh kan, Om?” Gadis itu menatapku. Matanya memancarkan ketulusan seorang bocah yang ingin dikuatkan.

    Aku mengangguk cepat. Kali ini otakku sedang bersahabat. Aku tidak butuh waktu lama untuk menyetujui pemikiran gadis itu. Aku masih tidak mengatakan apa pun sampai terdengar bunyi beep beep cukup nyaring. Gadis itu melirik jam tangan digitalnya sekilas, kemudian merapikan barang-barangnya.

    “Saatnya minum obat. Aku harus kembali sebelum ibu mengomel.” katanya buru-buru. “Sampai ketemu lagi, Om.” Gadis itu masih saja memamerkan senyumnya. “Jangan lupa bersyukur, Om.” teriaknya seraya berlari menjauhiku.

    Sepeninggalnya, aku mendongak dan menatap langit. Bentuk awannya sudah berubah lagi. Gadis itu benar, aku lupa bersyukur hari ini. Aku masih bisa melihat bentuk awan yang berbeda hari ini.
    ***


  5. Jeng jeng jeng...hoaaahmmmm...udah berapa abad yah saya nggak update blog? Maaf kalau agak kumuh, saya "lumayan" sibuk beberapa bulan ini.

    Jadi, salah satu kesibukan saya akhir-akhir ini adalah jalaaan jaaalaaaaan. 

    Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 13 Maret 2016 *ceilah, resmi amat kayak baca surat undangan* saya dan teman-teman pergi ke Dunia Fantasi atau DUFAN to DO FUN! Yeay! 

    Oh oh, sebelum saya bercerita lebih jauh, saya ingin kalian tahu satu hal, MJ ada di dalam rombongan kemarin. Yup, dia pasangan saya. Kalau kalian sempat baca postingan-postingan saya jaman baheula tentang dia, well, that's an unfinished story. And I don't know how to finish it since our story is happening right now. And it's getting better though, hahahaha. Oke, sudah cukup yah intermezo nya.

    Laanjuuuuut....
    Jadi, singkat kata singkat cerita, kami pergi ber enam: saya, MJ, Musa, mba Cintia, mba Dellia dan Cecep merantau ke Dufan untuk refreshing. Rencana awal kami akan berangkat jam 8 pagi. Well, you know lah jam 8 WIB (Waktu Insya allah Berubah), akhirnya kami berangkat jam setengah 10.

    Nah, sebelumnya masing-masing dari kami (kecuali MJ) udah lebih dulu ngeborong produk-produk Sosro biar dapet promo tiket heboh, hahahaha, lumayan juga harga tiketnya jadi setengah harga.

    Nah, udah yah nggak usah kelamaan ngebahas tiket. langsung masuk aja deh. 
    Wahana pertama yang kami kunjungi adalah HISTERIA. Yup, bukan cuma namanya, jantung saya pun ikut histeris melihatnya.
    Lihat itu? Lihat itu kan anak-anak? Betapa bahayanya permainan itu untuk jantung saya yang pemalu ini. Jadi kami berenam ikut antri. Awalnya sih biasa-biasa aja, tapi makin dekat makin ragu untuk melangkah *etdah puitis amat mau naik histeria doang*. Tapi, MJ meyakinkan saya kalau permainan itu menyenangkan. 
    "Cuma sebentar" dia bilang. Iya, jatoh dari ketinggian itu juga cuma sebentar *sisa hidupnya*
    Tapi, akhirnya saya naik juga. Saya duduk di samping MJ. Setelah sibuk komat-kamit selama detik-detik menuju peluncuran roket, akhirnya wahana berbahaya itu mulai bergerak juga. Wah, nggak usah ditanya rasanya kayak apa. Saya teriak sekenceng-kencengnya. Jantung saya berasa ketinggalan di atas dan lupa jalan pulang ke tempatnya. Tapi yaudah, gitu aja. Kaki saya gemeteran sebentar, terus setelah MJ gandeng tangan saya, rasanya biasa lagi. Seumur-umur ke Dufan belum pernah saya naik begituan. Paling banter cuma Niagara gara, habis itu juga nggak mau naik apa-apa lagi saking takutnya. Nah ini, kok rasanya beda yah?
    Wahana kedua adalah Ontang-anting. Kata MJ ini permainan buat pemanasan. Gelo, aturan mah pemanasan di awal. Orang udah dilempar-lempar sampe angkasa gitu malah baru diajak pemanasan. Tadinya imajinasi saya yang spektakuler ini sudah berulah. Gimana kalau talinya lepas? Gimana kalau nanti kelempar jauh? Eh tapi tapi tapi, pas naik, ternyata enak. Dan hebatnya, saya nggak tutup mata! Permainan ini super asik. Tetep ngeri sih, tapi karena gerakannya konstan dan pelan, jadi saya bisa mengatur tingkat ketakutan saya. This is the best game ever!
    Saya bener-bener berpikir untuk mundur waktu lihat keretanya diputer-puter nggak jelas begitu. Jadi keinget film Final Destination nggak sih? Tapi, lagi-lagi MJ cuma genggam tangan saya dan bilang, "cuma sebentar". kalau jantung saya punya kaki sendiri, saya yakin doi udah kabur duluan. Tapi untungnya nggak. Jadi, saat saya memutuskan untuk nggak jadi anak cemen, jantung saya terpaksa tetap tenang di tempatnya. Giliran kami tiba. Dari pertama kali duduk, saya nggak bisa lepas tangan MJ. Bahkan saat keretanya perlahan mulai jalan, genggaman saya makin kenceng. Trik saya untuk menghadapi kejamnya wahana nggak masuk akal ini tetep sama, saya tutup mata dan berdoa. Dan saya teriak sekenceng-kencengnya. Dan akhirnya...selesai. That's it. Tangan MJ sampai merah gegara saya genggam kuat-kuat. But, I did it! And I'm alive!
    Berhubung kemarin itu Jakarta lagi cerah-cerahnya, jadi kami memutuskan untuk "sedikit" bermain air. Hemmm...saya pikir yang dimaksud dengan sedikit itu cuma kecipratan sedikit-sedikit aja. Ternyata.....saya basah kuyup. Mungkin salah posisi duduk juga sih. Soalnya, MJ masa kering banget? Cuma kaosnya yang sedikit kecipratan. Jadi saya langsung peluk dia biar ketularan basah, muahahahahahaha *ketawa jahat banget* dan menurut saya, ini permainan yang paling merugikan. Gegara permainan ini sepatu saya jadi basah dan dengan terpaksa saya beli sendal jepit Dufan yang harganya 60 rebu! God, please. Makan siang saya aja nggak sampai semahal itu :'(

    Selanjutnya, dengan misi mengeringkan baju, kami naik wahana Rajawali. MJ bilang wahana ini nggak akan menakutkan. Well, nggak terlalu sih memang. Untungnya si Rajawali ini nggak berputar terlalu cepat, hanya semakin tinggi. So, I imagined that Vatra took me fly. Dan di atas itu panas banget gais. Baju saya sampai kering, hahaha. Mission completed!
    Tadinya mau masuk ice age, ternyata masuknya malah ke wahana perang bintang yang zonk abis. Saya pikir bakal ada sebentuk makhluk yang tetiba nongol terus kita tembakin atau gimana, ternyata nggak. Kita disuruh "literally" tembak-tembakan doang. Sedikit mengecewakan sih.
    Perkenalkan, ini wahana Ombang-ambing. Kalau di kampung saya, permainan ini cuma ada di pasar malam, namanya ombak banyu. Dan saya menyepelekan permainan ini. Saya pikir permainan ini nggak akan ngeri-ngeri amat. Ternyataa...terombang-ambing itu mengerikan yah? Makannya, segera minta kepastian, biar nggak terombang-ambing *eh, baper kan*. Jadi, si MJ duduk di sisi pintu. Kalau kalian tahu, arah putarannya akan cenderung miring ke arah pintu. Jadilah saya berusaha sekuat tenaga biar MJ nggak kegencet, hahaha. Untungnya nggak jadi MJ penyet yah.
    Hemm...masih belum cukup mual? Akhirnya kami naik pontang-panting. Lagi, saya menyepelekan permainan ini. Saya pikir, ah elah diputer-puter doang. Yang saya tidak tahu adalah, diputer-puternya dengan kecepatan tinggi sampai "kayak" hampir tabrakan satu sama lain. Awalnya enak, pelan, sepoi-sepoi, eh lama-lama kok makin nggak santai banget muternya. Mau nggak mau deg-degan juga sih, tapi seru. Untungnya wahana ini nggak melibatkan variabel ketinggian. Fiuhh...

    Kami lanjut makan siang menjelang sore, sekalian istirahat. Setelah makan, saya dan mba Dellia memutuskan untuk nonton festival Treasure Temple and Fire. Wow! Efek api dan airnya membuat saya terkesima. Well, ceritanya tipikal cerita film anak-anak sih, tapi lumayan juga buat hiburan. Sementara saya dan mba Dellia nonton festival, yang lain main wahana kicir-kicir. Saya nggak sanggup untuk memaksakan jantung saya. Jadi, saya minta MJ main sendiri aja kali ini, sama Musa dan mba Cintia. Tapi, eh, ternyata MJ nggak mau main kalau saya nggak ikutan main. Yaudah, doi jadi nggak main deh :(

    Selanjutnya, bersantai di Istana boneka. Imajinasi saya berulah lagi. Aduh, plis lah itu kan wahana anak-anak, nggak mungkin ngeri. Iya, memang nggak melibatkan ketinggian dan kecepatan sih, TAPI ITU DI DALEM BONEKA SEMUA, MAN! Coba bayangin kalau mereka semua adalah saudara Annabelle atau Chucky! Semua yang masuk nggak akan keluar lagi *pake suara horor* tapi yah, lumayan seru sih buat santai.
    Ini rumah yang isinya kaca-kaca gitu terus kita harus berusaha mencari jalan keluar. Waktu jaman kecil dulu ke rumah ini berasa susaaaah banget keluarnya. Ada lah acara nyasar dulu ke mana. Tapi kemarin berasa yang gampang. Sempet beberapa kali ketipu sama pintu exitnya sih, tapi ternyata keluarnya nggak sesusah dulu.
    Ayooo belajar jadi Vin Diesel!!!! Boom boom boom!! Baru di sini lah saya bawa mobil sendiri. Dan yang lain kayaknya berkomplot banget. Tiap lihat saya langsung ditabrak sana-sini. Tapi seru lah ini, sampai keringetan, hahaha. Jadi mau lagi dan lagi.
    Ini namanya rumah miring. Rumahnya nggak gede-gede amat. Tantangannya cuma disuruh melewati rumah yang lantainya miring. Tapi ya itu, karena lantainya miring dan rumahnya goyang-goyang, jadi butuh effort lebih besar untuk melaluinya. Jadi berasa habis fitnes begitu keluar, keringetan semua.
    Back to the childhood! Saya lupa jaman bocah dulu pernah naik ginian atau nggak. Tapi, saya rasa, permainan ini nggak akan pernah membuat bosan. Rasanya menyenangkan bisa duduk santai di atas kuda-kudaan, menikmati angin sepoi-sepoi dan alunan musik malam itu *cieeeh, tanda-tanda gombal*

    Kemarin ditutup dengan wahana Bianglala. Menikmati kerlip lampu kota Jakarta dari atas. Bagus, iya. Tapi karena kapsulnya nggak tertutup, tetep aja berasa ngeri. Karena dasarnya saya takut tinggi, jadi apa pun yang menempatkan saya di ketinggian, akan membuat saya takut. Apalagi pas kapsulnya berhenti di atas. Indah, enak, tapi saya ngeri. Tangan saya sampai berkeringat. Saya sih pura-pura tegar aja duduk di kapsul yang diam di ketinggian entah berapa puluh meter itu. 

    Jadi, kalau dirangkum, hari saya menyenangkan. Terima kasih untuk teman-teman. Dan kamu, MJ, terima kasih sudah selalu siap jadi korban genggaman tangan saya setiap saat :D