-
UNFINISHED BUSINESS IN BvS?
Saturday, March 26, 2016
Saya mau nge-review nih. Akhirnya setelah sekian lama, ada juga sesuatu yang layak untuk direview, hahaha.Dari judulnya sih harusnya udah tahu yah saya mau ngereview tentang apa. Tapi, kalau ada yang belum tahu, yaudah saya kasih tahu aja, kasihan anak orang. Jadi, saya berencana mereview film Batman vs Superman (BvS) yang semalam saya tonton. Tapi sebelumnya, saya ingatkan kalau ini bukan situs reviewer resmi, jadi kalau ada omongan yang ngawur harap tidak tersungging. Kan ini blog saya, hahahaa, jadi ya saya cuma mau mengemukakan pendapat saya secara bebas dan tanpa ada dusta di antara kita.Pertama-tama, saya ingin memberitahukan kalau saya bukan fanatik komik, baik DC maupun Marvels. Jadi, saya ini murni penikmat film. Saya nggak akan tahu kalau film-film itu ceritanya nyambung atau nggak dari komik episode berapa dan sebagainya dan sebagainya. Jadi, saya hanya akan mengungkapkan pendapat saya sesuai dengan apa yang saya pikirkan dan saya tahu *makannya sering sotoy* hahahahaPertama kali lihat teasernya, saya langsung mikir, "Yaelah bro, lu ngapain dah pake berantem, orang satu perusahaan juga." Tapi yah, orang maunya begitu yaudah. Saya sih sebenernya ngikut euforia masyarakat aja nonton ini. Awalnya saya kurang tertarik karena pemeran Bruce Wayne diganti. Setuju atau nggak, saya jatuh cinta sama karakter Bruce Wayne ini gegara Christian Bale yang meranin. Nah, begitu tahu kalau pemerannya diganti Ben Affleck, semangat saya sedikit surut.Film ini diawali dengan masa lalu Bruce yang melihat kedua orang tuanya ditembak bla bla bla. Kilas balik ini kayaknya semua orang udah tahu persis gimana detailnya, sama kayak kejadian Uncle Ben ditembak perampok pas nyusulin Spiderman, yah adegan ini juga jadi sangat "khas" untuk film Batman. Seolah ingin membawa penonton ke dalam suasana kelam dan penuh duka biar dapet feel nya sebagai Batman.Lalu, scene berikutnya adalah kejadian saat Superman bertarung melawan Jenderal Zod. Kejadiannya itu kan di Metropolis (katanya). Nah, si Bruce ini ternyata punya perusahaan di sono. Respon saya saat itu adalah, "Giling! Baru tahu gue si Batman punya perusahaan di luar Gotham." Karena, seperti yang sudah saya bilang bahwa saya bukan seorang fanatik komik yang tahu segala hal di luar film yang sedang saya tonton, mindset saya tentang Batman adalah Gotham city. Dan saya pikir Gotham adalah sebuah universe yang diciptakan khusus untuk Batman yang letaknya berada entah-di-mana-pokoknya-bukan-Amerika. Nah pas lihat si Bruce ternyata ada di Metropolis terasa cukup janggal buat saya.Lalu muncullah Lex Luthor!!! Salah satu alasan saya nonton BvS adalah tokoh yang satu ini. Saya selalu suka akting Jesse Eissenberg (oke ini subjektif). Tapi yah, kan nggak ada salahnya buat pemicu keinginan nonton yah. Saya pertama kali mengenal karakter Lex Luthor *ceilah, sok kenal amat lu* adalah di series Smallville. Yup, sinetron tentang Superman. Nah, yang identik dari karakter Lex Luthor adalah botak, man! Dan ternyata si Lex di BvS ini gondrong, hahahaha. Dan karakternya pun berbeda jauh dengan karakter Lex di series Smallville itu. Tapi, saya menikmati akting Jesse sebagai Lex. Dapet banget jahatnya. Scene yang membuat saya merinding adalah saat Lex ngobrol dengan Senator Finch di kamar bapaknya. Omongannya simpel sebenernya, tapi mungkin karena efek musiknya jadi bikin merinding disko.(Itu lukisannya yang ada di belakang si Lex)"Menurutmu Ayah tidak akan keberatan jika aku mengubah satu hal di kamar ini? Lukisan itu terbalik, kan? Karena sekarang kita tahu iblis tidak datang dari neraka di bawah kita. mereka datang dari langit." (maksudnya si Superman)Protes saya selanjutnya adalah tentang armor si Batman. What happened with your cool suit, bro? Yaaa, emang sih mau melawan manusia super yang kekuatannya sekelas dewa. Tapi kok jadi aneh begitu yak, hahahaha. Tapi yasudahlah, masih ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab dalam film ini (versi saya).Daripada saya kebanyakan ngoceh nggak jelas, jadi lebih baik saya buat daftar pertanyaan saya yah, hahahaha.1) Sejak kapan Gotham jadi kota sepi?2) Kenapa si Bruce sering mengalami mimpi-mimpi aneh?3) Kenapa doi mimpi ada monster keluar dari makam ibunya?4) Orang yang di mimpi doi yang menyebut nama Lois Lane itu siapa? Dan kenapa?5) Kenapa Lex benci banget sama Superman? Apa karena dia peduli sama nyawa orang-orang yang meninggal? Berarti dia baik dong? Atau dia cuma iseng?6) Waktu Lex masuk ke kriptonian ship itu, suara cewek yang ngebimbing dia itu suara dari kapalnya? Kok ngomongnya pake bahasa inggris? (yaiyalah, kalo pake bahasa binatang nggak akan ada yang ngerti) Maksudnya, kenapa suara si mba mba itu lebih terasa seperti si Lex sedang mengunjungi sebuah museum modern terus ada suara guide nya dari speaker? Suaranya terlalu modern dan tertata rapih untuk ukuran guide dari planet lain7) Kenapa Lex kepikiran buat membangkitkan kembali Jenderal Zod? Oh bukan ding, monster? Kenapa jasad Jenderal Zod yang dikasih darah Lex bisa jadi monster kuno bangsa kriptonian?8) Kenapa ada si wonder woman?9) Kenapa si Batman langsung ngalah gitu aja setelah denger nama Martha? Well, I know that Martha itu nama emaknya. Tapi rasanya doesn't make sense, cuma gegara mendengar nama itu terus dia langsung melupakan hasratnya yang begitu menggebu-gebu untuk menyelamatkan kehidupan manusia di masa depan? That simple? Atau dari awal tujuan si Batman ini memang cuma pengen lihat si Superman berdarah doang? Penyelesaian ini yang membuat saya berpikir, "Anti klimaks amat ini? Gitu doang?"10) Kenapa Superman pas kena bom nuklir jadi peot?11) Kenapa Lois Lane harus ngeselin banget pake acara ngebuang tombaknya tarus ketahan di bawah puing-puing? (oke, yang ini pertanyaan subjektif aja karena rata-rata love interest superhero itu ngeselin. Nggak bisa apa-apa tapi sok kuat.)Fiuhhh, ternyata cukup panjang yah daftar pertanyaannya. Jadi selama dua setengah jam semalem saya nonton apa yah? hahahaha. I watched everything yet I don't know anything. Jadi mungkin, sebenarnya ini bukan sebuah review. Ini adalah postingan tentang daftar pertanyaan saya yang menyamar sebagai sebuah review biar banyak yang baca, hahahaha.Yah, sekian dulu lah daripada makin ngawur. Semoga ada orang-orang berhati baik yang lagi blog walking terus membaca daftar pertanyaan saya dan mau berbaik hati untuk menjawabnya. Saya akan sangat berterima kasih. See ya!Ini kira-kira siapa yang keenakan? hahahaha. Hush! Banyak anak kecil :D *peace*Diposkan oleh Istiana Fadilah di Saturday, March 26, 2016 | Label: Iseng | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
GADIS PENGGAMBAR AWAN
Friday, March 18, 2016
Terinspirasi oleh salah salah satu tulisan M Aan MansyurAku sama sekali tidak memikirkannya sampai hari ini, saat gadis itu mengatakannya dengan begitu santai seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah diketahui seluruh umat manusia. Yah, mungkin seharusnya pun aku tahu, hanya saja otakku yang sedikit tumpul ini malas untuk memikirkan kebenaran pernyataan itu. Bentuk awan tidak pernah sama setiap detiknya.Kau pernah memikirkannya? Jika tidak, kita berada di kubu yang sama. Sekarang, aku sedang menatap gadis bertubuh mungil yang sedang sibuk menggoreskan pensil HB nya di atas sebuah sketch book ukuran A4. Hal pertama yang menarik perhatianku untuk duduk di samping gadis itu saat ini sebenarnya bukanlah kegiatan menggambarnya, tapi kupluk rajut warna pelangi yang menutupi rambut pirangnya. Ya, aku tidak salah, rambutnya benar-benar pirang seperti Barbie. Aku tahu itu bukan warna asli karena wajah gadis itu sangat Indonesia, tapi anehnya, warna itu pun tidak terlihat aneh. Seolah gadis itu sudah mempertimbangkan jutaan warna sebelum akhirnya memilih warna blonde untuk membingkai wajah mungilnya.“Kau tahu, Om, aku sudah menggambar 255 bentuk awan selama sebulan ini.”Baru kali ini aku tidak tersinggung dipanggil “om” oleh seorang gadis yang aku yakin umurnya tidak berbeda jauh denganku. Mungkin kisaran dua puluh tahun. Atau mungkin, otakku sedang terlalu sibuk memerhatikan goresan-goresan lembut di sketch book gadis itu sampai lupa memproses sinyal tersinggung yang dikirimkan telingaku?“Benarkah?” Hanya itu satu kata yang berhasil dibentuk oleh otakku sebagai respon. Menurutku, itu jauh lebih baik dibanding sekadar “hemm”.Aku mendongak untuk memastikan ketepatan gambar gadis itu. Seperti sebuah permainan untuk menemukan lima perbedaan pada gambar yang sama. Gambar gadis itu jauh berbeda.“Gumpalan itu tidak ada.” Aku menunjuk segumpalan awan di sudut kanan atas buku gambarnya.Gadis itu menghela napas kemudian mendongak untuk menatapku seolah aku ini orang paling tolol yang pernah dia temui selama hidupnya.“Bukankah sudah kubilang? Bentuk awan berubah setiap detiknya, Om.” Sebutan itu lagi, aku masih belum tersinggung. Mungkin mata bulatnya yang hitam pekat yang membuatku bungkam. “Ini bentuk awan dua jam yang lalu.” katanya sambil menunjuk-nunjuk gambar awannya. “Aku mengingat bentuk awan paling unik dan menggambarnya.”“Ah.” Aku mengutuki kemampuanku menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini. “Bagaimana aku tahu kau tidak bohong?” Ah, akhirnya. Sebuah pertanyaan cerdas. Terdengar skeptis, tapi cerdas.Gadis itu mengambil kamera hitam di sampingnya. Dari mana munculnya kamera itu? Aku tidak melihatnya sejak tadi. Gadis itu menekan beberapa tombol kemudian menunjukkan foto langit kepadaku. Bentuk awannya sama persis dengan sketsanya. Jangan berharap gambarnya hanya berupa gumpalan-gumpalan tidak jelas. Bayangkan saja foto langit berawan dalam moda warna hitam putih. Arsiran kelabu tipis sebagai gumpalan awan dan warna putih bersih sebagai langitnya. Indah.Aku mengangguk, malas berdebat dengan orang asing. Aku ingin memanfaatkan sisa waktu istirahat makan siangku untuk menikmati keindahan gambarnya, bukan berdebat dengan si penggambarnya. “Kau seniman, ya?” tanyaku spontan.Gadis itu menggeleng. Bibir mungilnya membentuk senyuman tipis. “Gambarku sebelum ini sangat jelek, Om. Seperti benang kusut. Latihan membuat gambarku jadi lebih baik.”Aku mengangguk lagi. Itu nasehat yang sangat umum. Ibu sangat sering mengatakan kalimat yang persis sama setiap kali aku hampir menyerah hampir dalam segala hal. Aku sangat mudah menyerah. Seringnya, aku menyalahkan kecerdasanku yang minim.“Kau pernah menggambar objek selain awan?” tanyaku lagi.Gadis itu membubuhkan sentuhan terakhir pada gambarnya. Dua huruf “AT” yang ditulis dengan huruf tegak bersambung. Mungkin itu inisial namanya. Sial, sekarang aku penasaran siapa nama gadis asing ini.“Tidak. Objek lain tidak pernah otentik. Tidak bisa aku jadikan acuan.”“Acuan?”Gadis itu mengangguk, kemudian tersenyum lagi. Oh, sial, sekarang aku mulai berpikir senyumannya sangat manis.“Acuan berapa lama Tuhan masih mengizinkanku melihat.” Suara gadis itu terdengar seringan bulu.Kali ini otakku bekerja cukup cepat, menghentikan detak jantungku selama sepersekian detik, yang membuat kekacauan di jalur utama aliran darahku. Hasilnya, aku merasa luar biasa gugup saat mendengarnya. Apa maksudnya itu?Gadis itu menunjuk pelipisnya dengan jari telunjuk yang lentik. Aku baru memerhatikan kuku jarinya yang dicat dengan warna berbeda di setiap jarinya. Di jari telunjuk, dia memilih warna kuning terang.“Aku punya teman alien di sini.” katanya hampir berbisik, seolah apa yang akan dikatakannya adalah sebuah rahasia yang tidak boleh didengar siapa pun selain aku. Secara refleks aku mendekat untuk mendengar rahasianya. “Sekarang alien itu masih anak-anak. Tapi para dokter bilang, alien itu sangat menyukaiku jadi mereka tidak bisa memisahkannya dariku. Seiring dengan pertumbuhanku, alien itu ikut tumbuh. Saat alien itu bertambah besar nanti, dia akan memakan penglihatanku.”Gadis itu menegakkan tubuhnya, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang berusaha terlihat dewasa. Atau, dia memang tidak setua perkiraanku?“Aku tidak keberatan. Masalahnya, aku tidak tahu kapan alien itu akan memakan penglihatanku. Jadi, aku menggambar awan. Aku sudah menggambar 256 bentuk awan. Jika nanti aku berpikir untuk mengeluh, aku akan meminta ibu memberitahuku berapa banyak gambar awan yang berhasil kubuat. Dengan begitu, aku akan ingat berapa lama Tuhan mengizinkanku melihat keindahan ciptaannya. Jadi, aku tidak boleh mengeluh kan, Om?” Gadis itu menatapku. Matanya memancarkan ketulusan seorang bocah yang ingin dikuatkan.Aku mengangguk cepat. Kali ini otakku sedang bersahabat. Aku tidak butuh waktu lama untuk menyetujui pemikiran gadis itu. Aku masih tidak mengatakan apa pun sampai terdengar bunyi beep beep cukup nyaring. Gadis itu melirik jam tangan digitalnya sekilas, kemudian merapikan barang-barangnya.“Saatnya minum obat. Aku harus kembali sebelum ibu mengomel.” katanya buru-buru. “Sampai ketemu lagi, Om.” Gadis itu masih saja memamerkan senyumnya. “Jangan lupa bersyukur, Om.” teriaknya seraya berlari menjauhiku.Sepeninggalnya, aku mendongak dan menatap langit. Bentuk awannya sudah berubah lagi. Gadis itu benar, aku lupa bersyukur hari ini. Aku masih bisa melihat bentuk awan yang berbeda hari ini.***Diposkan oleh Istiana Fadilah di Friday, March 18, 2016 | Label: happy story | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Trip to Dunia Fantasi (DUFAN or DO-FUN?)
Monday, March 14, 2016
Jeng jeng jeng...hoaaahmmmm...udah berapa abad yah saya nggak update blog? Maaf kalau agak kumuh, saya "lumayan" sibuk beberapa bulan ini.Jadi, salah satu kesibukan saya akhir-akhir ini adalah jalaaan jaaalaaaaan.Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 13 Maret 2016 *ceilah, resmi amat kayak baca surat undangan* saya dan teman-teman pergi ke Dunia Fantasi atau DUFAN to DO FUN! Yeay!Oh oh, sebelum saya bercerita lebih jauh, saya ingin kalian tahu satu hal, MJ ada di dalam rombongan kemarin. Yup, dia pasangan saya. Kalau kalian sempat baca postingan-postingan saya jaman baheula tentang dia, well, that's an unfinished story. And I don't know how to finish it since our story is happening right now. And it's getting better though, hahahaha. Oke, sudah cukup yah intermezo nya.Laanjuuuuut....Jadi, singkat kata singkat cerita, kami pergi ber enam: saya, MJ, Musa, mba Cintia, mba Dellia dan Cecep merantau ke Dufan untuk refreshing. Rencana awal kami akan berangkat jam 8 pagi. Well, you know lah jam 8 WIB (Waktu Insya allah Berubah), akhirnya kami berangkat jam setengah 10.Nah, sebelumnya masing-masing dari kami (kecuali MJ) udah lebih dulu ngeborong produk-produk Sosro biar dapet promo tiket heboh, hahahaha, lumayan juga harga tiketnya jadi setengah harga.Nah, udah yah nggak usah kelamaan ngebahas tiket. langsung masuk aja deh.Wahana pertama yang kami kunjungi adalah HISTERIA. Yup, bukan cuma namanya, jantung saya pun ikut histeris melihatnya.Lihat itu? Lihat itu kan anak-anak? Betapa bahayanya permainan itu untuk jantung saya yang pemalu ini. Jadi kami berenam ikut antri. Awalnya sih biasa-biasa aja, tapi makin dekat makin ragu untuk melangkah *etdah puitis amat mau naik histeria doang*. Tapi, MJ meyakinkan saya kalau permainan itu menyenangkan."Cuma sebentar" dia bilang. Iya, jatoh dari ketinggian itu juga cuma sebentar *sisa hidupnya*Tapi, akhirnya saya naik juga. Saya duduk di samping MJ. Setelah sibuk komat-kamit selama detik-detik menuju peluncuran roket, akhirnya wahana berbahaya itu mulai bergerak juga. Wah, nggak usah ditanya rasanya kayak apa. Saya teriak sekenceng-kencengnya. Jantung saya berasa ketinggalan di atas dan lupa jalan pulang ke tempatnya. Tapi yaudah, gitu aja. Kaki saya gemeteran sebentar, terus setelah MJ gandeng tangan saya, rasanya biasa lagi. Seumur-umur ke Dufan belum pernah saya naik begituan. Paling banter cuma Niagara gara, habis itu juga nggak mau naik apa-apa lagi saking takutnya. Nah ini, kok rasanya beda yah?Wahana kedua adalah Ontang-anting. Kata MJ ini permainan buat pemanasan. Gelo, aturan mah pemanasan di awal. Orang udah dilempar-lempar sampe angkasa gitu malah baru diajak pemanasan. Tadinya imajinasi saya yang spektakuler ini sudah berulah. Gimana kalau talinya lepas? Gimana kalau nanti kelempar jauh? Eh tapi tapi tapi, pas naik, ternyata enak. Dan hebatnya, saya nggak tutup mata! Permainan ini super asik. Tetep ngeri sih, tapi karena gerakannya konstan dan pelan, jadi saya bisa mengatur tingkat ketakutan saya. This is the best game ever!Saya bener-bener berpikir untuk mundur waktu lihat keretanya diputer-puter nggak jelas begitu. Jadi keinget film Final Destination nggak sih? Tapi, lagi-lagi MJ cuma genggam tangan saya dan bilang, "cuma sebentar". kalau jantung saya punya kaki sendiri, saya yakin doi udah kabur duluan. Tapi untungnya nggak. Jadi, saat saya memutuskan untuk nggak jadi anak cemen, jantung saya terpaksa tetaptenangdi tempatnya. Giliran kami tiba. Dari pertama kali duduk, saya nggak bisa lepas tangan MJ. Bahkan saat keretanya perlahan mulai jalan, genggaman saya makin kenceng. Trik saya untuk menghadapi kejamnya wahana nggak masuk akal ini tetep sama, saya tutup mata dan berdoa. Dan saya teriak sekenceng-kencengnya. Dan akhirnya...selesai. That's it. Tangan MJ sampai merah gegara saya genggam kuat-kuat. But, I did it! And I'm alive!Berhubung kemarin itu Jakarta lagi cerah-cerahnya, jadi kami memutuskan untuk "sedikit" bermain air. Hemmm...saya pikir yang dimaksud dengan sedikit itu cuma kecipratan sedikit-sedikit aja. Ternyata.....saya basah kuyup. Mungkin salah posisi duduk juga sih. Soalnya, MJ masa kering banget? Cuma kaosnya yang sedikit kecipratan. Jadi saya langsung peluk dia biar ketularan basah, muahahahahahaha *ketawa jahat banget* dan menurut saya, ini permainan yang paling merugikan. Gegara permainan ini sepatu saya jadi basah dan dengan terpaksa saya beli sendal jepit Dufan yang harganya 60 rebu! God, please. Makan siang saya aja nggak sampai semahal itu :'(Selanjutnya, dengan misi mengeringkan baju, kami naik wahana Rajawali. MJ bilang wahana ini nggak akan menakutkan. Well, nggak terlalu sih memang. Untungnya si Rajawali ini nggak berputar terlalu cepat, hanya semakin tinggi. So, I imagined that Vatra took me fly. Dan di atas itu panas banget gais. Baju saya sampai kering, hahaha. Mission completed!Tadinya mau masuk ice age, ternyata masuknya malah ke wahana perang bintang yang zonk abis. Saya pikir bakal ada sebentuk makhluk yang tetiba nongol terus kita tembakin atau gimana, ternyata nggak. Kita disuruh "literally" tembak-tembakan doang. Sedikit mengecewakan sih.Perkenalkan, ini wahana Ombang-ambing. Kalau di kampung saya, permainan ini cuma ada di pasar malam, namanya ombak banyu. Dan saya menyepelekan permainan ini. Saya pikir permainan ini nggak akan ngeri-ngeri amat. Ternyataa...terombang-ambing itu mengerikan yah? Makannya, segera minta kepastian, biar nggak terombang-ambing *eh, baper kan*. Jadi, si MJ duduk di sisi pintu. Kalau kalian tahu, arah putarannya akan cenderung miring ke arah pintu. Jadilah saya berusaha sekuat tenaga biar MJ nggak kegencet, hahaha. Untungnya nggak jadi MJ penyet yah.Hemm...masih belum cukup mual? Akhirnya kami naik pontang-panting. Lagi, saya menyepelekan permainan ini. Saya pikir, ah elah diputer-puter doang. Yang saya tidak tahu adalah, diputer-puternya dengan kecepatan tinggi sampai "kayak" hampir tabrakan satu sama lain. Awalnya enak, pelan, sepoi-sepoi, eh lama-lama kok makin nggak santai banget muternya. Mau nggak mau deg-degan juga sih, tapi seru. Untungnya wahana ini nggak melibatkan variabel ketinggian. Fiuhh...Kami lanjut makan siang menjelang sore, sekalian istirahat. Setelah makan, saya dan mba Dellia memutuskan untuk nonton festival Treasure Temple and Fire. Wow! Efek api dan airnya membuat saya terkesima. Well, ceritanya tipikal cerita film anak-anak sih, tapi lumayan juga buat hiburan. Sementara saya dan mba Dellia nonton festival, yang lain main wahana kicir-kicir. Saya nggak sanggup untuk memaksakan jantung saya. Jadi, saya minta MJ main sendiri aja kali ini, sama Musa dan mba Cintia. Tapi, eh, ternyata MJ nggak mau main kalau saya nggak ikutan main. Yaudah, doi jadi nggak main deh :(Selanjutnya, bersantai di Istana boneka. Imajinasi saya berulah lagi. Aduh, plis lah itu kan wahana anak-anak, nggak mungkin ngeri. Iya, memang nggak melibatkan ketinggian dan kecepatan sih, TAPI ITU DI DALEM BONEKA SEMUA, MAN! Coba bayangin kalau mereka semua adalah saudara Annabelle atau Chucky! Semua yang masuk nggak akan keluar lagi *pake suara horor* tapi yah, lumayan seru sih buat santai.Ini rumah yang isinya kaca-kaca gitu terus kita harus berusaha mencari jalan keluar. Waktu jaman kecil dulu ke rumah ini berasa susaaaah banget keluarnya. Ada lah acara nyasar dulu ke mana. Tapi kemarin berasa yang gampang. Sempet beberapa kali ketipu sama pintu exitnya sih, tapi ternyata keluarnya nggak sesusah dulu.Ayooo belajar jadi Vin Diesel!!!! Boom boom boom!! Baru di sini lah saya bawa mobil sendiri. Dan yang lain kayaknya berkomplot banget. Tiap lihat saya langsung ditabrak sana-sini. Tapi seru lah ini, sampai keringetan, hahaha. Jadi mau lagi dan lagi.Ini namanya rumah miring. Rumahnya nggak gede-gede amat. Tantangannya cuma disuruh melewati rumah yang lantainya miring. Tapi ya itu, karena lantainya miring dan rumahnya goyang-goyang, jadi butuh effort lebih besar untuk melaluinya. Jadi berasa habis fitnes begitu keluar, keringetan semua.Back to the childhood! Saya lupa jaman bocah dulu pernah naik ginian atau nggak. Tapi, saya rasa, permainan ini nggak akan pernah membuat bosan. Rasanya menyenangkan bisa duduk santai di atas kuda-kudaan, menikmati angin sepoi-sepoi dan alunan musik malam itu *cieeeh, tanda-tanda gombal*Kemarin ditutup dengan wahana Bianglala. Menikmati kerlip lampu kota Jakarta dari atas. Bagus, iya. Tapi karena kapsulnya nggak tertutup, tetep aja berasa ngeri. Karena dasarnya saya takut tinggi, jadi apa pun yang menempatkan saya di ketinggian, akan membuat saya takut. Apalagi pas kapsulnya berhenti di atas. Indah, enak, tapi saya ngeri. Tangan saya sampai berkeringat. Saya sih pura-pura tegar aja duduk di kapsul yang diam di ketinggian entah berapa puluh meter itu.Jadi, kalau dirangkum, hari saya menyenangkan. Terima kasih untuk teman-teman. Dan kamu, MJ, terima kasih sudah selalu siap jadi korban genggaman tangan saya setiap saat :DDiposkan oleh Istiana Fadilah di Monday, March 14, 2016 | Label: Iseng | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
kenangan dalam kata
Monday, November 16, 2015
Kenapa kau senang bermain bola?Aku menatap layar ponselku, menunggu jawaban untuk pertanyaanku.Pertanyaan yang sama untukmuAku baru akan menuliskan jawaban, aku tidak menyukai bola, saat mendapat pesan baru darinya.Kenapa kau begitu senang menulis?Pertanyaan yang sangat mudah. Aku bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk menuliskan jawabannya. Aku menatap tulisan di ponselku sebelum menekan tanda "kirim". Bukan jawaban yang tepat untuk saat ini. Aku menghapus satu per satu huruf yang sudah tertulis, memutuskan bahwa pesan itu akan menjadi salah satu dari banyak pesan yang tidak akan aku kirimkan.Karena aku menyukai Er.***Aku tahu ini sejak dulu: keabadian hanya omong kosong. Pada dasarnya, semua yang bernyawa pasti mati lalu pada akhirnya dilupakan. Mengerikan? Aku mendapat penjelasan ini saat berumur enam tahun. Ama, nenekku, meninggal saat sedang mengajakku bermain boneka beruang.Tidak pernah ada yang siap menghadapi kematian. Bahkan jika seseorang sudah sakit-sakitan dan berkata dia siap mati, aku yakin sebenarnya dia tidak siap. Karena kematian datang tiba-tiba dan tanpa permisi. Begitu juga dengan cinta. Siapa yang pernah siap jatuh cinta?***"Kenapa kau memanggilku Er?" tanya Erlangga suatu pagi, saat kami sedang mengatur napas setelah berlari mengelilingi GBK satu kali. Kami memang selemah itu. Oh, aku memang selemah itu, Er hanya mengimbangiku.Aku meliriknya, mengelap keringat yang menetes dari alis kiri ke mataku. "Keberatan?" tanyaku tak acuh.Pemuda yang sudah menjadi sahabatku sejak dua tahun lalu itu hanya mengedikkan bahu. Setelah selama itu dia baru bertanya? Er mengeringkan keringat yang membasahi rambutnya dengan handuk kecil. "Hanya penasaran."Perhatianku tidak terfokus pada wajah Er yang tampan, maupun rahangnya yang tegas. Mataku tidak berkedip memerhatikan handuk putih kecil di tangannya."Aku membuat tanda." kataku sembari meluruskan kaki dan mendongak untuk menatap gumpalan-gumpalan awan putih konyol yang bergerak lambat. "Apa ada yang memanggilmu begitu selain aku?"Handuk Er mengucurkan beberapa tetes keringat saat dia memerasnya. Menjijikan. Tapi, cowok kan memang seperti itu. "Tidak ada."Senyumku terkembang, sangat lebar sampai aku yakin orang akan mengira aku adalah serigala yang memakan nenek si kerudung merah."Lihat kan? Sebuah tanda. Jadi, jika ada yang memanggilmu Er, bahkan dari jarak ribuan kilo, kau akan langsung tahu itu aku.""Mustahil." sergahnya cepat.Aku langsung menelengkan kepalaku, menusuk Er dengan tatapanku yang sialnya tidak mematikan. "Jadi kau akan memikirkan orang lain jika mendengar panggilan 'Er'?"Er langsung terkekeh kemudian menggeleng. "Tentu saja aku tahu itu kau. Aku hanya ragu bisa mendengar panggilanmu dari jarak ribuan kilo."Aku hanya memutar bola mata, "Kau sudah mengenalku berapa lama sih? Saat aku bilang begitu, harusnya kau tahu maksudku adalah via telepon.""Oooo." jawab Er tak acuh. Dia selalu begitu, menjawab antusiasmeku yang berlebihan dengan satu suara monoton yang menyebalkan.Pembicaraan kami berakhir. Begitu saja. Selalu begitu. Tapi, dia selalu membuatku rindu.***Sesekali aku mendongak untuk memerhatikan cara Er menggiring bola atau menendang bola. Asal tahu saja, aku tidak suka sepak bola. Menurutku, 20 orang (aku tidak menghitung keeper) yang berlari ke sana kemari memperebutkan satu bola itu sangat kurang kerjaan. Tapi ya, di sinilah aku, menyelesaikan draf novelku sambil menemani Er latihan untuk pertandingan lusa, melawan tim fakultas hukum.Aku hanya tersenyum saat Er berhasil mencetak gol dan meringis saat kakinya ditekel pemain lain, membuatnya tersungkur. Tapi, permainan bola kan memang beresiko. Aku heran kenapa mereka masih mau bermain bola setelah jatuh seperti itu. Jatuh itu kan sakit."Hei, Ara, bisa tolong ambilkan minumku?" Aku langsung meraih botol minum di sampingku tanpa melihat. Aku sedang sangat fokus dengan tulisanku. Saat sedang mendapat ide, aku tidak ingin diganggu. Bahkan jika itu Er yg sedang sekarat karena dehidrasi."Aww!" Aku langsung mendongak saat mendengar teriakan Er. Aku baru saja melemparkan botol minumnya tanpa melihat. Mungkin aku berhasil mengenai kepala bulatnya.Er hanya memamerkan cengirannya. Dia hanya menggodaku. Seharusnya aku tidak tertipu. Seharusnya aku tahu Er tidak akan gagal menangkap lemparanku. Dia sangat ahli."Kau di sini, tapi tidak di sini." protes Er.Aku sudah kembali fokus pada duniaku di laptop. Aku memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan kisah kehidupan tokoh-tokohku. "Hemmm." gumamku sebagai tanggapan."Aku masih hidup, Ara." Er protes lagi. Aku bisa membayangkan ekspresinya saat mengatakan itu, jadi aku tidak perlu repot-repot mendongak untuk memberinya perhatian. "Tidak baik mendiamkan orang yang masih hidup.""Aku tidak diam." jawabku tanpa berpaling dari layar putih yang sudah dipenuhi 6583 kata."Kau bicara pada siapa?" tanya Er."Hemmm." jawabku."Baiklah. Aku akan mencari teman baru saja. Yang bisa bicara." kata Er. Dari suaranya yang semakin merendah, aku tahu Er sudah pergi, kembali pada teman-teman satu timnya. Dia hanya bercanda tentang mencari teman baru itu. Aku tahu. Dia tidak mungkin bisa menemukan penggantiku. Kalau pun bisa, aku sudah menyiapkan donat beracun untuk orang itu.***Aku benar tentang Er tidak mungkin bisa menemukan penggantiku. Buktinya, sore ini dia muncul di depan kosanku sambil menenteng tas sepatu NIKE kebanggaannya. Dia tidak akan muncul di sini jika sudah mendapat teman baru."Kenapa sih kau tetap mau bermain bola?" tanyaku saat melihat kakinya yang sedikit memar. Kami sedang berjalan ke lapangan kampus. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kosanku. Hanya, ehm, sekitar 20 menit, ditempuh dengan jalan kaki. "Memangnya kau tidak kesakitan terus-terusan terkena bola seperti itu?" Aku masih merujuk pada memar di kakinya.Alih-alih menjawab pertanyaanku, Er mengambil ponselnya, mencari sesuatu.Mataku melebar saat melihat foto yang ditunjukkan Er. "Kau menangis saat mendapat ini." katanya, mengingatkanku pada surat penolakan dari penerbit yang kuterima minggu lalu. Naskah novel yang kutulis selama dua bulan, ditolak. "Kenapa kau masih senang menulis jika penolakan membuatmu kecewa dan sakit hati?"Aku terdiam. Tentunya itu hal yang berbeda. Kecewa adalah rasa sakit yang abstrak. Meskipun semua rasa sakit sebenarnya abstrak. Tapi kecewa tidak merusak fisik, sedangkan luka secara harfiah bisa merusak fisik. Jadi aku bertahan dengan pendapatku. Sakit hati dan sakit fisik tidak bisa dibandingkan."Aku tidak terluka secara fisik." kataku. "Kecewa hanya membuatku bersedih selama beberapa waktu, selanjutnya kekecewaan bisa menjadi pemicu untuk menghasilkan karya yang lebih baik." Aku mulai berorasi seperti seorang motivator andal.Er memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana pendeknya. "Sama saja kan?" Aku sudah akan menyergahnya ketika Er melanjutkan, "Memar memar ini adalah penyemangat dan pengingat untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, menuntutku untuk semakin lincah menghadapi lawan-lawanku."Aku mengangguk setuju. "Cukup adil."Er hanya tersenyum dengan ujung bibirnya sebagai balasan. Satu hal lain yang kurindukan.***Akhirnya usahaku terbayarkan. Naskahku akan segera diterbitkan. Biar kuceritakan sedikit tentang bagaimana aku memulai karirku sebagai penulis (pemula). Aku senang menulis sejak masih SMA, mungkin itu sebabnya aku dipilih sebagai sekretaris kelas. Hanya corat-coret tentang cinta monyet, guru galak atau hukuman akibat datang terlambat. Tidak ada kisah penting. Lalu, kesenanganku pada bidang tulis menulis meningkat saat aku mengikuti talkshow salah seorang penulis muda berbakat yang tampan. Sebenarnya, saat itu aku tidak tahu pemuda tampan itu adalah seorang penulis. Aku hanya melihat posternya di sebuah kafe di Kemang. Jadi, aku masuk ke kafe itu dan mencuri dengar apa yang dikatakan si tampan tentang dunia tulis menulis. Tapi, saat itu aku tidak tergerak sama sekali untuk menulis sebuah kisah. Baru dua tahun setelahnya, saat aku mengenal Er, aku mulai tertarik untuk membuat sebuah kisah. Karena orang bilang, "jika seorang penulis jatuh cinta padamu, kau tidak akan pernah mati." tentu saja. Karena seorang penulis akan selalu menyertakan orang yang dicintainya dalam setiap karya karyanya. Itu sebabnya aku ingin menjadi seorang penulis. Karena aku ingin menyertakan Er dalam setiap karyaku. Karena aku tidak ingin Er mati.***Seperti biasanya, aku menemani Er ke lapangan kampus. Aku tidak pernah lagi membawa laptopku saat menemani Er. Aku ingin ada di kehidupan nyata saat bersamanya. Dia lebih membutuhkanku. Aku akan memberikan perhatianku sepenuhnya pada Er. Karena ternyata nasib baik mengabaikannya. Aku pikir Er akan selalu baik-baik saja. Tapi nyatanya, makhluk jahat bernama osteosarkoma merenggut aset yang selalu Er banggakan: kakinya. Tidak satu, tapi dua sekaligus. Jika ada dokter super cerdas yang bisa menciptakan kaki palsu yang bisa digunakan untuk bermain bola tanpa menyakiti Er, aku akan menemui orang itu. Meskipun jika orang seperti itu hanya hidup di kutub utara sekalipun. Aku akan menghabiskan tabunganku untuk menemui orang itu dan memohon padanya agar memberikan mahakaryanya itu pada Er. Karena aku tidak sanggup melihat Er tanpa binar bahagia di matanya. Meskipun ribuan kali Er mengatakan dia senang Tuhan tidak mengambil penglihatannya juga, sehingga dia masih bisa menonton pertandingan bola, aku tahu Er tidak baik baik saja.Er menjalani operasi pemotongan kakinya dua bulan yang lalu. Setelah secara tiba-tiba dia terjatuh saat sedang menggiring bola dalam pertandingan melawan fakultas teknik. Sama seperti kematian dan cinta, kau juga tidak akan tahu kapan makhluk jahat bernama osteosarkoma ini bangun dan berkata, "Hei permainanmu terlalu bagus. Bagaimana jika aku buat kakimu penyakitan agar lawan-lawanmu bisa menang?"Sejak awal mengenal Er, aku tahu dia menderita penyakit aneh yang membuatnya selalu terlihat pucat. Tapi senyum dan binar ceria di matanya berhasil meyakinkanku bahwa Er baik-baik saja. Dia tidak mungkin tiba-tiba mati. Dugaanku tepat. Er memang tidak tiba-tiba mati, tapi lebih parah, dia kehilangan semangat hidup. Seperti zombi. Er tetap berusaha tersenyum saat aku melucu, meskipun aku tahu senyumnya palsu. Dia hanya tidak ingin membuatku sakit hati, padahal sudah sangat jelas dia yang sakit. Sekarang Er lebih sering menghabiskan waktunya bersamaku dibanding berkumpul dengan teman-teman satu timnya. Bukannya aku keberatan atau apa, tapi itu membuatku merasa sedih. Aku tahu Er menghindari teman-temannya untuk melindungi hatinya sendiri. Dia jatuh cinta pada bola, dan mendengarkan orang-orang membicarakannya seolah-olah Er masih bisa memainkannya sama saja melukai diri sendiri. Tapi pisaunya tidak terlalu tajam. Menyakitkan tapi tidak membuat mati.***"Catur juga olahraga loh." Suatu kali aku menyarankan Er untuk mencari cabang olahraga lain, yang tidak melibatkan kaki sebagai pemeran utamanya."Matematikaku jelek." jawab Er datar. Bohong. Nilai matematikanya selalu lebih tinggi dari nilaiku. Alasan payah."Aku pernah melihat orang bernain bowling sambil duduk. Kau bisa mencobanya."Er hanya memberiku tatapan, kau serius?"Oke, aku bohong. Itu mustahil. Mungkin...""Sudahlah, Ara, aku baik-baik saja. Usahamu menghiburku malah membuatku sedih. Aku memang sangat payah tanpa kakiku.""Bukan begitu. Aku hanya tidak bisa melihatmu seperti ini terus. Kau kehilangan cahayamu."Er tersenyum simpul, tangan kanannya sibuk mengaduk jus alpukat yang tidak dia minum sama sekali. "Aku bukan kunang-kunang. Aku tidak punya cahaya." katanya tanpa menatapku.Aku hanya mendesah, "Kau tahu maksudku."Er berhenti mengaduk minumannya, kemudian menatapku. "Memangnya pilihan apa yang kumiliki? Tidak ada. Aku akan melakukan apa yang tersisa untukku. Aku senang masih bisa menjadi penonton.""Kau bodoh kalau begitu." Er tampak terkejut mendengar kata-kataku. Aku memang tidak pernah mengumpat, tapi Er benar-benar membuatku gemas. "Kau selalu punya pilihan. Jika kau memilih menyerah pada keadaan, itu sama saja seperti...seperti..." Aku tergagap, berusaha mencari perumpamaan yang masuk akal. "...seperti kau menyukai seseorang tapi tidak bisa menyentuhnya. Dan kau lebih memilih duduk diam bermeter-meter jauhnya, menonton perempuan yang kau sukai bersama orang lain. Padahal ada banyak perempuan lain yang lebih layak kau sukai, yang ada dalam jangkauanmu." Er masih terdiam, tahu aku belum selesai dengan ceramahku. "Jika aku tidak punya tangan, aku akan menulis dengan kakiku. Jika kakiku hilang juga, aku akan menulis dengan mulut. Jika Tuhan mengambil penglihatanku juga, aku akan mencari peralatan canggih yang bisa membantuku menulis. Selalu ada pilihan lain selain diam."Aku sedikit terengah-engah saat sudah selesai."Sebagai seorang penulis best-seller, perumpamaan yang kau gunakan payah sekali." ejek Er sambil tersenyum.Aku sedang sangat serius, dia malah bercanda? Saat aku tidak tersenyum mendengar candaannya, Er berkata, "Kau tidak bisa bermain sepak bola dengan tangan. Itu pelanggaran."Aku menghela napas panjang, kemudian bangkit. "Terserah kau sajalah." kataku sebelum pergi.Itu kali terakhir aku berdebat dengan Er.***Hatiku adalah pemberi harapan palsu paling brengsek sedunia. Segumpal perasaan yang memenuhinya berhasil menghasut otakku untuk menciptakan setitik harapan. Meskipun sudah sangat jelas tubuh Er terbaring lemah dengan selang-selang infus yang menyalurkan berbagai macam cairan obat ke dalam tubuhnya, hatiku masih berharap dia akan bertahan lebih lama.“Aku menemukan olahraga baru,” kataku suatu kali saat menemaninya di rumah sakit. “Tenis tempat tidur.” Aku mengeluarkan sebuah bet dan bola pingpong yang diikat dengan tali nilon.Er hanya tersenyum dengan ujung bibirnya saat melihat tingkahku. Aku akan sangat merindukannya. Aku masih terus memainkan pingpong anehku di hadapannya. Beberapa kali bola pingpongku terlempar terlalu jauh sampai mengenai wajahnya.“Kenapa kau tidak menyerah?” tanya Er saat melihatku bersusah payah memantulkan bola dengan bet.“Tidak ada dalam kamusku.” jawabku tak acuh. Bukan, karena aku tidak ingin melihat Er menyerah. Aku ingin mengembalikan binar bahagia di matanya. Aku ingin melihat kebahagiaan yang terpancar setiap kali Er menendang bola di lapangan hijau itu. Sampai detik ini, aku masih belum berhasil. Er masih memilih menyerah pada keadaannya.“Oooo.” jawab Er dengan nada monoton yang biasa.Aku berhenti memainkan bola konyolku. Aku sudah merindukannya.***Aku terkejut saat melihat cahaya yang menyusup masuk melalui ventilasi di atas jendela kamarku. Aku kesiangan. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah memastikan tidak ada panggilan tak terjawab. Hanya ada sebuah pesan suara dari Er. Aku buru-buru mengunduhnya, kemudian mengeraskan volume untuk mendengarkan pesan Er.Selamat pagi, pemalas. Aku tahu kau baru akan menemukan pesanku tepat satu jam dari sekarang...Aku tersenyum saat melihat waktu pengiriman pesan suara itu. Satu jam yang lalu.Aku tidak sanggup menulis pesan terlalu panjang dan aku tahu kau tidak akan mengangkat teleponku sampai satu jam ke depan, jadi aku mengirim pesan suara. Sebelumnya aku ingin memberitahumu sesuatu. Permainan pingpong dengan tali sudah ada sejak aku masih taman kanak-kanak, jadi secara teknis bukan kau penemunya. Jangan sembarangan mengaku-ngaku sebagai seorang penemu.Aku terkekeh mendengar ejekannya. Bahkan dengan suara parau dia masih bisa bercanda.Dan...kau benar tentang aku memiliki pilihan. Tapi aku juga serius tentang kau tidak bisa bermain sepak bola dengan tangan, itu pelanggaran. Aku sedih tidak bisa lagi bermain bola, tapi aku akan lebih sedih lagi jika menghabiskan sisa waktuku yang tidak terlalu lama untuk melakukan hal-hal konyol yang tidak berguna....Kali ini aku terdiam. Pembicaraannya mulai serius. Aku setengah berharap itu bukan pesan terakhirnya. Tidak, aku sepenuhnya berharap itu bukan pesan terakhirnya.Aku berhenti mendengarkan pesan suara itu dan bergegas mengganti pakaian tidurku dengan pakaian yang lebih rapi. Aku harus menemuinya. Jika Er berniat menjelaskan tentang pilihan hidup, dia harus mengatakannya secara langsung. Aku ingin mendengarkannya secara langsung.***Aku...terpaksa mendengarkan kelanjutan pesan suara Er. Dia tidak bertahan lebih dari 30 menit sejak mengirimkan pesan itu padaku. Aku tidak pernah mendapatkan panggilan tak terjawab di malam hari, karena aku langsung mengangkatnya. Telepon dari orang tua Er saat aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Er sudah dibawa pulang. Tanpa nyawanya....itu sebabnya aku menentukan pilihanku. Aku memilih untuk menghabiskan sisa waktuku bersamamu dan bersama orang-orang yang selalu ada untukku. Aku sudah selesai dengan bola. Tuhan mengambil kakiku, karena Dia ingin mengingatkanku betapa pentingnya kalian. Terutama kau, Ara. Terima kasih karena selalu bersabar denganku. Terima kasih karena kau memilih menjadi seorang penulis andal. Karena itu, aku akan selalu hidup.Dia tahu?***Kenapa kau senang bermain bola?Pesan itu kukirim begitu saja pada Rudi, teman satu kantor yang sedang mendekatiku.Pertanyaan yang sama untukmu. Kenapa kau begitu senang menulis?Aku terdiam beberapa saat.
Karena aku ingin orang-orang yang kucintai tetap hidup.Diposkan oleh Istiana Fadilah di Monday, November 16, 2015 | Label: Sad story | 0 komentar | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |






















