Rss Feed
  1. Everyone Needs A Hobby

    Thursday, April 9, 2015

    Sooooo, di pagi hari Jumat yang penuh berkah ini, saya ingin curhat, hahahahaha.

    But, first, I need to be polite, right? So, I wanna ask you, do you have a hobby? Semua orang pasti punya hobi. Masing-masing orang pasti punya hobi yang beda-beda. 
    Some people really like swimming they come to swimming pool constantly. Yup! beberapa manusia air sangat senang berenang, hahaha. 
    Some people choose music as their hobby. What instrument you can play? Is it guitar? I love the sound of guitar instrument. Especially when someone sings me a romantic song, hahahaha. I can just....sleep. hahaha! No, it's sleepy in a good way. I mean, I will have a very very very beautiful dream when I hear someone plays me a romantic song with his/her guitar. *hmm, yeah, especially "his"*
    Or piano? Piano is waaaay better! hahaha, the sound of it makes me smile all the time. Someone who choose "playing piano" as their hobby is a great person, indeed. Hahaha, I personally think so.
    Well, kicking thing is a hobby too, you know. Some boys really like kicking, ehm, oke, soccer. 

    Some people are so good, they choose swimming, playing guitar, playing piano, kicking, ehm, soccer, as their hobby. 

    My point is, what ever your hobby is, do it well. Hobi adalah aset. Menurut saya, semua orang berhak memiliki hobi agar tetap waras. Yup, sebut saja pelarian. Saya rasa, orang-orang yang tidak memiliki hobi bisa jadi gila perlahan *it's like they got a flare in their brain! They will loose ther sanity slowly, muahahahaha* (efek The Maze Runner)
    See? Bahkan Walt Disney menyarankan itu. Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan sangat baik sehingga orang yang melihatnya ingin melihatmu melakukannya lagi. Termasuk hobi. Untuk yang hobinya main gitar, belajar main gitar sampe jarinya putus, ehm, maksudnya sampe permainannya jadi setingkat dewa *bujana*. Atau yang suka main drum? Eh, mungkin lebih mudah kalau kalian nonton Whiplash aja bisar lebih paham.

    Sekarang, giliran saya yang curhat, muahahahaha. Ini kan blog saya. Jadi hak saya untuk curhat di sini. Iya to? hahahahaha

    Oke, ngomong-ngomong tentang hobi. Saya punya satu hobi yang sampai sekarang masih saya tekuni, yaitu menulis. Saya suka menulis sejak, ehm, SMP. Apa yang memotivasi saya? Simpel aja sih jawabannya: majalah remaja! hahaha. Iya, dulu saya paling nggak suka baca. Boro-boro baca, dengerin musik aja males. Saat SMP adalah saat-saat mencari kitab suci jati diri bagi saya. Saya yang saat itu masih labil dan mudah terombang-ambing oleh arus kehidupan yang fana ini, akhirnya kebawa kebiasaan teman baca majalah remaja. Apa yang dibaca? Yaelah, biasalah anak SMP. Apa sih yang dibaca dari majalah remaja? Palingan yah zodiak sama "Bagaimana membuat doi jatuh cinta sama kamu" hahaha, such a silly thing. Sampai akhirnya, mata saya terpaku pada sebuah cerpen yang terpampang pada majalah tersebut.

    Jeng jeng jeng! Saat itulah saya merasa sangat tidak senang dengan cerita-cerita pendek aneh yang ada di majalah-majalah tersebut. Saya mulai tidak bisa menahan kritikan. Dan karena pada dasarnya saya suka tantangan, jadilah saya merasa sangat tertantang oleh diri saya sendiri.
    Berdasarkan petunjuk tersebut. Oke, saya bohong, waktu itu saya belum nemu quote di atas. Intinya adalah seperti itu. Saya ingin membaca cerita yang "ingin saya baca". Jadi, saya mulai memantapkan diri untuk menulis. Cerpen demi cerpen saya buat. Mulai dari yang alaynya minta ampun sampai yang aneh bin ajaib. Tokoh utama mati, tapi masih bisa ngomong, padahal pake PoV orang pertama. Tapi, karena teman-teman saya baik-baik *atau cuma kasihan* akhirnya mereka bilang cerpen-cerpen saya bagus. Bermodalkan dukungan palsu inilah akhirnya saya mulai mengirimkan cerpen-cerpen saya ke majalah-majalah remaja. Berharap suatu saat nanti ada salah satu cerpen aneh saya yang dimuat. Dan ternyata, TIDAK ADA.

    Saya sedih, kecewa, gundul gulana. Saya sempat vakum dan enggan *ceilah, enggan* untuk menulis lagi. Saya ngambek sama majalah remaja itu karena tidak memuat cerpen saya. Tapi, yah apalah daya dan upayaku yang gagal ini. Lalu, saya mulai mendatangi pameran-pameran buku. Buku pertama yang saya baca adalah "Oke, Kita Bersaing" terbitan Mizan.  Lagi, saya merasa tertantang.

    Saya mulai menulis novel pertama saya sejak kelas 3 SMP sampai SMA. Saya masih ingat betul judulnya yang alay tak terkira "Katrol Kena Cinta Virus" Oke, oke, saya tau. Itu memang alay parah, kan saya sudah bilang. 

    Saya membuat novel pertama saya itu dengan mengambil tokoh teman-teman SMP saya sendiri. Namanya Dhanny dan Renanda, hahaha. Saya satu kelas dengan mereka waktu kelas 2 SMP. Saat itu, saya merasa sifat mereka yang sangat bertolak belakang bisa jadi sebuah cerita yang sangat luar binasa! Ya, dan memang benar, ceritanya *literally* binasa, hahahaha. Bermodal nekat dan dukungan teman-teman saya *yang mungkin masih kasihan*, akhirnya saya mengirimkan naskah alay itu ke penerbit. Waktu itu sih saya PD PD saja, hahahaha, karena ceritanya "remaja" banget. Tipikal ababil SMA deh pokoknya. Eh, ternyata naskah itu ditolak gais. BERKALI-KALI. hahahaha.

    Lalu, saya beranjak dewasa. Ketertarikan saya pada buku bertambah. Terutama setelah membaca buku ERAGON tetralogi dan buku, ehm, TWILIGHT. Saya mulai terpikir untuk membuat cerita fiksi fantasi. Tapi, saya berhenti di tengah jalan karena kehabisan ide dan merasa janggal dengan alur ceritanya. Akhirnya, saya kembali ke genre romance. Masih mengangkat tokoh anak SMA *tapi udah rada kurang alaynya*, akhirnya terciptalah dua buah novel PERFUMEMORIES dan AMLOVESIA. Untuk dua novel ini, saya nggak inget pernah kirim ke penerbit atau nggak. Saya cuma inget pernah mengikutsertakan keduanya dalam lomba. DAN GAGAL

    YES, I FAILED. AGAIN. Tapi saya nggak menyerah. Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan dunia menulis. Prioritas saya bukan lagi "tembus majalah" atau "diterbitkan oleh penerbit mayor terkenal". Prioritas saya adalah "cerita saya harus selesai dan dibaca orang." Bisa menyelesaikan satu naskah novel itu rasanya luar biasa sekali, gais. Mungkin kalau boleh dibandingin, rasanya kayak para traveler yang suka naik gunung. Setiap kali sampai puncak, pasti merasakan sensasi yang luaaarrr biasa. Begitu juga dengan saya. Masing-masing naskah memiliki kisah tersendiri bagi saya. Masing-masing karakter adalah teman-teman dalam pikiran saya. Itu sebabnya, saya memiliki sebuah kewajiban untuk menyampaikan apa yang mereka katakan dan menyelesaikan kisah mereka.

    Jadi, naskah PERFUMEMORIES ini saya revisi berkali-kali sampai saya kuliah. Tokohnya pun berganti-ganti usia, mulai dari SMA sampai akhirnya kuliah. Sampai sekarang, revisiannya belum selesai. Saya berencana merevisinya lagi menjadi naskah novel dewasa muda berjudul REDOLENT, sebagai serial "sense" dari BITTERSWEET (diceritakan nanti).

    Pertengahan tahun 2011, setelah saya membaca buku terakhir dari ERAGON series, saya begitu menggebu-gebu ingin membuat sebuah novel fantasi. Bodo amat kalo ceritanya nggak relevan sama keadaan Indonesia. Saya cuma pengen menyelami serunya petualangan dunia fantasi. Jadi, saya mulai merancang sebuah plot cerita: VAZARD. Butuh waktu lama untuk membuat universe yang saya inginkan dan relevan dengan keadaan Indonesia. Di awal pembuatannya, saya mengambil setting Bogor. Hahaha, aneh? Iya, aneh. Dan draf awal VAZARD yang belum sepenuhnya selesai ini mendapat kritikan dari saudari Rizqah Wahidah Pangestu, hahahaha. Akhirnya, pada pertengahan tahun 2012, saya remake cerita ini. Cerita VAZARD: Batu Burdeoux akhirnya selesai di tahun 2013. Yap, saat itu saya pikir cuma mau bikin satu buku aja. Bisa selesai satu aja udah syukur. Tapi, saya sengaja menambahkan bagian EPILOG yang menggantung. Saya ingin melihat reaksi teman saya yang *mau* membaca. Orang pertama yang membaca VAZARD: Batu Burdeoux adalah Nura Adithia Dewi. Hahaha, dari beliau inilah saya mendapat beberapa masukan dan akhirnya merevisi cerita ini. Lalu, pembaca VAZARD bertambah. Cerita ini berhasil mendapat respon positif dari beberapa orang. Akhirnya, saya memutuskan untuk membuat buku keduanya VAZARD: Kaum Avarus. Cerita kedua selesai tahun 2014. Dan yap, seperti cerita-cerita lain, buku kedua seri VAZARD ini juga masih banyak kekurangannya. Tapi, untungnya masih mendapat respon positif juga. Akhirnya, seri VAZARD berakhir di buku ketiga, VAZARD: Sang Master. Cerita ketiga ini selesai tahun 2015. Responnya? Well, positif sih meskipun ada beberapa pihak yang nggak terima sama endingnya, hahahahahaha. Sampai sekarang, seri ini masih dalam masa revisi biar jadi lebih *mendekati* sempurna. Saya memutuskan untuk menerbitkan seri ini secara indi, karena jarang ada penerbit mayor yang mau menerbitkan naskah fantasi. So, please be patient. VAZARD CHRONICLES will be out of the nest really SOON!


    Selama proses pembuatan seri VAZARD ini, saya juga menyelesaikan beberapa naskah genre romance, yang sayangnya kurang "ngena" di hati pembaca, hahaha (bahasanya udah sok banget kayak penulis terkenal). Kecuali BITTERSWEET. Novel genre romance dewasa muda ini mendapat respon positif dan karakternya cukup mengena di hati, hahaha. Alhamdulillah. Mungkin karena BITTERSWEET adalah novel pertama yang saya buat dengan outline jelas dan ada ciumannya. hahahaha. Berikut adalah beberapa novel romance yang berhasil saya selesaikan sampai saat ini.



    Nah, setelah membahas panjang lebar tulisan-tulisan aneh yang berhasil saya buat, mari kita mulai membahas tentang hobi. Jadi!!! Dari tadi belom??? Yaelah bro, udah panjang gitu.

    Sabar, sabar. It won't take too long. Saya cuma pengen cerita tentang hobi yang saya tekuni ini. Nah, kalo namanya hobi mah mau repotnya kayak apa juga pasti dijabanin yah. Iya, ada begitu banyak proses yang terjadi selama saya menekuni hobi saya ini. 

    Kadang, di saat sunyi sepi sendiri, bisa mendadak ada banyak sekali ide yang berdatangan. And it will be good.
    Biasanya kalo lagi kebanjiran ide gini suka nulis kayak kesetanan. Kata apa aja yang muncul di kepala langsung aja ditulis. Nggak tau deh itu nanti jadinya satu kalimat nyambung apa nggak, hahahaha. Pokonya tulis aja dulu.

    But sometimes, when idea is a rare thing to get. I will just having this SUPER ROMANTIC MOMENT with my laptop. Yup! staring each other for, like, forever.


    And still got nothing to write.


    Hahahaha, when this happen, I have three tips for you!

    FIRST
    Yup! Just sleep and forget about your story. Mungkin aja bisa dapet wejangan dari mimpi. Hal ini bukan tidak mungkin loh. Terkadang, saking excitednya sama sebuah plot, bisa sampe kebawa mimpi. Dan anehnya, mimpi itu nerusin cerita kita, hahaha. Dapet deh idenya!

    SECOND
    Trust me, you can't write anything when you're hungry. So, just eat! Make your tummy happy. You remember this tagline, "Happy tummy, happy kid"? Yeah, a writer must eat too, right? So, happy tummy, happy writer. hahahaha

    THIRD
    When there isn't a single word in your mind, may be you're bored. So, leave your story and watch some movies. Kamu bisa dapet begitu banyak inspirasi dari film-film yang ada. Mungkin dari dialog tokohnya, mungkin dari landscape-nya. Cari ide sebanyak-banyaknya dari film-film yang kamu tonton. Jangan cuma bengong, nanti bikin ayam tetangga mati.

    Oke, jadi setelah mendapat pasokan ide, sekarang saatnya menulis! Bahkan setelah ada banyak sekali ide, biasanya writer's block itu tetap ada, gais. Butuh waktu lama untuk menemukan kalimat yang tepat.

    Atau, kalau pun sudah mendapat beberapa halaman baru. Biasanya hasilnya s**k!


    Well, what can you do? Tulis aja apa yang ada di kepalamu saat itu. Semuanya. Masalah hasilnya cuma dapet satu kalimat atau berlembar-lembar tulisan jelek, itu sih urusan belakangan. Kata bang Benzbara, "writing is rewriting". Jadi, intinya adalah, nggak ada draft pertama yang sempurna. Yah, ini semacam nggak ada cinta pertama yang sempurna, hahahaha. Selalu butuh revisi. Makanya, tulis aja seadanya.

    NAH! Setelah draft pertama kamu selesai, kamu berhak merayakannya dengan makan PISANG!
    Hahahaha! Let's celebrate your first draft! Cool your mind! Jalan-jalan lah. Bermainlah dengan teman-teman. Baik-baikin teman-teman yang akan jadi calon pembaca naskahmu *biar dipuji-puji* hahahaha. Setelah puas dan kira-kira udah agak lupa sama plot cerita yang kamu buat, kamu harus memulai perjuangan yang sesungguhnya, REWRITING!


    Membosankan? Iya, kadang-kadang. Tapi fase ini adalah fase paling seru, sebenarnya. Kalau sebelumnya kamu menulis dengan mata tertutup, kali ini kamu membacanya dengan mata terbuka. Akan ada banyak sekali kalimat aneh dalam tulisanmu. Hahaha, coba tahan diri untuk nggak menghujat diri sendiri karena kalimat-kalimat aneh yang nyelip di naskahmu. Itu hasil karyamu! Kalau bukan kamu sendiri yang menghargai, siapa lagi?

    Nah, setelah tahap ini selesai, sekarang saatnya bagi-bagi rejeki. Ehm, maksudnya proofreading. Jadi, minta teman-temanmu *yang tadi udah disogok* untuk membaca naskahmu yang sudah setengah matang ini. 

    Waiting for their responds is the most disturbing moment ever! Kamu nggak akan tahu kualitas naskahmu sampai ada orang lain yang membacanya. So, just leave them alone with your story. Let them read it and judge it as they like.

    Ada beberapa respon yang biasanya saya dapat dari teman-teman saya yang sudah berbaik hati mau membaca.

    PERTAMA
    It's really really bad so they can't even find a word to tell me how bad it is. It's dissapointing, yes. Tapi respon yang seperti ini justru bagus. Itu artinya si pembaca benar-benar menelaah naskah kamu. Mintalah kritik dan saran dari mereka untuk merevisi naskahmu. *emang skripsi doang yang direvisi*

    KEDUA
    It's so disgusting they can't even turn the page. Kalau responnya begini, berarti naskahnya memang sudah sangat fatal. Tapi bukan berarti nggak bisa diperbaiki. Mungkin yang membuat sakit mata cuma susunan kalimatnya yang masih aneh. Atau bahasanya yang kurang pas. Tanyakan apa kurangnya dan revisilah!

    KETIGA

    Nah! Respon seperti inilah yang diharapkan oleh hampir semua penulis. Tapi, jangan terlena dengan respon seperti ini. Pujian hanya bonus. Tanyakan apa masih ada yang mengganjal. Karena, sebagus-bagusnya sebuah cerita, pasti masih ada bagian yang kurang. Meskipun sedikit. Intinya, tanyakan kritik dan saran, lalu revisilah. 

    Nah, setelah semua proses itu selesai, itu artinya naskahmu sudah *cukup* sempurna! Yeay! You deserve a banana!
    Nah, setelah itu, keputusannya ada di kamu. Apa kamu mau lanjut ke cerita lain, atau kamu mau mencoba peruntungan dengan mengirimkannya ke penerbit. Terserah. Hobby is a hobby. You do it for yourself. If your hobby give you other advantages, that's a bonus!

    Nah, sekian cuap-cuap saya soal hobi (saya. Karena ini blog saya! Hahaha) dan beberapa tips untuk orang-orang yang memiliki hobi yang sama dengan saya.

    So, you find your hobby already? Have you done it so well? 

    LET'S DO IT!!!



  2. 1 komentar:

    1. Unknown said...

      AAA MAKASIIIH BANGET KAK

    Post a Comment